
Royal Garden, sebuah cafe sederhana yang memiliki 3 lantai. Meski sederhana, cafe ini mempunyai pemandangan Selat Bosphorus yang cukup indah. Selain itu, disini juga menyediakan makanan dan kudapan khas Turki yang memiliki cita rasa otentik.
Dua keunggulannya itu, tentu saja berhasil menarik wisatawan lokal maupun asing. Sama seperti Aishe, yang sering menyewa satu cafe untuk menikmati kudapan dan cay, sambil melihat pemandangan. Atau mendatangkan koki mereka ke Villa Luxury untuk memasak beberapa hidangan.
"Sementara, ini beberapa daftar yang belum bisa kami dapatkan," ujar seorang wanita muda berambut hitam legam sambil menyodorkan berkas pada Aishe.
"Sudah ku tebak, bunga-bunga dari Asia memang sukar di impor." Dua sudut bibir Aishe terangkat, seolah memaklumi kinerja stafnya yang kesusahan mendapatkan bunga dari Asia.
"Minta bantuan Franc dan cari tau cara budidayanya. Jika tidak bisa impor, maka kita akan menanamnya disini."
Terdengar mustahil memang. Namun gadis berambut hitam yang kerap dipanggil Nei itu tidak bisa membantah. Bukan karena itu adalah perintah dari Nyonya Gulbar, tapi karena dia percaya pada Aishe dan Franc, yang kemungkinan bisa melakukan apapun, termasuk urusan yang satu itu.
"Baik. Untuk perkembangannya, saya akan melaporkannya setiap waktu." Nei menunduk, menatap uap Cay di cangkir masih mengepul, padahal sudah beberapa menit Cay itu disajikan.
Apa itu masih panas? Mungkin. Namun pikiran untuk menyeruput Cay mendadak lenyap. Entah mengapa Nei justru terpikirkan hal lain saat melihat uap Cay.
"Nyonya." Nai menengadah, menatap wajah Aishe yang masih cantik meski usianya lebih dari setengah abad. "Berapa lama Anda berada di London?"
Aishe hendak membuka mulut, tapi keributan di pintu masuk membuat sorot matanya berpindah dalam sekejap. Dari tempat ia duduk, Aishe bisa mendengar suara dari dua orang wanita dan juga seorang pria sedang berdebat di pintu masuk
"Benar, saya hanya ingin bertemu dengan Nyonya Gulbar."
"Maaf, Nona. Tempat ini sudah disewa. Anda tidak bisa masuk."
__ADS_1
"Baik, baik. Setidaknya sampaikan pesanku pada nyonya."
"Saya tidak bisa, Nona. Maaf, tapi Anda harus pergi segera."
Suara samar yang terdengar familiar, membuat Aishe beranjak dari tempatnya duduk. Lalu berjalan ke sumber suara untuk melihat siapa yang sedang mencarinya. Bahkan tahu tempat ia membuat janji temu dengan Nei.
Sosok wanita bertubuh tinggi semampai yang pertama kali ia lihat, membuatnya langsung menurunkan perintah “Biarkan dia masuk. Aku mengenalnya.”
Pria itu lantas menyingkir dan membiarkan Beyza serta Rere masuk ke dalam. Namun, Rere hanya mengantar Beyza hingga masuk saja, dan lebih memilih duduk di sudut sambil menunggu mereka.
“Apa yang membuatmu datang kemari, Beyza?”
“Maap, Nyonya. Presdir Lee memberitahu bahwa Anda disini, tidak tahu jika Anda sedang bertemu dengan seseorang,” jawab Beyza saat melihat Nei duduk di dekat jendela menatap heran ke arahnya. “Jika Anda sibuk, saya tidak akan mengganggu.”
“Nei, kamu sudah bisa kembali. Jangan lupa untuk mengabariku.”
Entah mengapa, melihat wajah cantik Nei yang berpadu dengan rambut hitam legamnya, membuat pikiran Beyza berkecamuk. Ada rasa was-was samar, tapi ia langsung menepisnya.
Aishe mempersilahkan Beyza untuk duduk, menggantikan posisi Nei yang sudah berpamitan pergi. Rasa hangat langsung menyapa Beyza begitu ia duduk. Entah sudah berapa lama Nei duduk disana, hingga meninggalkan rasa hangat yang menembus celana jeans Beyza.
“Katakan, apa yang membuatmu jauh-jauh kemari.” Beyza mengambil cangkir cay, lalu meneguknya sedikit.
“Sebelumnya saya minta maaf karena sudah -”
Belum sempat Beyza meneruskan kalimatnya, Aishe sudah lebih dulu mencekal pembicaraan. “Tidak perlu terlalu sopan. Langsung saja ke intinya.”
__ADS_1
Mulut yang semula menganga, langsung tertutup usai mendengar perintah Aishe. Beyza sempat menelan salivanya, sebelum akhirnya ia melanjutkan hal yang ingin ia pastikan.
“Sebenarnya, beberapa hari ini saya memikirkan sesuatu.”
Aishe terlihat santai mendengarkan perkataan Beyza. Dia bahkan sempat mencicipi sepotong strawberry berwarna merah merona.
“Nama Nona Diana sudah redup, bahkan perlahan lenyap seiring berita buruk tentangnya masih menjadi perbincangan. Presdir Lee sempat marah lantaran saya menolak beberapa brand besar.”
Aishe menghela napas kasar. Meski ia bersikap santai, tapi wanita paruh baya itu mendengarkan perkataan Beyza dengan seksama.
“Kamu mengira balas dendam sudah selesai?” Aishe menatap lurus lawan bicaranya. Garis matanya terlihat tegas, meski ekspresi di wajahnya terlihat santai.
“Memang benar, urusan kita pada Diana telah selesai, tapi kamu melupakan sesuatu, Beyza.”
Dua manik mata Beyza membulat. Mencoba berpikir bagian mana yang ia lewatkan, hingga Nyonya Gulbar mengatakan demikian?
“Kamu melupakan takdir.”
...☆TBC☆...
Kangen neng Ishe. Angep aja suntik filler dan botox, makannya awet muda 😅
Jempol jangan lupa, next bab meluncur ...
__ADS_1