
Beyza terdiam, tatapannya lurus memandang dua binar mata Elder yang tidak terlihat ada sebuah kebohongan. Dia menjadi linglung, tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Pikirannya berkecamuk. Prasangkanya telah disangkal oleh sang majikan dengan mudah, bahkan tanpa emosi sedikitpun.
Apa yang dia ucapkan benar?
Elder tiba-tiba mendekat. Sorot matanya tajam tertuju pada Beyza yang masih terbengong. Namun ketika Elder perlahan mendekatinya, kaki Beyza secara spontan melangkah mundur.
"Dan untuk phobiaku, masih sama. Tidak ada sedikit kemajuan pun," ucap Elder sambil mendekat, berusaha memangkas jarak antara dirinya dan sang maid.
Sampai akhirnya, salah satu tangan pria itu terulur, dengan lembut menyentuh pipi Beyza. Lalu, mendaratkan bibirnya dengan perlahan.
Ciuman yang sangat amat lembut, mendarat dengan sempurna. Begitu lembutnya, hingga Beyza yang mematung sejak tadi, tidak bisa menolak atau menghindar.
Namun entah apa yang terjadi. Dua mata indah dengan bulu tebal nan lentik itu tiba-tiba basah. Bulir mening pun menetes, membasahi kedua pipinya. Elder yang menyadari air mata Beyza, langsung terkejut dan melepaskan pagutan bibirnya.
Begitu terlepas, Beyza langsung berlari. Dia lebih memilih cepat-cepat keluar dari kamar, tanpa bicara sepatah kata pun. Membiarkan Elder diam mematung, tanpa mengerti apa yang membuatnya menangis.
Alih-alih mengejar dan bertanya. Elder lebih memilih untuk membiarkan gadis itu sendiri dan menenangkan hatinya lebih dulu. Itulah yang dia putuskan, sebelum akhirnya keluar dari kamar dan fokus untuk bekerja.
__ADS_1
Namun saat ia berjalan menuruni tangga. Kedua manik matanya mendapati sosok Diana sedang duduk di sofa.
Gadis itu bersedekap tangan, sambil duduk menyilangkan kaki, menatap Elder dengan tatapan sinis penuh selidik.
"Apa yang kalian lakukan di dalam kamar selama 10 menit?" tanya Diana dengan ketus, tanpa merubah tatapan matanya.
Elder menatapnya sesaat, lalu melanjutkan langkah kakinya. Bersikap acuh tak acuh, dengan keberadaan sang tunangan yang entah sejak kapan berada di dalam rumahnya.
Merasa tidak terima dengan sikap Elder, Diana langsung bangkit berdiri dan mengejar tunangannya. Tangan kanannya terulur, dengan cepat menarik lengan Elder hingga membuat pria itu berbalik.
"Katakan, Elder! Apa yang kalian lakukan di dalam kamar selama itu! Dan kenapa dia keluar sambil menangis?"
Elder pun menepis tangan Diana, lalu memijat keningnya perlahan. Namun ocehan Diana masih terus terdengar tanpa jeda sedikit pun. Membuat Elder yang sudah pusing menjadi semakin pusing.
"Apa kamu tidak bisa diam?" bentak Elder secara spontan.
"Kenapa aku yang harus diam! Aku kekasihmu, tunanganmu, calon istrimu!"
Nada bicara Diana yang berubah tinggi, membuat denyut kepala Elder semakin kuat dari sebelumnya. Muak, salah satu alasan kuat yang membuat Elder mengeluarkan amarahnya dengan singkat.
__ADS_1
"Persetan dengan itu!"
Satu kalimat yang langsung membuat Diana diam seribu bahasa. Bahkan ia tidak berkomentar apapun ketika Elder pergi meninggalkan dirinya begitu saja.
Rasa kesal yang sejak tadi membumbung, akhirnya tumpah ruah. Diana mengetatkan rahang, bersamaan dengan dua tangan yang mengepal kuat. Sorot matanya semakin tajam, menatap punggung Elder yang semakin menjauh darinya.
Aku, tidak akan membiarkanmu jatuh ke tangan siapapun. Termasuk pembantu keparat itu!
Diana pun langsung pergi dari kediaman Elder, beberapa saat setelah Elder pergi ke kantor untuk bekerja.
...☆TBC☆...
Bang El pusing ya?
Coba lenyapin itu Diana, pasti pusingnya ilang 😆
Sajen sajen. Kuy di tebar sebelum bab selanjutnya meluncur dengan syantik 💋💋
__ADS_1