Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 80


__ADS_3

Tangan yang sejak tadi memegang gunting untuk membuat Elder menemuinya, perlahan mengendur. Dua matanya membelalak penuh, menatap sosok wanita yang ada di belakang Elder.


"Kenapa, bukankah kau ingin bunuh diri?"


Elder berjalan mendekat ke arah Diana, membuat gadis itu tak berkutik, bahkan berbicara pun tidak. Padahal, sejak tadi dia berteriak seperti orang gila, ingin bertemu dengan Elder.


Namun saat pria bertubuh tinggi nan gagah itu datang menemuinya, tenggorokan tiba-tiba terasa kering dan tercekat.


Elder menarik satu garis sudut bibirnya. Lalu dengan gerakan cepat, ia berpindah arah, berdiri di belakang Diana. Sambil mencengkram tangan Diana yang memegang gunting, Elder mengarahkan gunting itu ke lehernya lagi.


"Kenapa, buka kah kau ingin mengakhiri hidupmu tadi? Kenapa sekarang kau gemetar? Takut?, bisik Elder terdengar ketus dan sedikit mengejek.


"E-el, Sayang. Ini tidak bercanda."


Suara Diana gemetar, tidak seperti sebelumnya saat ia berteriak dengan lantang mencari Elder di hadapan semua staff.


Elder meringis geli mendengar perkataan Diana. Antara jijik dan juga muak. Muak dengan semua drama yang dimainkan Diana. Dua rasa yang semakin bergelut, membuat Elder menekan tangan Diana kuat-kuat, hingga ujung gunting itu menyentuh leher.


"Aah!" Teriakan Diana memekik, tapi tidak juga membuat Elder mengendurkan tangannya.


"Bukankah kau ingin mati? Mati saja!" bisik Elder lantang.

__ADS_1


Diana menatap nanar ke depan, melihat seorang wanita yang tadi datang bersama Elder. Berharap wanita itu bisa menolong dirinya dan membujuk Elder.


"Mo-Mom, help," mohonnya sedikit merintih.


Namun wanita paruh baya itu tidak menunjukkan respon. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, tapi dari tatapan matanya bisa terlihat bahwa dia sendiri juga merasa jijik dengan sikap putrinya.


Sikap acuh Emma, wanita berumur 50 tahun, yang tidak lain adalah ibu kandung Diana, seakan membuat hati Elder puas. Dia yang sengaja menyuruh seseorang untuk menjemput Emma, nyatanya tidak sia-sia.


"Lihat, mereka semua muak dengan sikapmu. Apa kau tidak sadar?"


Diana mengedarkan matanya, melihat beberapa orang yang ada di sana, memandangnya dengan acuh. Seolah tidak peduli jika presdir mereka melukai atau membunuh seseorang.


Melihat reaksi orang-orang dan juga sang ibu, bulir air mata menetes, jatuh di pipinya.


Tidak, itu bukan keduanya. Dia hanya sedang menangisi dirinya yang kini tak lagi berharga. Namanya hancur, mereka yang sebelumnya tunduk, kini mulai acuh.


Dirinya telah ditinggalkan, seperti itulah.


Elder melepaskan cengkramannya, lalu mengambil gunting dari tangan Diana. Setelah itu mendorongnya hingga ia jatuh tersungkur.


"Aku sudah memperingatkanmu sejak awal, jangan menyentuh batasku!" ucap Elder kemudian pergi.

__ADS_1


Diana tidak mampu lagi berkata-kata, ia hanya meremas tangan, menatap punggung Elder yang semakin menjauh. Lalu menatap Emma yang berdiri di depannya tanpa mau menolong dirinya.


"Mom," panggilan Diana terdengar pilu.


Namun sayangnya, Emma tidak peduli dan justru menatapnya dengan jijik. Sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya dan pergi. Sama seperti Elder dan semua orang, Emma pun pergi begitu saja tanpa bicara sepatah kata pun.


Melihat Emma meninggalkannya, Diana buru-buru bangkit berdiri, mengejar ibunya.


"Mom, Mom!"


Disisi lain. Elder berjalan secepat mungkin menuju basement, tempat ia memarkirkan mobilnya.


Entah mengapa, napas pria itu tiba-tiba terdengar berat. Dia bahkan melepaskan jas, melonggarkan dasi serta melepas kancing di kerah kemejanya. Namun dia masih juga kesusahan bernapas.


Alv yang mengikuti Elder dari belakang, ternyata cukup peka dengan keadaan presdirnya. Dengan sigap ia berlari mendahului Elder, dan membantunya membuka pintu mobil.


Begitu masuk ke dalam mobil, Elder yang sejak tadi merasakan sesak di dada langsung jatuh dalam pelukan seorang wanita.


"Elder, Elder."


...☆TBC☆...

__ADS_1


Vote Vote Vote, jangan lupa jempol 😘


__ADS_2