Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 36


__ADS_3

Seorang gadis berusia 10 tahun, dengan rambut panjang sedikit keriting menggantung. Terlihat sedang berdebat dengan seorang remaja muda yang lebih tua darinya.


"Aku tidak mau tahu! Kakak harus mengajariku berenang, atau aku akan merengek pada ayah!" ucap gadis kecil itu sambil berkacak pinggang.


"Tidak! Siapa yang suruh kamu menolak tawaranku dulu?" jawab pria remaja itu terdengar sedikit angkuh dan tegas.


"Saat itu aku masih kecil. Aku masih ingin menghabiskan masa kecil ku yang penuh warna," elaknya.


"Oh, begitu?" Lirik remaja itu tajam, sambil bersedekap tangan.


"Kalau begitu, nikmati saja masa kecilmu yang penuh warna itu. Atau minta saja pada Kakak Zavier kesayanganmu!" lanjutnya kemudian berjalan pergi.


Gadis kecil itu terlihat tidak terima dengan penolakan dari sang pemuda. Dia langsung mengikuti langkah pemuda tinggi nan tampan itu sambil terus merengek.


"Ayolah, Kak. Kakak pertamaku ini yang paling terbaik. Paling tampan dan rupawan!" bujuknya.


"Tidak! Tidak! Tidak!"



Pemuda berusia 17 tahun itu pun terus berjalan, tanpa menoleh ke belakang. Seulas senyumnya terlihat jelas, setelah berhasil menggoda adik perempuannya.


Dia terus berjalan, menghampiri ayah, adik lelakinya, dan sang ibu yang sedang menggendong adik bungsunya. Meninggalkan adik perempuan yang tiba-tiba berhenti mengomel.


Suasana terlihat penuh dengan kegembiraan. Keluarga inti berkumpul di taman, menikmati piknik sambil bermain bersama.


Namun tiba-tiba, semua orang menoleh ke arah pemuda yang masih berjalan ke arah mereka. Raut wajah mereka semua terlihat sangat panik, bahkan sang ayah berlari dengan cepat menuju ke arahnya.


Pemuda itu pun kebingungan, berpikir dengan cepat, apa yang terjadi sampai semua orang terlihat panik.


Sampai, ia mendengar teriakan panik semua orang.

__ADS_1


"Emely! Emely!"


Pemuda itu menoleh dengan cepat, melihat gadis kecil berusia 10 tahun yang tadi sempat merengek padanya.


Entah apa yang sudah terjadi, gadis itu tiba-tiba berada di dalam danau. Berusaha meminta tolong dengan melambaikan tangan, di saat seluruh tubuhnya tenggelam.


Shock, pemuda itu hanya terdiam ketika sang ayah terjun ke dalam danau. Dan muncul ke permukaan setelah beberapa menit berlalu, sambil menggendong adik tersayangnya.


"Tidak! Tidak!"


"Bangun, Emely! Bangun!"


Teriakan semua orang terdengar sangat nyaring. Terutama sang ibu yang sedang menggendong adik bungsunya.


Pemuda itu sangat ingin mendekat, tetapi tubuhnya kaku. Seluruh tubuhnya mematung, tidak dapat digerakkan meski ia sudah berusaha dengan keras.


"Tidak! Jangan pergi, jangan tinggalkan aku! Jangan, aku mohon."


"Jangan!"



"Anda sudah bangun?"


Suara samar seorang wanita terdengar, membuat Elder langsung mengalihkan pandangan matanya. Ditatapnya sosok Beyza yang duduk bersandar, dengan selang oksigen yang masih terpasang di hidungnya.


Butuh sepersekian detik, sampai dia bisa mengingat apa yang sudah terjadi.


"Kamu sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?" tanya Elder yang sejak tadi duduk di samping Beyza dan tidak sengaja ketiduran.


"Sudah lebih baik, Tuan. Terima kasih sudah membawa saya ke rumah sakit dan menyelamatkan hidup saya."

__ADS_1


Seulas senyum terukir di wajah Beyza. Meski wajah gadis itu masih sedikit pucat, tapi setidaknya sudah tidak sepucat sebelumnya.


"Tidak perlu berterima kasih. Jared lah yang menemukanmu pingsan."


"Saya tahu," jawab Beyza sambil memamerkan senyum leganya.


"Tapi semua juga berkat Anda, Tuan. Sekali lagi, terima kasih banyak."


Elder sempat menatap seulas senyum tulus dari Beyza. Hanya beberapa detik saja, lalu ia bangkit berdiri dari kursinya, sambil bertanya.


"Apa yang sudah terjadi?"


"Saya mendengar seperti ada benda yang jatuh beberapa kali. Saat mengecek, tiba-tiba seseorang mendorong dan mengunci pintunya."


Elder mengangguk ketika mendengarkan penjelasan Beyza. Seakan mengerti, tanpa harus bertanya lebih jauh lagi.


"Masalah ini akan aku urus. Aku berjanji, akan menemukan pelakunya secepat mungkin!" jelas Elder, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Beyza.


Pria itu baru saja menutup pintu, ketika tangannya merogoh saku mengambil sebuah ponsel.


"Aku butuh orang mu lagi," katanya tegas saat berbicara dengan seseorang di telepon.


"Mereka orang kita. Kakak bisa memanggil mereka kapan pun. Kenapa harus bertanya dulu padaku?"


Suara berat seorang pria terdengar jelas di telinga Elder. Suara tak asing, yang selama ini sangat dia kenal.


"Kak, kita masih keluarga dan selamanya begitu. Berhentilah menyalahkan dirimu!" lanjut pria itu.


"Aku akan menghubungimu lagi. Sampai jumpa!"


...☆TBC☆...

__ADS_1


Sajennya seperti biasa, jangan lupa di tebar.


Othor mau ke dokter dulu, up agak malem ya 😌


__ADS_2