
Menjadi perbincangan masyarakat karena sikap buruknya tersebar, tidak diakui sebagai bagian dari kerajaan inggris. Lalu sekarang, dicampakkan sang kekasih?
SIAL!
Mungkin satu kata itu bisa menjabarkan seluruh kondisi yang menimpa Diana dalam satu hari ini. Benar, satu hari, dan itu baru beberapa jam sejak seseorang speak up di media tentang kesombongan Diana.
Diana masih duduk di posisi yang sama, sambil terus menghubungi sang kekasih. Namun sudah puluhan kali ia mencoba, tidak ada satu panggilan pun yang terjawab.
Kesal pun menyeruak setelah panggilan ke 30-nya masih belum juga terjawab. Sambil mengumpat, ia membanting benda pipih yang dipegangnya itu ke lantai hingga layarnya retak.
Entah sudah berapa kali Diana mencoba menghubungi sang kekasih. Namun tidak ada satu panggilan pun yang dijawab oleh Elder.
"Sial!" pekiknya. "Aku tidak akan membiarkan dia meninggalkanku, tidak akan!"
Takut dirinya benar-benar ditinggalkan. Diana berinisiatif mendatangi kantor Elder untuk memastikan bahwa ketakutannya itu tidak benar.
Dua manik matanya menelisik sekitar, mencari sesuatu yang bisa menutupi wajahnya, karena takut orang-orang akan mengenali dirinya. Sial sungguh sial, dia tidak menemukan satu benda pun di sana.
"Shiit! Kenapa hari ini sangat sial!" keluhnya kesal.
Kekesalannya semakin menyeruak, tapi tidak ada waktu baginya untuk terus mengumpat tidak jelas disana. Dia harus segera menemui sang kekasih untuk memastikan dirinya tidak dibuang begitu saja.
Buru-buru dia berlari keluar dari ruangan, dengan manik mata yang masih menelisik sekitar, mencari apapun untuk bisa digunakan. Entah keberuntungan atau apa, dia berhasil menemukan sebuah topi di salah satu ruang rias.
Tanpa banyak bicara, dia mengambil topi yang terletak di atas meja dan segera memakainya, lalu pergi dari sana.
Dari Arnavutkoy ke Fatih, butuh setidaknya setengah jam perjalanan dengan menggunakan taxi. Setelah turun, Diana langsung berlari masuk ke dalam gedung. Namun seorang petugas keamanan buru-buru menghentikan langkahnya.
"Tunggu, Nona. Anda mau pergi kemana?" tanya pria bertubuh kekar sambil menghadang langkah Diana.
__ADS_1
"Apa kau gila, beraninya menghentikanku?" teriak Diana tidak terima.
Teriakan lantangnya tentu saja mengundang banyak perhatian orang-orang yang ada di sana. Mereka semua menoleh, menatap ke arah Diana yang langsung menurunkan topinya.
"A-aku punya janji dengan Elder, maksudku presdir kalian," lanjutnya menurunkan nada bicaranya. Namun pria bertubuh kekar itu tidak juga menggeser tubuhnya.
"Cepat menyingkir! Kau tidak tahu siapa aku, hah?" lanjut Diana.
Kesal dengan sikap penjaga keamanan, Diana pun melepaskan topinya. Membiarkan semua orang tahu, siapa sosok yang baru saja membuat mata mereka fokus padanya.
"Sekarang, kau sudah bisa mengenaliku bukan? Jadi cepat menyingkir!" serunya.
Meski sudah mendapat bentakan beberapa kali, pria bertubuh kekar itu tidak gentar sedikitpun. Di wajahnya bahkan tidak terlihat rasa takut sama sekali.
"Maaf, tapi presdir sedang tidak ada di tempat."
Namun sialnya, dia tidak menemukan Elder di ruangannya. Decak kesal pun keluar dari mulut Diana, tapi tidak membuatnya menyerah.
Sambil berteriak memanggil nama Elder seperti orang gila, Diana berkeliling. Berharap Elder mendengar teriakannya dan mau menemui dirinya.
Frustasi, tentunya. Sudah hampir setengah jam ia berjalan mengelilingi kantor sambil berteriak, tapi Elder tak kunjung ketemu atau datang menemuinya.
Ketakutan pun semakin menghantuinya. Pikirannya mulai meracau, memikirkan bila Elder benar-benar meninggalkan dirinya.
Hingga, ia memikirkan satu hal gila, sama seperti yang pernah ia lakukan di kediaman keluarga Gulbar.
Mencoba bunuh diri. Benar.
Keberadaan penjaga keamanan yang sejak tadi mengikutinya, seolah menjadi umpan yang pas baginya untuk mendatangkan Elder.
__ADS_1
Manik matanya pun mulai menelisik, hingga akhirnya mendapatkan sebuah gunting di dalam rak. Dengan cepat ia mengambil gunting, dan menaruh bagian sudut lancip di lehernya.
Tindakannya jelas membuat semua orang terkejut, termasuk petugas keamanan.
"Panggil Elder sekarang juga! Cepat panggil dia!"
Ancaman Diana membuat mereka semua tak berkutik. Termasuk Alv yang saat itu melihat tindakan konyol Diana.
Tidak mau membuat urusan makin kacau, Alv pun segera menghubungi Elder.
"Tuan, Nona Diana …."
Elder yang pada saat itu sedang berada di jalan hendak menemui kolega, memutuskan untuk berputar arah dan kembali ke kantor.
Entah mengapa, hari ini dia terlihat begitu tenang. Wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi apapun, meski mengetahui tunangannya sedang memberinya ancaman.
Dengan santai ia berjalan, menuju lantai 3, tempat dimana wanita berambut pirang itu ingin bunuh diri.
"Elder, Sayang. Kau datang, kau sungguh-sungguh masih peduli padaku?" ucap Diana senang, saat melihat Elder datang menghampirinya.
Namun, seulas senyumnya langsung berubah begitu matanya melihat sosok wanita yang berdiri di belakang Elder.
...☆TBC☆...
Jeng jeng jeng, siapakah dia?
Hari ini bocil² pada rewel 😑 baru sempet pegang naskah.
Jempol, kopi, mawar, jangan lupa 🥰🥰
__ADS_1