Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 30


__ADS_3


Deg! Deg! Deg!


Jantung Beyza berdegup cukup keras dengan tempo lambat. Seperti genderang yang ditabuh dengan kuat, hingga menggetarkan gendang telinga. Namun kali ini, yang bergetar adalah tubuhnya.


Beyza terhenyak untuk sesaat. Seluruh tubuhnya bergetar, kakinya mendadak lemas hingga tidak dapat digerakkan. Rasa tidak percaya yang coba ia tepis berulang kali, tetapi gagal dengan mudah. Hingga membuat mulutnya terbuka dan buru-buru ia tutup dengan tangan. Sebelum akhirnya dia berlari, pergi ke dapur dan meletakkan paper bag yang sejak tadi ia tenteng.


Ya, itu adalah sebuah keberuntungan baginya, bisa cepat-cepat bersembunyi sebelum ketahuan. Lantaran sepersekian detik kemudian, Diana keluar dengan lipstik dan pakaian yang berantakan.


Entah disengaja atau tidak. Dia berjalan menuju dapur dengan penampilan acak-acakan. Lalu membetulkan pakaian serta lipstiknya di depan Beyza.


"Oh, maaf. Apa kau mendengar sesuatu barusan?" tanya Diana menatap Beyza.


"A-apa maksud, Nona? Saya baru saja mengambil pesanan Tuan Elder."


Jawaban Beyza memang terdengar sedikit gugup. Hingga membuat Diana melirik ke arahnya dengan sorot mata tajam penuh selidik.


"Tidak ada. Hanya memastikan, seseorang tidak menguping apa yang majikan dan kekasihnya bicarakan!" tegas Diana.


Bicara? Apa kalian benar-benar hanya berbicara? Atau, aku yang terlalu kuno hingga salah mengartikan desahaan yang baru saja terdengar dengan jelas?


Pikiran dan perasaan Beyza menjadi rancau setelah mendengar ucapan Diana. Tidak tahu itu benar atau tidak, tetapi kalimat Diana berhasil membuat Beyza terdiam.


Diana pun langsung pergi meninggalkan Beyza di dapur sendirian. Mengambil tas dan mantel yang ia geletakkan di atas sofa.


"Apa yang kamu lakukan?"

__ADS_1


Suara berat seorang pria terdengar, membuat Diana langsung menoleh. Melihat Elder berdiri di belakang, Diana pun berjalan menghampiri pria itu.


Kedua tangannya terulur, melonggarkan dasi yang dikenakan oleh Elder. "Aku sudah melakukan perintahmu, Sayang."


"Oh, benarkah?"


Elder berusaha menarik tangan Diana, tetapi cengkraman tangan gadis itu begitu kuat. Hingga saat kancing kerah Elder terlepas, barulah ia menurunkan tangannya.


"Kamu yang meminta itu kan? Jadi aku melakukan apa yang kamu minta," jawab Diana yang kemudian tersenyum. Sedangkan Elder justru menatapnya sinis.


"Aku dengar, kamu ingin bertemu dengan ibu. Segeralah pergi, aku juga harus pergi ke kanto HG," lanjutnya.


Elder masih tidak merespon ucapan Diana. Hanya menatap, sambil berpikir tentang keanehan yang terjadi pada gadis itu. Bahkan sampai Diana pamit dan melangkah pergi.


Namun sebelum ia melangkah lebih jauh, Diana sempat berbalik dan mengucapkan sesuatu.


Begitulah yang dia ucapkan dengan nada yang sedikit meninggi. Seperti sengaja, agar seseorang mendengar ucapannya. Elder sendiri hanya diam mematung, tidak merespon dengan ucapan atau tindakan.


"Pesanan yang Anda minta sudah saya ambilkan, Tuan."


Suara yang datang dari arah belakang, membuat Elder menoleh. "Kenapa kamu yang mengambil? Mereka tidak punya kurir?"


"Kebetulan salah satu kurir mereka sedang sakit dan yang lain sibuk. Jadi saya berinisiatif untuk mengambilnya sebelum Anda kembali."


Elder terlihat menunduk sebentar, sambil memijat kening yang tiba-tiba berdenyut. Melihat itu, entah mengapa Beyza menjadi khawatir.


"Apa Anda ingin beristirahat sebentar, Tuan?"

__ADS_1


"Tidak perlu." Elder menggelengkan kepalanya pelan. "Dimana Samantha? Apa dia sudah siap?"


"Mungkin dia sedang bersiap. Saya akan memanggilkannya."


Jawaban yang tidak terlalu singkat terdengar di telinga Elder dan membuat pria itu mengangguk sambil berjalan, lalu duduk di atas sofa. Merebahkan tubuhnya sambil terus memijat kening.


Sedangkan Beyza, dia buru-buru pergi ke kamar dan memanggil Samantha. Lalu kembali ke dapur mengambil segelas air dan mengacak-acak kotak obat untuk mencari obat sakit kepala.


"Ini adalah obat sakit kepala yang diresepkan Dokter Na," ucap Beyza sambil menyodorkan obat dan segelas air.


Mata yang tertutup selama beberapa menit itu, dengan perlahan terbuka. Elder membetulkan posisinya, dan tanpa bertanya langsung mengambil obat dari tangan Beyza.


...Rasanya ingin marah. Ingin sekali bertanya padanya tentang hal yang baru saja kudengar. Tapi melihatnya terus memijat kening, amarahku memudar. Lagi pula, apa aku pantas untuk marah dan protes? ...


Beyza masih menatap Elder yang sedang menelan obat darinya. Tanpa bertanya, juga keraguan. Dan sikapnya itu, berhasil membuat Beyza tertegun sekali lagi. Mencoba menebak nebak, apakah sang majikan benar-benar sudah mengatasi phobianya?


Sepertinya, aku harus menanyakan hal ini. Hanya saja, tidak sekarang. Mungkin nanti, atau besok.


Ya, setidaknya Beyza perlu jawaban yang pasti. Apakah yang dia dengar, sesuai dengan apa yang dia bayangkan? Juga, tentang phobia yang mungkin sudah bisa diatasi oleh Elder.


Tapi, kenapa hatiku terasa sakit? Seperti ada pisau yang mengirisnya tipis-tipis.


...☆TBC☆...


Gas Pol, Rem Blong, nih 😭😭


Yuk sajen yuk, biar makin licin nih jari 😌

__ADS_1


__ADS_2