
Elder menundukkan kepalanya, bibirnya mengatup, rahangnya mengetat. Cukup lama, sampai akhirnya hela napas kasar terdengar samar. Lalu ia merogoh saku, mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
Kakinya bergerak, maju ke depan. Setelah beberapa langkah, ia berbalik dan berjalan lagi. Mondar mandir sambil memikirkan sesuatu. Hingga, pintu berwarna hitam di ruangan itu terbuka.
Semua orang kompak menoleh. Menebak-nebak siapa yang dengan berani menerobos masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
"Wahhh, sepertinya para anak muda sedang bersemangat malam hari ini," ucap seorang pria paruh baya dengan jaket kulit yang membalut tubuhnya.
"Paman Eraz?"
"Bagaimana Anda tahu kami ada di …." Belum sempat Jared meneruskan kalimatnya, Eraz lebih dulu mencekalnya.
"Hais! Dasar anak muda. Cukup mudah untuk tahu dimana kalian berada," selanya sambil berjalan masuk, lalu mengambil rokok yang ada di tangan Elder dan duduk di antara mereka.
Tanpa ada rasa bersalah, Eraz dengan santainya menghisap rokok yang baru saja dinyalakan Elder. Seperti tidak ada beban sama sekali. Bahkan Elder tidak bisa protes untuk tindakan Eraz.
"Baiklah. Katakan, apa rencana kalian selanjutnya!" ucap Eraz ketika semua orang terdiam dan hanya saling menoleh tanpa berkata apapun.
Eraz tentu menyadari kebingungan mereka, karena itu, dia menjelaskan bahwa dirinya sudah masuk ke dalam Tim.
"Hei, ayolah! Aku juga bagian dari tim!" jelas Eraz, kemudian menatap Elder.
"Nak, kau tidak mengatakan rencanamu pada mereka?" tanyanya.
__ADS_1
Lagi-lagi Elder menghela napas, sebelum akhirnya duduk di antara mereka. Dia pun mulai menceritakan rencana yang sempat disusun secara ringkas. Tanpa berharap mereka akan membantunya.
"Kau yakin, dia akan menyerah setelah karirnya hancur?" tanya Zavier seperti tidak yakin dengan rencana Elder.
"Sepertinya itu tidak buruk. Setelah itu, nikahi saja gadis itu. Siapa namanya?" timpal Zehra.
"Beyza!" Jared menjawab dengan tegas sambil membuang muka.
Zehra mengangguk, sedangkan Zavier terlihat asik meneguk minumannya. Juga Eraz yang menikmati sebatang rokok milik Elder. Suasana menjadi hening dalam sekejap.
Sampai beberapa menit kemudian, Elder bangkit berdiri dari duduknya. "Aku akan selesaikan dalam beberapa hari."
Singkat dan padat, lalu ia menatap Eraz. "Paman Eraz, tolong bantuannya dan rahasiakan hal ini pada ayah dan ibu."
"Huuh!" Hela napas panjang Zehra terdengar. "Kenapa dia keras kepala sih? Siapa yang dia contoh?" Keluhnya kesal.
Siapa? Tentu saja itu ayahmu, Nak. Kalian hanya tahu sifat lembutnya saja, tidak dengan keras kepalanya.
Eraz diam-diam mengangkat dua sudut bibirnya. Dalam pikirannya sempat terlintas, momen ketika dia masih bekerja dengan Diego demi bisa membalas dendam.
Hari sudah mulai larut. Beberapa ruas jalan juga sudah mulai lengang. Elder yang tidak meneguk segelas minuman beralkohol itu dengan cepat mengendarai mobil SUV berwarna putih miliknya.
__ADS_1
Selama 45 menit berkendara. Mobil putih itu akhirnya sampai di sebuah rumah 3 lantai dengan nuansa putih yang dinamai Villa Luxury.
Namun setelah mobil itu berhenti, Elder tidak lekas turun dari sana. Mesin mobilnya masih menyala selama beberapa menit usai ia menarik tuas rem.
Dua manik matanya menatap lurus ke depan. Menatap kosong ke arah rumah yang sudah sepi, dengan tirai yang menutup jendela kaca. Dia terbengong, tidak tahu kenapa ia bisa mengemudi ke rumah utama.
Apa yang sejak tadi aku pikirkan?
Elder menyandarkan keningnya di stir kemudi tanpa mematikan mesin mobil. Raut wajahnya terlihat penuh dengan beban, entah apa yang membuatnya tertekan hingga seperti itu.
Lima menit berlalu. Elder masih dalam posisi yang sama, ketika seseorang mengetuk kaca mobilnya.
Suara ketukan yang terdengar jelas di telinga, tentu saja langsung membuat Elder mengangkat kepala. Ia menoleh, menatap sosok pria paruh baya dari balik jendela kaca mobil, sedang menatap ke arahnya.
"Kenapa hanya duduk disana? Turunlah!" ucap pria paruh baya itu pada Elder.
"A-ayah?" suara serak Elder terdengar jelas di telinga pria itu, yang kemudian membuat dua sudut bibirnya terangkat dengan samar.
...☆TBC☆...
Ada yang setuju sama pendapat Zehra?
Keknya pada setuju semua nih 🤭😅
__ADS_1