
Cazbie, sebuah bar mewah dengan konsep modern ala eropa. Lampu berwarna warm yellow menggantung dengan cantik di atas meja bartender. Sederet botol minuman beralkohol tertata rapi dari berbagai merek ternama.
Tidak hanya desainnya yang cantik, juga koleksi minuman mereka yang terkenal. Namun, juga ruang VIP serta pelayanan yang cukup profesional.
Bar ini berada di kawasan Ergenekon, Halaskargazi, Şişli. Bekisar 10 kilometer dari rumah sakit tempat Beyza dirawat. Sehingga butuh waktu sekitar setengah jam bagi Elder untuk sampai di lokasi.
Seorang wanita cantik dengan dress hitam panjang, rambut bergelombang terurai bebas. Mata tajam dengan bulu mata lentik nan lebat, terlihat duduk bersama dua orang pria di depan meja bartender.
Dari jauh, Elder langsung bisa mengenali ketiga orang yang sedang duduk santai sambil menikmati minuman mereka. Berbincang dan bercanda seolah tidak ada hal serius yang ingin mereka katakan.
"Oh, kau sudah datang, Kak?" ucap Zehra yang melihat Elder berjalan menghampiri mereka.
"Kenapa dia juga ada di sini? Aku pikir ini pembicaraan antar keluarga," sindir elder menatap Jared.
"Hei, hei! Apa selama ini kalian tidak menganggapku keluarga?" Jared melirik menatap mereka bergantian.
Zehra hanya tersenyum, sedangkan Zavier terlihat acuh, dan Elder justru mengedikkan bahu, pertanda sebuah penolakan tegas darinya.
"Tega sekali kalian!" rengek Jared dengan wajah cemberut.
"Sudah susah payah aku membantu kalian menemukan pelakunya, tapi lihat!"
Elder yang tidak paham pembicaraan Jared, tentu langsung menatap kedua adiknya. Zavier terlihat menghela napas lebih dulu, sebelum akhirnya ia turun dari kursi, lalu merangkul pundak Elder.
"Ayo kita cari tempat yang nyaman. Zehra sudah menyewa VIP room dan beberapa minuman enak," terang Zavier sambil berjalan ke arah tangga, dengan merangkul kakaknya.
"Kalian tidak sedang merencanakan sesuatu?"
"Apa maksudmu, Kak? Kita ada disini justru ingin menyelamatkanmu!" sahut Zehra, berjalan membuntuti keduanya di belakang.
__ADS_1
Elder tidak berkata apapun lagi. Pikirannya kacau, menebak-nebak sesuatu yang akan mereka ucapkan.
Sebuah ruangan yang mengusung konsep Dark. Mulai dari kursi, atap, bahkan lantai. Berpadu dengan lampu-lampu kristal yang menggantung dengan elegan.
Zehra yang masuk lebih dulu, langsung menghampiri kursi dan duduk. Hela napas panjangnya terdengar jelas, menggema di seluruh ruang.
"Aahh … sudah lama sekali," ucap Zehra setelah merebahkan dirinya di sofa.
"Kau senang sekali, seperti datang ke rumah kedua," sindir Jared yang kemudian duduk tak jauh dari Zehra.
Zehra sama sekali tidak terlihat marah. Gadis dengan lipstik matte merah tipis itu justru menegakkan tubuhnya dan menoleh menatap Elder yang baru saja duduk.
"Oh benar. Kenapa ayah tidak membuat bar? Jelas-jelas ayah dan para paman sering minum," tanya Zehra.
"Tentu karena Bibi Ishe tidak mengizinkannya," sahut Jared.
"Kau masih tidak paham juga gadis muda? Itu karena bibi tidak mau paman melirik gadis muda di bar."
Jared masih terus menimpali perkataan daro adik teman dekatnya itu. Zehra yang tidak terima pun, langsung membalas perkataan Jared. Hingga akhirnya, kedua orang itu terlibat adu mulut sengit.
"Berhentilah! Aku datang bukan ingin mendengar adu mulut kalian!" seru Elder kesal mendengar adik dan teman dekatnya berdebat.
Seketika, dua orang itu langsung terdiam. Mulut yang sejak tadi berduel tanpa ada yang mau mengalah, kini membisu hanya dalam hitungan detik.
"Katakan, apa yang ingin kalian bicarakan!" lanjut Elder setelah ruangan hening.
"Ibu sudah memberitahumu tentang wanita itu?" tanya Zavier.
"Apa?"
__ADS_1
"Ibu menemukan foto kontrakmu dengan salah satu maid di ponsel wanita itu."
DEGH!
Dua bola mata Elder membulat penuh. Kaget, tentu saja. Dia tidak mengira, kedua adiknya kini tahu tentang phobianya. Juga, tentang perjanjiannya bersama dengan Beyza.
"Apa, ayah tahu?" tanya Elder dengan nada bergetar.
Zavier tidak menjawab, Zehra pun juga diam membisu. Seakan enggan memberitahu, jika Diego pun sudah mengetahui phobia sang putra.
"Kak, kita tidak menganggap itu sebagai hal yang memalukan. Lagi pula, kakak masih bisa melakukan hal itu dengan …." Zehra langsung diam ketika Elder menoleh ke arahnya.
"Hal yang paling penting sekarang, menyingkirkan gadis itu. Jangan sampai dia membuat skandal dan menjatuhkan perusahaanmu atau BIN. Juga, mengusik keluarga kita," sahut Zavier.
"Mengusik? Apa maksudnya?"
"Dia yang menyuruh salah satu petugas keamanan untuk mencelakai maid di rumahmu. Juga …." Jared terdiam sesaat. Dia menoleh, menatap Zehra yang tiba-tiba tertunduk.
Hanya beberapa detik saja. Setelah itu, Zehra menegakkan kepalanya, menatap wajah Elder.
"Dia baru saja menemuiku tadi."
Bak disambar petir di dalam ruangan. Elder yang terkejut langsung bangkit berdiri. Mencoba menegaskan perkataan sang adik.
"Aku tidak tahu. Apa itu sebuah kebetulan, atau dia membuntutiku. Kami bertemu saat di butik."
Kedua tangan Elder mengepal. Kepalannya begitu kuat, seakan menyalurkan segala emosinya disana.
"Kakak harus segera bertindak. Sebelum dia mengusik kita lebih dalam."
...☆TBC☆...
__ADS_1