
Aishe
Aku dan Diego telah sepakat, untuk tidak menceritakan hal buruk yang dilakukan Farhan padaku. Juga tidak bercerita, bagaimana aku hidup selama 59 hari di pulau, kepada putra putriku.
Mungkin, itu adalah awal kesalahan yang aku buat. Hingga akhirnya, Elder menanggung semuanya sendiri.
"Maaf, maafkan ibu," lirih Aishe dengan air mata yang menetes.
Elder buru-buru menggelengkan kepalanya. Meyakinkan sang ibu jika itu bukan kesalahannya.
"Tidak. Kita hanya kurang berkomunikasi saja.," terangnya sambil mengusap pipi Aishe yang basah.
"Kalau begitu, apakah kita bisa saling berbicara sekarang? Membicarakan hal yang membuatmu tidak nyaman selama ini."
Elder menunduk mendengar jawaban sang ibu. Memikirkan setiap perkataan yang dia ucapkan tadi, hingga Aishe membalas dengan kalimat yang tidak bisa ia bantah.
Ya, memang harus Elder akui. Jika dirinya mulai menutup diri sejak kematian Emely. Menjauh dari keluarganya, membangun bisnisnya sendiri tanpa membawa nama keluarga, bahkan tentang phobianya.
Namun, apakah ini waktu yang tepat untuk berbicara pada ibunya?
"Philemaphobia!"
Dua mata Elder membulat penuh. Bahkan ia langsung menegakkan kepalanya, menatap raut wajah sang ibu.
"Aku tahu tentang itu, Nak."
Perkataan Aishe membuat bulu kuduk Elder berdiri. Jantungnya bahkan berdegup dengan kencang, tanpa bisa dikendalikan. Bibirnya mengatup dengan rapat, tidak bisa berkata-kata.
Namun melihat wajah Aishe yang tenang tanpa ada gurat amarah, Elder berusaha untuk bertanya, meski dengan nada gugup.
"I-ibu tahu dari mana?"
Seulas simpul senyum terukir tipis. Aishe terlihat mengusap kedua matanya yang masih basah. Lalu menyentil kening putra pertamanya itu dengan lembut.
"Memangnya kamu mau menutupi itu semua dari siapa? Ibu yang mengandungmu selama 9 bulan, juga membesarkanmu!"
Elder terdiam. Dengan sorot mata yang masih menatap sang ibu, ia mencoba berpikir. Siapa kiranya yang membocorkan hal ini. Karena jelas, dia hanya bercerita dengan Jared.
__ADS_1
Jader?
Lihat bagaimana aku mengurusmu nanti!"
Lamunan Elder tiba-tiba dibubarkan oleh suara tawa Aishe. Dia tertawa lirih, tetapi berhasil membuat Elder panik. Lantaran mengira, sang ibu sedang menertawakan dirinya.
"Itu bukan Jared!" ucap Aishe mencoba membuyarkan pemikiran buruk sang anak.
"Dia tidak membocorkan rahasia apapun tentang kalian. Tidak pernah!" lanjut Aishe menjelaskan.
"Lalu bagaimana Ibu bisa ….?"
Lagi-lagi Elder harus memaksa otaknya untuk bekerja lebih keras. Menebak dalang dibalik bocornya phobia itu pada sang ibu. Namun sebelum ia bisa menemukan, Aishe lebih dulu mengatakannya.
"Gadis itu, Diana!"
Mendengar sang ibu menyebut nama tunangannya, Elder yang kaget langsung bangkit berdiri. Tentu saja dia sangat terkejut, bagaimana Diana bisa tahu tentang phobianya?
"Dia berbicara pada Ibu?" tanyanya penasaran.
"Tidak. Ibu menyuruh paman Ashan mencari tahu, kenapa dia bisa terobsesi untuk bunuh diri dan memaksamu menikah. Setelah beberapa hari, barulah Ibu tahu. Dia menyimpan kontrak perjanjian mu dengan Beyza di ponselnya."
Elder merasa kepalanya sedikit berdenyut setelah mendengar penjelasan dari ibunya. Bahkan, ia secara terang-terangan memijat kepala sambil berkacak pinggang.
Bagaimana bisa dia kecolongan dengan mudahnya?
Ah, sial!
Namun dari itu semua, Elder baru menyadari sesuatu yang penting. Dengan cepat ia menurunkan tangannya, lalu duduk di samping Aishe.
"Jadi, ibu juga tahu hubunganku dengan Beyza?" tanya Elder dengan raut wajah panik.
Satu sudut bibir Aishe terangkat. Lalu kembali menyentil kening Elder.
"Dasar anak nakal! Bisa-bisanya kau melakukan itu pada gadis polos seperti dia?" protes Aishe pada putranya.
"Bu, aku tidak–"
Aishe tiba-tiba bangkit berdiri. Hela panas panjang sempat ia keluarkan dengan cepat. Sebelum akhirnya, dia berbalik menatap wajah putranya.
__ADS_1
"Dengar, Nak. Tubuh kita, kadang punya seleksi alamnya sendiri. Barangkali itu bukan phobia, melainkan reaksi tubuhmu pada orang yang benar-benar berhasil menggetarkan hatimu!"
Elder lagi-lagi terdiam. Pada awalnya ia tidak bisa memahami perkataan Aishe. Namun sepersekian detik kemudian, ia mulai memahami hal yang dimaksud ibunya.
Mungkin benar, itu adalah reaksi alami tubuhnya. Namun, apakah hatinya benar-benar bergetar ketika berhadapan dengan Beyza?
"Jika kau suka, segeralah miliki dia. Jangan sampai dia lepas, dan kau yang menyesal kemudian," lanjut Aishe sebelum ia pergi meninggalkan Elder yang masih diam, tidak tahu harus mengatakan apa.
Aishe berjalan masuk ke dalam gedung. Begitu melewati pintu, tiba-tiba langkahnya terhenti. Lagi-lagi, hela napas panjangnya terdengar jelas.
Perlu beberapa saat, hingga kornea matanya terbiasa dengan cahanya gelap di dalam ruangan. Dan ketika matanya yang samar mulai jelas, hal yang pertama ia lihat adalah wajah tampan suaminya.
"Die," panggilnya dengan suara lembut. "Kapan kamu datang?"
Diego tidak menjawab. Dia tetap diam, berdiri tanpa ekspresi yang bisa di tebak. Hanya datar, tanpa senyum atau gurat amarah yang terlukis di wajahnya.
"Kamu mendengar semuanya?" tanya Aishe penasaran dengan ekspresi wajah sang suami.
Perlahan, pria dengan tubuh kekar itu berjalan mendekat. Semakin dekat, lalu memeluk sang istri yang sejak tadi berdiri sambil menenteng tas kecil di tangannya.
"Die, lepaskan. Elder masih ada di luar!" protes Aishe berusaha melepaskan pelukan Diego.
Namun pria tua yang kegagahannya tidak luntur itu, tetap memeluk sang istri. Tanpa peduli seberapa kuatnya Aishe memberontak.
"Biarkan saja. Anak muda yang duduk disana masih memikirkan kata-kata ibunya dengan baik."
"Kau ini … dasar!"
...☆TBC☆...
Babang Die, kenapa kau bawa pesonamu ke sini?
Kan babang El gak kebagian nanti 😌
Dahlah!
Jangan lupa tebar sajennya 😌😌
__ADS_1