Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 65


__ADS_3

Elder


Rasanya seperti beberapa bulan telah berlalu, padahal hanya beberapa minggu saja. Terakhir aku menatap wajahnya, saat di rumah sakit. Bibir tipis itu sedikit pucat, tapi sekarang ….



Bola mata kecoklatan itu tak henti-hentinya menatap Beyza yang sedang berjalan ke arahnya. Bibirnya tertutup rapat, tapi percayalah, dia sangat ingin mengutarakan isi pikirannya dengan seulas senyum.


Namun sialnya, bibir itu seakan sulit untuk terbuka meski sedikit saja. Bahkan sampai Beyza mengetuk kaca mobil dan bertanya. Bibir Elder masih tertutup rapat.


“Tuan, Anda mencari saya?” tanya Beyza sekali lagi.


Elder masih tertegun menatap wajah Beyza yang terlihat sangat cantik pada saat itu. Sekitar beberapa detik, barulah ia memundurkan kursinya, lalu membuka pintu.


Dengan gerakan cepat tanpa aba-aba. Elder langsung menarik tangan Beyza masuk ke dalam mobil. Gerakan cepat tanpa ancang-ancang itu langsung membuat Beyza jatuh duduk dalam pangkuannya.


“Tu-Tuan, apa yang Anda lakukan? Bagaimana jika mereka meli—”


Belum sempat ia meneruskan kalimatnya. Bibir tipis yang sejak tadi tertutup telah terbuka dan langsung meraih bibir Beyza. Tentu saja, lagi-lagi tanpa ancang-ancang. Hingga akhirnya membuat dua bola mata gadis itu membulat.


Beyza sendiri tidak bisa menolak. Cengkraman tangan Elder terasa sangat kuat di pinggang rampingnya. Selain itu, dalam hati kecilnya, tidak sedikitpun terbesit sebuah penolakan.


Dua tangan yang sejak tadi mengepal dan berusaha menjauh dari dekapan Elder pun, perlahan mengendur.


Rasa dahaga dari dua pasang insan yang telah jatuh cinta, tapi sulit untuk diutarakan. Kini telah terobati setelah kedua lidah mereka saling beradu. Namun percayalah, itu bukan pergulatan sengit.


“Kau merindukanku?”


Dua kata yang keluar dari mulut Elder setelah ******* habis bibir Beyza, entah mengapa terdengar sangat lembut. Begitu lembut hingga tanpa sadar membuat Beyza mengangguk.

__ADS_1


Namun saat kalimat dari Elder tercerna dengan baik di kepalanya, dua manik matanya langsung membulat penuh. Pikirannya rancau, memikirkan jawaban dari anggukan kepalanya barusan.


Apa aku gila?


Bagaimana bisa aku menjawab itu dengan anggukan?


Ah, sial! Aku harus bagaimana?


Rasa takut, malu, dan juga segan. Bercampur menjadi satu, dan berhasil membuatnya canggung dalam sepersekian detik. Beyza hanya mampu menggigit bibir bawahnya, sembari berharap tuannya tak memarahi dirinya.


“Syukurlah.” Elder kembali mendekap Beyza.


Sebuah pelukan hangat yang langsung membuat Beyza mematung dengan mulut menganga. Tidak tahu apa yang sedang ia rasakan pada saat ini, tetapi degup jantungnya sangat cepat.


Gawat, jantungku seperti akan meledak.


Wajah putihnya perlahan memerah. Merasakan dekapan hangat Elder yang mulai memanas, bahkan membuat telapak tangan dan kakinya berkeringat.


Namun saat ia teringat akan status sosial mereka yang berbeda. Beyza yang sejak tadi berada dalam dekapan Elder langsung berontak. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Elder, berusaha melepaskan dekapannya.


“Tu-Tuan ini salah,” ucapnya gugup.


“Apa yang salah? Kau sudah mengakuinya tadi.”


Elder masih belum rela melepaskan Beyza. Tangan yang sejak tadi melingkar di pinggang Beyza tidak melonggar, bahkan 1 inci pun. Merontokkan segala usaha Beyza untuk melepaskan diri.


Begitulah Elder. Ketika ia gigih dengan sesuatu, dia pasti berusaha dengan keras untuk mendapatkannya, apapun caranya. Begitulah ketika dirinya yakin, bahwa perasaan yang dia miliki pada Beyza bukanlah rasa butuh semata, melainkan cinta.


Namun syarat dari Aishe padanya membuat ia harus menahannya. Setidaknya sampai simpul yang pernah ia ikat dengan Diana terlepas sepenuhnya tanpa harus mengusik nama keluarga Gulbar.

__ADS_1


Setiap bersamanya, entah mengapa aku jadi sangat lapar. Begitu lapar sampai ingin menerkam dan memakannya bulat-bulat.


Elder menatap wanita yang duduk di pangkuannya itu dengan seksama. Memperhatikan wajah gugupnya, membuat dua sudut bibir Elder terangkat. Terlebih ketika telinganya mendengar suara gugupnya.


“Ah … itu, bukan seperti itu. Saya hanya ….”


Senyum yang semula tipis, tiba-tiba berubah menjadi tawa. Tawa riang yang tidak pernah didengar oleh Beyza. Bahkan kedua orang tuanya sendiri pun sudah lama tidak mendengar tawa bahagia dari Elder.


Gadis yang sudah terlanjur malu ketika ditertawakan oleh Elder itu, hanya bisa menyembunyikan wajahnya. Dia tertunduk begitu dalam, sambil mengepalkan tangan dan menggigit bibir bawahnya.


Salah satu tangan Elder pun terangsur, menyentuh kepala Beyza lalu membelainya. Belaian yang teramat sangat lembut, membuat gadis itu menegakkan kepalanya.


“Kembali dan berlatihnya dengan baik. Untuk yang lain, serahkan padaku!” ucap Elder.


“Oh, ba-baik!”


Beyza yang senang karena bisa lepas dari dekapan Elder, buru-buru berdiri dan pergi. Gadis itu bahkan berlari dengan cepat tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Baginya, lari dari Elder adalah hal yang utama pada saat ini.


Namun, berbeda dengan Elder. Pria itu terlihat puas setelah bertemu dengan Beyza. Bahkan melupakan tangan yang tadi sempat ia ingin potong karena sudah menyentuh Diana, dan kembali pulang dengan senyum lebar di wajahnya.


Benar, dia sudah lupa. Lupa segalanya, lupa akan Jared yang mengantarkan dirinya pada Beyza. Lupa bagaimana Jared bisa dengan mudah bertemu dengan Beyza, sedangkan dirinya sangat sulit. Bahkan orang suruhannya pun tidak bisa mendapatkan info atau foto Beyza.


Dia dengan santai mengemudi, sambil mendengarkan musik. Tanpa ingat Jared yang dia tinggalkan di tempat latihan Beyza.


“Akan ku ingat kejadian ini dengan sangat amat baik!” gumam Jared yang tidak melihat mobilnya di tempat parkir, setelah ditinggal membeli sekaleng soda.


...☆TBC☆...


Jempol jangan lupa 😘😘😘

__ADS_1


Sabar ya, bang El sama neng Bey masih panjang 😆


Othornya suka alur lambat 🤭


__ADS_2