Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 60


__ADS_3

“Ibumu?” tanya Ashan memastikan jika telinganya berfungsi dengan baik.


Melihat Elder mengangguk dengan cepat, serta kedua mata yang memancarkan keseriusan, barulah ia tahu jika telinganya memang berfungsi dengan baik. Sebelum mulai menjawab pertanyaan Elder, Ashan lebih dulu menarik napas panjang.


“Ibumu, dia ….” Ashan menelan salivanya kasar. “Sejak bertemu dengannya, sampai dia mempunyai kalian, ibumu adalah wanita yang paling gigih dalam hal apapun.”


Sekelebat bayang masa lalu melintas di kepala Ashan. Tepat saat pertama mereka bertemu di pulau milik Diego. Ashan ingat dengan betul, bagaimana tatapan wanita itu ketika dibawa naik ke atas speed boat.


“Dia, juga wanita pemberani,” lanjutnya.


Ingatan saat Diego mengajari Aishe menembak pun juga melintas. Ingatan yang membuat bulu kudunya berdiri. Benar, karena Ashan sendiri telah mengakui, bahwa Aishe adalah wanita yang berhasil membuatnya takut dan tunduk setelah Mirey.


“Lalu, bagaimana dengan hubungan sosialisasi? Maksudku ….”


Belum sempat Elder melanjutkan kalimatnya, Ashan sudah lebih dulu menebak kemana arah pembicaraan mereka. Alasan Elder ingin berbicara padanya setelah mengetahui Diego pergi berlibur.


“Kau ingin bicara tentang gadis itu?” tebak Ashan yang langsung membuat Elder terdiam. “Kau menyukainya bukan?” lanjutnya tanpa basa-basi.


“Paman!”


Suara Elder meninggi mendengar Ashan menebak perasaannya dengan asal. Rasa hati ingin mengelak, tetapi hal itu juga yang ingin dia ketahui. Ashan langsung tertawa kecil melihat reaksi Elder yang lebih mirip seperti ibunya.


“Kenapa, apa paman salah?” goda Ashan.


“Tidak! Bukan! Ah, maksudku ….”


Melihat Elder bingung menjawab pertanyaannya, Ashan lagi-lagi menaikkan dua sudut bibirnya. Dia tersenyum, menyadari anak laki-laki yang ada di hadapannya itu telah tumbuh besar menjadi pria dewasa.


Mereka sudah tumbuh dewasa, bahkan sudah bisa merasakan cinta. Cih, anak muda.

__ADS_1


“Baik, lupakan itu. Mari kita lanjutkan lagi!” jelas Elder yang tak mau menjelaskan lebih panjang pada Ashan.


Pria paruh baya yang masih setia menjadi kaki tangan Diego itu lantas mengangguk. Menyetujui permintaan Elder dan menghentikannya sikap jahilnya. Meski, dia masih belum lega untuk mengorek perasaan Elder.


“Bagaimana ibu dan ayah saling mengenal? Maksudku ‘jatuh cinta’, lanjut Elder masih penasaran.


“Ayah dan ibumu?” Ashan tiba-tiba tertunduk setelah mengatakan itu. Hanya sepersekian detik saja, lalu ia kembali menegakkan kepalanya dan menatap Elder.


Ini adalah kali pertama, pria paruh baya itu memandangi wajah Elder yang sudah dewasa dengan seksama. Menyadari bahwa wajah pria itu sangat mirip dengan tuannya, Diego. Terutama ketika memperhatikan bulu-bulu halus yang memenuhi rahangnya.


Namun tidak hanya itu. Setelah ia mendengar respon Elder tentang perasaannya pada Beyza, sedikit banyak Ashan menyadari, bahwa sifat pria itu lebih cenderung pada sang ibu.


Memang, hubungan darah sekental itu. Bahkan menghadapi masalah percintaan pun selalu seperti ini.


“Ketika mereka bertemu, keduanya sedang dalam penyembuhan. Ayahmu patah hati ditinggal pergi oleh kekasihnya, sedangkan ibumu dikhianati.” Ashan yang semula duduk, tiba-tiba bangkit berdiri dan berjalan ke arah jendela.


“Waktu, seperti obat bagi mereka. Selain itu, masa-masa kebersamaan mengisi kekosongan diantara keduanya. Cinta atau suka, bahkan mereka sendiri tidak yakin kapan perasaan itu muncul.”


Sebuah foto terpampang jelas. Dua orang berdiri di pinggir laut, menikmati deburan ombak yang menghantam tebing pembatas. Seorang pria terlihat sedang tersenyum menatap sosok perempuan di hadapannya.


Sekali lagi Ashan menarik napas panjang. Tatapannya tak lepas dari foto Diego dan Aishe yang baru saja dikirim oleh Eraz.


Cinta mereka, entah mengapa tidak pernah berkurang meski sudah menua. Bahkan senyuman tuan, sama seperti dulu. Sungguh, pasangan ini membuatku iri.


“Lalu, bagaimana dengan paman? Bagaimana paman mengetahui jika paman mencintai Bibi Guzel?” tanya Elder masih penasaran dengan perasaannya.


“Kapan? Aku sendiri juga tidak tahu, Nak.” Ashan berbalik, lalu menatap wajah bingung Elder. “Satu hal yang jelas, aku menyukai cara bibimu tersenyum. Saat itu aku yakin, mungkin aku telah jatuh cinta.”


Potongan puzzle dalam kepala Elder yang berceceran, kini mulai tersusun membentuk satu gambar yang jelas. Dilema tentang perasaannya kini mulai menemui titik terang. Namun meski begitu, raut wajahnya masih terlihat suram.

__ADS_1


Ashan yang begitu peka dengan raut wajah Elder, lantas mencoba menebak. Simpul bagian mana yang belum terurai?


“Apa yang kau takutkan? Kesenjangan sosial?”


Elder terperangah dan langsung menatap Ashan. Kedua bola matanya membulat penuh, bersamaan dengan saliva yang cukup sulit ia telan. Sepertinya, tebakan Ashan kali ini berhasil mengurai simpul yang membelenggu pikiran Elder.


Ashan pun langsung menghela napas, ketika mengetahui ketakutan Elder hanyalah masalah kecil. Terlebih, dia mengetahui Diego dan Aishe yang tidak akan memperdulikan tentang itu.


“Ayah dan ibumu tidak akan menentang hal itu. Terlebih, dia gadis baik hati. Cobalah!”


Lagi-lagi Elder terdiam. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Apakah pembicaraannya dengan Ashan bisa membantu memecahkan permasalahan akan perasaannya?


“Kapan ayah dan ibu kembali?” tanya Elder tiba-tiba.


“Tuan … dia hanya izin 3 hari. Besok harusnya dia kembali.”


Elder hanya mengangguk usai mendengar jawaban Ashan. Lalu bangkir berdiri dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun. Melihat perlakuan Elder, Ashan hanya diam saja. Seakan telah terbiasa seperti saat ia berhadapan dengan Diego.


Anak ini, persis seperti ayahnya.


Namun beberapa detik setelah Elder meninggalkan ruangan, pintu yang tadi sudah tertutup kembali terbuka. Rupanya Elder kembali, tetapi ia tidak masuk ke dalam, dan hanya berdiri di ambang pintu.


“Paman, terima kasih!”


Ya. Dia kembali hanya mengatakan itu, lalu pergi lagi.


Tapi bagian ini, dia mirip dengan ibunya.


...☆TBC☆...

__ADS_1


Jangan lupa Likenya 🥰


__ADS_2