
Setelah berkendara lebih dari 20 menit, mobil bertuliskan Rubicon itu berhenti di depan IGD rumah sakit terdekat. Jared turun lebih dulu, meminta perawat membawakan brankar.
Namun belum sempat perawat datang, Elder sudah lebih dulu membopong tubuh Beyza. Sambil mempercepat langkahnya, ia masuk ke dalam. Lalu menurunkan Beyza di atas brankar dengan hati-hati.
"Dokter! Dokter!"
Seorang perawat datang lebih dulu, bertanya tentang keadaan pasien. Belum sempat Elder menjawab, seorang pria berjas putih datang mendekat dan langsung melakukan pemeriksaan.
Bersamaan dengan itu, Jared yang mengikuti dari belakang, langsung menepuk pundak Elder
"Tenanglah! Temanku akan melakukan yang terbaik," ucap Jared berusaha menenangkan Elder.
Dia mengangguk dengan cepat. Namun meski begitu, kata-kata Jared tidak bisa membuat gemetar di tangannya berhenti. Juga, wajah pucatnya yang berangsur membaik.
Melihat Elder panik, Jared buru-buru meminta perawat untuk mengambilkan obat penenang dan segelas air putih.
Benar saja, beberapa menit setelah Elder meminum obat, keadaannya berlangsung membaik. Rona di wajahnya telah kembali, begitu juga tremor yang sempat menyerangnya.
"Sementara tidak ada yang serius, tapi dia masih perlu melakukan skrining lanjutan," jelas dokter pada Elder dan Jared yang masih berdiri di samping brankar.
__ADS_1
"Benar tidak ada masalah?" tanya Elder.
"Untuk saat ini. Lebih pastinya, kita perlu menunggu pasien untuk sadar terlebih dahulu."
Lagi-lagi Elder terdiam. Pandangannya terfokus pada Beyza yang tergeletak di atas brankar, dengan selang oksigen di hidungnya.
"Kami mengerti. Terima kasih banyak, Vin!" jawab Jared sambil mengajak teman sejawatnya itu menjauh dari Elder dan Beyza. Seakan memberikan ruang bagi mereka berdua untuk beberapa saat.
Ya, hanya beberapa menit saja. Dan ketika Jared kembali, manik mata Elder masih belum lepas dari Beyza.
"Syukurlah, dia masih hidup," ucap Jared tiba-tiba, mencoba mengalihkan pandangan serta pikiran Elder.
Namun semua itu tidak berguna. Tatapan Elder masih tertuju pada Beyza. Bahkan bola matanya sama sekali tidak bergeser sedikitpun. Sampai, satu pertanyaan dari Jared membuatnya menoleh.
Jared melihat dua bola mata Elder yang membesar, bersamaan dengan raut wajahnya yang berubah sedikit tegang. Dari situlah, Jared menyimpulkan alasan dari gelagat Elder.
"Jadi …." Jared tiba-tiba menjadi ragu saat ingin membahas tentang kematian Emely.
"Dua duanya. Aku takut, orang yang berharga mati di depanku, lagi."
__ADS_1
Betapa terkejutnya Jared, saat Elder menjawab pertanyaan yang sebenarnya asal ia tanyakan. Tentang hal yang sedikit berhubungan dengan luka masa lalunya.
Elder pun tertunduk setelah mengatakan itu, hela napas panjang beberapa kali terdengar di telinga Jared. Membuatnya sedikit menaruh rasa khawatir.
"Aku akan pergi mengurus administrasi, agar dia bisa segera mendapatkan kamar," ucap Jared, lalu pergi meninggalkan Elder.
Pria itu masih berdiri di tempat yang sama. Tanpa bicara, tanpa bergerak. Hanya berkedip, dengan sorot mata yang tidak teralihkan sedikitpun dari Beyza. Bahkan sampai Jared kembali, dia masih berada di posisi yang sama.
"Perawat akan memindahkannya sebentar lagi. Duduklah dulu!" Jared terlihat mengkhawatirkan sahabatnya itu, tetapi Elder justru mengabaikan ucapan Jared.
"Kau sudah berdiri selama satu setengah jam, Elder. Duduklah!" pinta Jared dengan nada sedikit meninggi, lantaran kesal dengan keras kepala sahabat baiknya itu.
"Nanti saja setelah dia dipindahkan!"
Begitulah jawaban dari Elder. Pria keras kepala itu masih tetap berdiri, sampai perawat datang dan memindahkan Beyza ke kamar rawat. Barulah ia duduk, itu pun, tidak jauh dari tempat gadis itu berbaring.
...☆TBC☆...
__ADS_1
Maapin ye guys. Agak telat hari ini.
Besok up agak pagian 💋💋