
Beyza masih terdiam, mencerna setiap perkataan Aishe yang sarat akan makna. Hingga akhirnya ia terpikirkan tentang perbuatan Bedia padanya. Hidup lebih baik, setidaknya itu yang harus dia pikirkan.
“Beyza. Aku hanya memberimu satu kesempatan, selebihnya adalah urusan takdir dengan dirimu, bukan lagi denganku.”
Sebelum bangkit berdiri, Aishe sempat penyeruput caynya hingga tersisa sedikit. Lalu ia mengambil tas dan bangkit berdiri.
“Lanjut atau berhenti. Pilihan ada di tanganmu.”
Begitulah akhir dari kata-kata Aishe sebelum ia pergi meninggalkan Beyza yang masih diam. Perkataan Aishe tentu menjadi problema lain di pikirannya. Sampai saat Aishe hampir meninggalkan ruangan, Beyza buru-buru bangkit berdiri dan berlari mengejar Aishe.
“Nyonya,” panggilnya saat jarak diantara mereka hanya tinggal beberapa langkah. “Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih untuk kesempatan yang Anda berikan. Saya … tidak akan mengecewakan Anda.
Aishe memang sempat berhenti saat gadis muda penuh gelora itu memanggilnya. Namun ia hanya menghentikan langkahnya saja, tidak berbalik menatap Beyza.
Meski begitu, Aishe bisa membayangkan semangat gadis itu hanya dengan mendengar suaranya saja. Semangat yang mengingatkan akan masa mudanya dulu, juga, yang membuat Aishe tersenyum puas.
Untuk menghargai semangat Beyza, Aishe pun mengangkat jempolnya tanpa berkata apapun. Lalu pergi meninggalkan Beyza. Rere yang melihat Aishe pergi, langsung buru-buru menghampiri Beyza
“Bagaimana? Sudah lega?” tanyanya, ingin memastikan bahwa Beyza tidak lagi menolak job dari klien besar.
Harus dia akui. Sejak Lee menyerahkan Beyza padanya, dia sudah menyukai semangat. Tidak peduli dari mana dan seperti apa Beyza sebelumnya, dukungan besar yang dia dapatkan tidak membuatnya menjadi angkuh, adalah hal yang paling Rere suka.
Ya benar, sejauh ini Rere menjadi manajer artis atau aktor baru yang memiliki koneksi, baru kali ini dia mendapatkan sosok ramah dan sopan. Bahkan Beyza lebih segan padanya.
“Ayo kembali.” Dengan seulas senyum lega yang bercampur kebahagiaan, Beyza menoleh menatap Rere.
“Kita hanya punya dua hari untuk bersantai, selanjutnya … kita tidak akan libur!”
Tawa bahagianya pecah. Problematik dalam pikirannya telah terurai, dan kini, dia bisa mengatur hidup sesukanya. Rere yang mendengar tawanya pun ikut bahagia. Bagaimana pun, dia berharap banyak agar Beyza tetap dalam industri ini.
__ADS_1
Mereka pun kembali dengan rasa bahagia. Rere bahkan langsung menghubungi presdirnya untuk memberi kabar baik ini. Namun karena dia sibuk mengemudi, Beyza mengambil alih.
“Maaf Presdir. Rere sedang sibuk mengemudi. Kami akan kembali secepat mungkin untuk tanda tangan kontrak.”
Begitulah yang Beyza katakan. Begitu bahagianya dia, sampai rasa takut pada presdirnya pun menghilang. Dia bahkan menutup telepon sebelum Lee memberikan jawaban.
“Kau bahagia sampai lupa kalau dia presdir!” protes Rere, tapi tak di hiraukan sama sekali oleh Beyza.
Terlampau bahagia, mungkin.
Perasaan mengganjal yang dia rasakan sejak dulu, seakan lenyap hanya dengan satu perkataan dari Aishe. Takdir, ternyata adalah jawaban yang membuatnya terlepas dari segala beban.
Rantai yang selama ini mengikat dirinya, hingga membuatnya sesak, kini telah terlepas. Dia telah bebas, itulah yang membuat Beyza dengan santai membuka kaca jendela dan menghirup angin sepoi-sepoi.
"Stop, stop! Hentikan mobilnya!"
Buru-buru Rere menekan pedal rem sambil menepikan mobilnya. Perintah dari Beyza yang tiba-tiba, tentu membuat Rere kesal. Namun belum sempat dia protes, Beyza sudah lebih dulu turun dari mobil, lalu berlari.
Tidak perlu bertanya, Rere yang melihat mobil sedan hitam dari pabrikan Audi itu sudah bisa menebak. Teringat mobil itu dia lihat di tempat parkir Royal Garden tadi.
Beyza mengetuk kaca mobil penumpang bagian belakang, hingga Aishe menurunkan kacanya.
"Apa yang terjadi, Nyonya?" tanya Beyza penasaran.
"Sepertinya mogok."
"Anda pasti buru-buru. Apa berkenan bertukar mobil? Biar saya yang menunggu mobil Anda disini."
__ADS_1
Aishe sempat melihat jam di ponselnya, sebelum akhirnya dia setuju. Sedikit terpaksa memang, karena dia hanya punya waktu 1 jam sebelum pesawatnya menuju London berangkat. Tidak mungkin baginya menunggu mobil pengganti di tengah jalanan kota yang macet.
"Maaf, aku gegabah dan tidak meminta izin padamu lebih dulu," ucap Beyza pada Rere usai melihat mobil sang manajer dibawa pergi.
"Tidak masalah. Bisa membantu seorang Nyonya Gulbar, aku sungguh tidak keberatan sama sekali."
Rere terlihat senang, tidak ada raut keberatan seperti yang dia ucapkan. Meski tahu bahwa ia harus menunggu entah sampai kapan.
Disisi lain, Aishe yang sudah berpindah mobil, terlihat sedang menerima telpon dari suami tercintanya, Diego.
"Beyza? Wanita yang membantu Elder?" Suara berat Diego terdengar jelas dari balik telepon.
"E'em itu dia. Mungkin dia melihat mobilku saat melintas, beruntungnya kami searah."
"Ya, jika tidak, mungkin aku harus menahan diri selama di pesawat."
Aishe terkekeh pelan, usai mendengar godaan dari sang suami. Tiga puluh tahun lebih mereka bersama, nyatanya tak membuat keadaan berubah. Sesekali dia masih suka menggoda istrinya, begitu juga sebaliknya.
Hubungan seperti mereka, bagian mana yang tidak membuat iri? Bahkan ketiga anak mereka pernah iri melihat kemesraan kedua orang tuanya.
Dari balik telepon, Diego dapat mendengar jelas suara tawa sang istri. Tawa yang selalu membuat hatinya nyaman dalam hal apapun. Sampai ….
Suara dentuman terdengar, sangat keras, hingga Diego kaget dan tidak sengaja menjatuhkan ponselnya. Buru-buru ia mengambil ponselnya yang jatuh, dan memastikan keadaan istrinya.
"Ishe! Ishe! Ada apa denganmu!"
...☆TBC☆...
__ADS_1