
Apa perkataan nyonya tentang Tuan Elder benar adanya?
Beyza terlihat memikirkan perkataan Aishe, tetapi bukan tentang balas dendam, melainkan hal lain. Begitu serius mereka berbicara, sampai suara pintu terbuka pun, tidak disadari.
"Ibu?"
Suara berat dari Elder terdengar jelas, membuat keduanya kompak menoleh ke arah pintu.
"Apa yang ibu lakukan pagi-pagi begini?" tanya Elder berjalan mendekati sang ibu.
Aishe bangkit dari kursinya perlahan, sambil berkata, "Kenapa memangnya? Aku hanya ingin bertemu dengan salah satu anakku yang sangat susah sekali dihubungi!"
Dua mata Elder membulat penuh. Sudah jelas bisa ia tebak dengan mudah, siapa yang dibicarakan sang ibu. Mengingat kemarin ia sempat mengabaikan beberapa panggilan dari ibu dan adik perempuannya.
Tidak perlu bertanya, dari mana sang ibu tahu keadaan di rumahnya. Selain para pembantu yang memberi tahu, siapa lagi jika bukan Jared?
"Aku hanya tidak ingin membuat ibu dan yang lainnya cemas," jelas Elder.
"Baiklah! Anggap saja begitu, karena kamu memang selalu seperti itu," jawab Aishe terdengar santai sambil berjalan keluar.
Ya, setiap kata yang ia ucapkan memang terdengar begitu santai. Namun ketika masuk ke dalam telinga Elder, perkataan itu seperti sebilah pedang tanpa mata dan hanya memiliki ujung yang lancip.
Buru-buru Elder mengejar sang ibu yang ingin membuka pintu.
"Ibu, tidak begitu. Aku –"
__ADS_1
Mendengar suara anak pertamanya, Aishe lantas menoleh. Menatap wajah Elder untuk beberapa saat, sebelum ia mencekal kalimat putranya.
"Kenapa? Apa kamu sudah ingin berbicara dengan ibu?"
Elder menunduk. Pikirannya melayang, teringat akan ucapan Zavier dan juga Jared. Semua tidak lepas dari kejadian yang membuatnya larut dalam trauma mendalam.
Perlahan ia menegakkan kepalanya, menatap wajah sang ibu yang selalu memandangnya dengan ekspresi teduh. Bahkan ketika sang adik meninggal, tatapan ibunya masih sama.
Tidak ada gurat kebencian meski hanya samar. Aishe, tetap memandangnya dengan lembut. Tatapan lembut, sama seperti dulu ketika keluarganya masih lengkap.
"Apa, aku boleh?" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca, tetapi coba ia tahan agar tidak menetes dan terlihat oleh Beyza.
Seulas senyum Aishe tergambar. Meski tidak terlalu tinggi, tetapi senyum itu bisa terlihat di mata Elder.
"Dasar anak bodoh," umpatnya sambil menepuk lengan sang putra. Lalu menoleh menatap ke arah Guzel.
Mendengar hal itu, Bezya tentu saja merasa tidak enak. Semua itu jelas tergambar pada gelagatnya yang kebingungan harus menjawab apa.
"Ibu! Kenapa perlu izin darinya? Ayo kita bicara!"
Tanpa menunggu jawaban dari Beyza, Elder sudah lebih dulu menggandeng tangan Aishe. Dengan perlahan ia membawa sang ibu naik ke rooftop agar bisa berbicara dengan leluasa.
Dua pria berbadan kekar juga turut mengikuti langkah keduanya. Naik menggunakan lift, hingga sampai ke lantai paling atas.
"Aku ingin berbicara dengan anakku. Tolong jaga pintu ini sebentar," pinta Aishe pada kedua pria gagah yang diutus oleh Diego untuk melindungi istrinya.
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
Langit terlihat sangat cerah pada saat mereka sampai di rooftop. Awan biru dengan gumpalan awan putih yang membumbung. Serta semilir angin yang berhembus perlahan.
Sejuk, sangat sejuk untuk memulai percakapan ringan di antara dua orang yang memiliki hubungan ibu dan anak. Percakapan dari hati ke hati, yang sudah lama tidak terjadi usai kecelakaan Emely beberapa waktu silam.
"Apa ibu kedinginan?" tanya Elder membantu ibunya duduk di sebuah kursi.
"Oh, kamu bisa mengkhawatirkan ibu sekarang?" goda Aishe dengan seulas senyum, yang pada akhirnya membuat Elder juga tersenyum malu.
Dua orang saling menatap satu sama lain. Seolah sedang mengingat kisah masa lalu. Tentang sebuah hubungan yang dulunya sangat hangat, tetapi perlahan menjadi dingin tanpa di sadari.
Benar, Elder yang dulu terlihat sangat hangat, seperti sifat sang ibu. Namun setelah kepergian Emely, sifat dingin sang ayah mulai tumbuh dan mendominasi segalanya.
Dia menjadi penyendiri, engan bercerita tentang semua hal yang terjadi padanya. Bahkan menolak menjadi ahli waris dan rela membangun bisnisnya sendiri. Membujuk para infestor dengan caranya, tanpa membawa nama Gulbar yang sudah besar sejak dulu.
"Ibu … maaf."
...☆TBC☆...
Setelah bergelut dengan Vertigo 🥲 akhirnya bisa up.
__ADS_1
Bab selanjutnya sedang di usahakan malam ini juga. Telat² paling subuh besok 🤭
Sajen jangan lupa ya guys. Biar semangat 😌