
Beyza buru-buru bangkit berdiri, hendak memberi salam. Namun tangan kanan Aishe lebih dulu terangkat, untuk melarang gadis itu bangun.
"Berbaring saja, Beyza," ucapnya lembut. Sangat lembut hingga Beyza merasa sedikit tidak nyaman.
"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" tanya Aishe.
"Sudah membaik, Nyonya. Semua berkat Tuan Muda Elder dan juga Tuan Jared. Beruntung, saya ditemukan dengan cepat dan mendapat pertolongan."
Entah mengapa, Beyza tertunduk ketika mengatakan hal itu. Seperti sedang menyembunyikan ekspresi wajahnya pada Aishe yang sedang duduk di sebelahnya.
Aishe sendiri justru tersenyum melihat tingkah Beyza yang dianggapnya sedang malu-malu. Sekelebat memory tiba-tiba terlintas, ketika ia tidak sengaja mengintip Beyza dan putranya sedang berbincang di rooftop.
"Apa ada masalah, Beyza? Sejak tadi, kamu menyembunyikan wajahmu."
Perkataan Aishe sontak membuat Beyza menengadah seketika. Kepalanya terangkat, lalu menoleh ke samping menatap wajah Nyonya Besar yang sedang tersenyum tipis ke arahnya.
"Ti-tidak, Nyonya!"
"Bukan seperti itu, hanya saja saya … saya ….."
Beyza sangat ingin menjelaskan apa yang membuatnya tertunduk pada Aishe. Namun entah mengapa, tenggorokan terasa tercekat oleh sesuatu. Hingga semua hal yang ingin ia ucapkan tertahan begitu saja.
Sikap gugup Beyza, langsung membuat Aishe tertawa. Tawa yang sejak tadi coba ditahan dengan seulas senyum, kini merekah. Tidak terlalu kencang, tapi berhasil membuat Beyza tertunduk.
"Maaf, maaf! Sepertinya, aku sudah sedikit kelewatan," tungkas Aishe berusaha meredam tawa bahagianya.
"Tidak, Nyonya. Sayalah yang harus meminta maaf." Beyza mencoba menatap Aishe, tetapi aura wanita paruh baya itu begitu bersinar.
Sikap sopan Beyza lagi-lagi membuat Aishe tersenyum. Senyum ramah, tanpa sebuah tekanan diskriminasi, yang semakin membuat aura cantiknya terpancar.
__ADS_1
Percayalah, usianya sudah lebih dari setengah abad. Namun wajahnya tetap bersinar penuh energi, bahkan keriput di wajahnya hanya terlihat samar. Sangat samar, bahkan hampir tidak terlihat.
"Sekarang aku tahu, apa yang membuatnya jatuh hati padamu."
Shock dengan ucapan Aishe, Beyza langsung menatap wajah Aishe. Melihat wajah awet muda sang majikan yang terlihat cantik dengan seulas senyum. Seperti tidak ada rasa keberatan atau amarah yang terukir di sana.
"Dan aku juga tahu, jika kamu juga menyukainya."
Perkataan Aishe semakin membuat Beyza bingung. Sebenarnya, siapa yang sedang dibicarakan? Tidak mungkin dirinya dan Elder kan? Begitulah yang ia pikirkan.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak mengerti –"
"Tentang perasaan mu dan anakku, Elder," sela Aishe.
Bagaimana bisa dia tersenyum saat tahu pembantu di rumahnya memiliki perasaan pada anaknya sendiri?
"Apa kamu tahu, Beyza? Selama 20 tahun, aku tidak pernah melihat Elder dekat dengan wanita seperti itu, selain kedua adiknya dan Havva. Melihat dia tersenyum dengan sangat tulus pada wanita lain, selain dirimu," terang Aishe.
"Aku tahu, dia sering mencoba berbaur dengan banyak wanita. Tapi aku tidak pernah bisa melihat tatapan tulusnya, setulus ketika ia menatapmu. Bahkan ketika dia memberimu sebuah ancaman kuno. Yah, itu hanyalah gaya anak muda yang cukup kolot."
Ketika Aishe menjelaskan, tiba-tiba sekelebat kenangan tentang masa mudanya terlintas. Wajah Diego terlihat jelas dalam ingatannya, saat memberinya ancaman pada masa itu.
Yah, itu sama seperti tatapan putra pertamanya pada Beyza.
"Maaf, Nyonya. Tapi saya tidak mengerti apa maksud Anda. Lagi pula, Tuan Elder sudah mempunyai tunangan, bagaimana bisa –"
Perkataan Beyza tertahan tiba-tiba ketika ia melihat Aishe tersenyum. Benar, tersenyum, seperti semua sikap putranya itu sangat wajar meski sudah mempunyai tunangan.
__ADS_1
"Beyza. Aku dan kamu, memiliki beberapa kesamaan. Yaitu, sama-sama berada di dunia bawah." Aishe merubah sorot matanya menjadi sedikit tajam.
"Jangan pernah membangun benteng dengan rasa tidak percaya diri. Lantaran itu tidak akan pernah bisa membuatmu bangkit!" tegas Aishe mencoba memberi Beyza pengertian.
"Dan cinta, itu bukan sesuatu yang bisa dibatasi dengan sikap seperti itu. Cinta, adalah kebebasan tentang sebuah rasa suka, yang bisa kamu utarakan tanpa dibatasi oleh apapun."
Beyza terdiam, mencoba mencermati setiap kata yang di ucapkan oleh Aishe. Ucapan yang menurutnya benar, hingga ia tidak mampu berkata apapun setelah mendengarnya.
"Jangan buat dirimu lemah dan diinjak-injak dengan seenaknya. Setidaknya, kamu perlu menunjukkan, bahwa dirimu mampu dan layak!"
Degh!
Jantung Beyza seperti baru saja di tabuh genderang. Intonasinya begitu cepat dan kuat, hingga membuat bulu kudunya berdiri. Perkataan Aishe lagi-lagi berhasil membuat pikirannya terbuka.
Aishe terlihat merogoh tas, mengambil ponsel, lalu men-scroll layarnya sebentar. Sebelum akhirnya ia menyodorkan ponsel itu pada Beyza.
"Jika kamu ingin. Aku bisa membantumu untuk membalas dendam dengan cara yang sangat elegan, Beyza!"
...☆TBC☆...
Kira-kira Neng Bey mau di ajarin apa nih sama Nyonya Ishe?
Jangan-jangan di ajarin nembak 🤭
Sajen di tabur seperti biasanya ya, Bund, Kak 😌
Allhamdulillah kalau dapet guyuran kopi lagi 🤭
__ADS_1