Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 70


__ADS_3

Awan putih yang berbaur dengan langit biru. Kicauan burung dan desir angin yang bertiup sepoi-sepoi. Perpaduan cuaca cerah dengan angin sejuk, terasa sangat pas untuk membuka lembaran hari yang baru.


Ya, benar. Namun itu tidak berlaku bagi Beyza.


Dunianya seakan runtuh. Hanya ceceran kenangan yang tersisa, itu pun cukup mengoyak perasaannya.


Terngiang saat dia terpaksa mengalah lantaran sepotong daging terakhir yang direlakan untuk sang adik. Saat dia harus bekerja sepulang sekolah demi bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun, uang yang dikumpulkan dengan susah payah justru dipakai sang adik untuk membeli tas mewah.


Pantas saja, dia merasa dunianya tidak adil.


Beyza berjalan pergi tanpa menoleh sedikitpun. Pandangannya lurus ke depan, tapi itu sudah kosong entah sejak kapan.


Air yang terbendung di pelupuk mata, mengaburkan pandangannya. Namun meski pandangannya kabur, gadis yang dunianya hancur itu tidak peduli. Dia terus berjalan, tanpa tahu kemana tujuannya.


Suara klakson datang dari arah belakang. Terdengar cukup kencang, tapi tidak membuat gadis itu bergeming sedikitpun. Menoleh atau bahkan menepin pun, tidak.


Sampai seseorang menarik tangannya dan membuat tubuhnya spontan berbalik.


“Beyza! Aku memanggilmu beberapa kali?”


Rupanya, Elder sejak tadi memanggil namanya beberapa kali. Namun gadis itu tidak mendengar dan terus saja berjalan.

__ADS_1


Air mata yang terbendung di pelupuk mata, tiba-tiba jatuh tanpa dapat ia kendalikan. Menetes dan sebagian lagi mengalir, membasahi pipi polos tanpa polesan.


Beyza masih diam mematung. Bibirnya pun tertutup rapat, seolah tak berniat memberi jawaban. Nyatanya, dia ingin menahan bibirnya agar tidak terisak di hadapan Elder.


“Ada apa denganmu?”


Hanya satu pertanyaan darinya. Pertahanan yang sejak tadi coba dijaga sebaik mungkin oleh Beyza, akhirnya runtuh dalam sekejap. Isak tangisnya langsung pecah di depan Elder.


Bukannya ia tidak merasa malu. Namun rasa sakit yang dia rasakan sudah teramat sangat, hingga membuat rasa malunya hilang.


Melihat Beyza terisak di depannya, Elder menjadi cukup peka. Ditariknya kedua lengan gadis itu ke dalam pelukannya, tanpa peduli apakah ada yang melihat mereka dan apa resikonya nanti.


“Menangislah sampai puas!” singkatnya menyembunyikan wajah gadis itu di dadanya.


“Ma-maf. Maaf,” ucap Beyza sedikit gugup.


“Tidak masalah.” Elder menatap lurus ke depan, menatap wajah Beyza yang terlihat sedikit bengkak usai menangis.


“Tapi itu … Tuan.” Sambil terbata, Beyza mengulurkan tangan, menunjuk ke arah dada bidang pria itu yang basah lantaran air matanya.


Elder sendiri bukan tidak menyadari hal itu sejak tetes air mata gadis itu jatuh di bajunya. Mungkin, dia memang sengaja. Merelakan kemeja biru muda hadiah dari sang ibu untuk menjadi penadah air mata yang sempurna.

__ADS_1


Senyum asimetris tercipta di sudut bibir Elder. Seolah menyampaikan pesan bahwa dirinya tidak masalah dengan hal itu.


“Sa-saya akan mencucinya dengan bersih, Tuan?” ucap Beyza sedikit takut, takut jika disuruh menggantinya dengan yang baru.


“Apa aku harus melepasnya sekarang? Disini?” Elder mengedarkan pandangannya. Meski saat itu jalanan di sekitar Villa Luxury sedang sepi, tapi tidak mungkin juga dia melepaskan kemejanya begitu saja di tempat umum.


Saat Elder mengatakan hal itu, barulah Beyza sadar, bahwa mereka sedang berada di jalan raya komplek. Dia buru-buru menutupi wajahnya. Malu, itu pasti.


Elder buru-buru menarik tangan Beyza, mengajaknya masuk ke dalam mobil. Namun niatnya bukan untuk bersembunyi dari pandangan orang yang mungkin lewat dan tak sengaja bertemu dengan mereka.


Beyza sendiri tidak bisa menolak. Semua karena kemeja sang majikan yang basah sebab air matanya. Bagaimana pun, dia harus bertangung jawab akan hal itu.


Berpikir bahwa Elder mungkin akan membawanya ke rumah, atau binatu. Namun kenyataannya, mobil yang Elder kendarai melaju ke arah barat dan menjauh dari kota.


“Tuan, kita akan kemana?” tanya Beyza penasaran.


“Pergi ke tempat yang tidak seorang pun bisa melihatmu menangis.”


Beyza terdiam. Manik mata kecoklatan itu menatap ke samping. Memperhatikan wajah Elder yang sedang fokus mengemudi. Wajah teduh yang mungkin tidak akan bertindak melewati batas.


Apakah ada tempat seperti itu?

__ADS_1


Bagus jika memang ada.


...☆TBC☆ ...


__ADS_2