Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 44


__ADS_3


Langit sudah berubah. Hamparan raleigh pun mulai menyeruak di sisi barat. Lampu-lampu di sepanjang jalan juga sudah menyala, memberikan penerangan bagi pengguna jalan.


Sudah beberapa jam sejak ruangan Beyza sepi. Serta dirinya yang terlelap tanpa sadar, setelah memikirkan perkataan Aishe cukup lama. Ya, sepertinya perkataan terakhir dari Rubby sebelum pulang, berhasil membuatnya berpikir keras.


Perlahan mata indah dengan bulu-bulu lentik mulai terbuka. Dia mengerjap, menyesuaikan retina matanya dengan cahaya lampu yang entah sejak kapan menyala.


"Kau sudah bangun?"


Tiba-tiba, dari sudut ruangan, suara seorang pria terdengar samar. Namun suara itu berhasil membuatnya menoleh dan langsung duduk membetulkan posisinya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu Anda di sini!" ucap Beyza yang buru-buru bangun.


Elder tidak berkata apapun setelah itu. Dia hanya diam, menatap Beyza yang juga menatapnya. Entah apa yang dipikirkan pada saat itu, hingga membuatnya diam memperhatikan Beyza dengan seksama.


"Tuan," panggil Beyza lirih. "Apa ada sesuatu yang ingin Anda katakan?"


Lamunan singkat Elder pun berhamburan tak tahu arah. Suara batuk yang dibuat-buat pun terdengar, bersamaan dengan posisinya yang berubah.


"Dokter bilang keadaanmu sudah membaik. Besok sudah boleh pulang."

__ADS_1


Begitulah yang ia katakan. Entah, itu perkataan yang memang ingin ia ucapkan, atau hanyalah alibi belaka. Namun, perkataan itu berhasil membuat Beyza mengangguk dan percaya dengan mudah.


"Baik, Tuan."


"Ada rapat yang sudah menungguku besok. Jadi, Baris akan menjemputmu," jelas Elder sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baik, Tuan."


Lagi dan lagi. Gadis dengan piyama biru milik rumah sakit itu hanya mengangguk dan menjawab dengan singkat. Tidak lupa, dia juga memamerkan senyum tulus yang menurut Elder itu sangat manis.


Namun, sikap Beyza justru membuat Elder kesal. Bagaimana tidak. Pria dengan kemeja hitam tanpa jas itu berusaha keras mencari topik pembicaraan. Tentu saja agar dia bisa punya alasan untuk berlama-lama. Hanya saja, sikap Beyza dirasa sangat acuh menurutnya.


Yah, pada akhirnya. Pria itu hanya bisa mengangguk sambil berjalan menuju pintu. Lantaran tidak ada hal lain yang bisa ia bahas dengan Beyza.


"Apa ada yang ingin Anda bicarakan lagi, Tuan?"


Langkah kaki Elder seketika terhenti, dia menoleh, menatap Beyza. Sekilas, dua sudut bibirnya terangkat. Tentu lantaran ia merasa senang.


Namun dalam waktu yang bersamaan, ponsel di sakunya berdering. Membuat pria itu buru-buru merogoh saku dan melihat nama dari penelepon.


Dalam hitungan detik, ekspresi wajah Elder berubah. Menjadi masam dengan mata menyipit dan kening yang berkerut.

__ADS_1


"Tidak ada. Istirahatlah, aku akan pergi," ucap Elder sedikit ketus, lalu pergi begitu saja.


Setelah pintu kamar Beyza tertutup, Elder lantas menjawab panggilan yang berasal dari Zavier, adik lelakinya.


"Ada yang ingin aku sampaikan. Apa Kakak ada waktu?"


Suara Zavier terdengar serius ketika Elder baru saja menjawab panggilan sang adik. Tanpa sapaan pembuka, dia langsung menyampaikan inti pembicaraan.


"Katakan saja dimana lokasi mu. Aku akan segera kesana!" jawab Elder sambil berjalan menuju lift.


"Cazbie, seperti biasa. Aku sedang dalam perjalanan kesana bersama Zehra. Kemungkinan 10 menit lagi, kami akan tiba."


Elder melihat arloji yang terpasang di tangan kirinya. Memperkirakan waktu yang akan ia tempuh hingga sampai ke tempat yang ditunjukkan Zavier.


"Oke. Kita bertemu di sana setengah jam lagi!"


...☆TBC☆...



Bang Zavier ini juga gak kalah kece kok, tapi agak blangsak diem diem 🤭

__ADS_1


Dahlah, sajen jangan sampe lupa. Biar besok semunggut up lagi 💋💋


__ADS_2