
Raut wajah Beyza berubah kecut kala mendengar kata 'pernikahan' yang keluar dari mulut Diana. Memang benar, semalam dia mendengar tuan mudanya bertunangan. Yah, bertunangan saja, bukan menikah.
Hati yang sejak semalam terasa ditusuk oleh anak panah tajam dan terasa membaik pagi ini. Tiba-tiba terasa begitu menyakitkan, sangat sakit hingga ia kesulitan menarik napas panjang.
"Hei! Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak tahu kalau aku ini tunangan majikanmu?" cerca Diana terdengar begitu ketus.
"Ma-maaf, Nona. Saya … untuk hal ini tidak –"
"Kamu keberatan mematuhi calon istri majikanmu? Apakah begini attitude pekerja rumah tangga keluarga Gulbar?"
Beyza tidak mampu melawan, apa lagi menolak tanpa perintah dari Rubby atau Elder. Terlebih, Diana sudah memperkenalkan dirinya sebagai tunangan dari sang majikan.
"Ba-baiklah. Saya akan bersiap terlebih dahulu," ucap Beyza yang hanya bisa pasrah menerima keadaan.
"Tidak perlu! Kau membuang banyak waktuku, langsung pergi saja!" tegas Diana.
Lagi dan lagi. Beyza yang hanya seorang maid hanya bisa menurut tanpa bisa protes. Dia bahkan sempat menatap wajah Rea ketika melangkah pergi mengikuti Diana.
Mobil jenis sedan dengan logo Audi berwarna putih, yang dikendarai asisten Diana mulai melaju. Meninggalkan rumah Elder, dan berjalan menuju sebuah butik yang berada 8 kilometer dari rumah.
Sebuah papan nama dengan lampu led bertuliskan Arzu Kaprol, terpampang cantik di atas sebuah bangunan 3 lantai. Desain putih dengan list hitam di rangka pintu dan jendela, membuat butik itu terlihat menonjol di antara yang lain.
Seorang staf wanita tersenyum dan menyapa mereka begitu ramahnya. Sangat ramah hingga membuat Beyza sempat tertegun sejenak.
"Aku ingin membuat gaun pernikahan," ucap Diana langsung ke intinya, tanpa basa basi.
"Apa Anda sudah membuat janji sebelumnya?" tanya staf dengan nada ramah.
Diana terlihat kebingungan. Dua bola matanya berputar searah dengan jarum jam, diikuti dengan jemari yang bergelatuk di paha. Tidak mau terlihat bodoh di depan Bezya, ia pun mencoba menggertak staf
"Kamu tidak tau siapa aku?" bentaknya kasar, yang kemudian membuat sang asisten menyenggol lengannya.
__ADS_1
Diana jelas paham maksud dari sang asisten. Hanya saja, dia tidak ingin peduli tentang Image untuk saat ini. Kecemburuannya pada Beyza sudah membutakan hati dan pikirannya dalam sekejap.
"Maaf, Nona. Jika Anda sudah membuat janji, Anda pasti tahu jika Nona Azru sedang libur selama dua hari," jelasnya masih bersikap ramah.
Namun Diana masih tidak mau terlihat bodoh. Dia pun melenggang masuk dan langsung duduk di kursi. Tingkah Diana tentu saja membuat beberapa staf terkejut. Sampai akhirnya, seorang manajer mendatanginya.
Belum sempat mager itu berbicara sepatah kata, Diana sudah lebih dulu menyodorkan kartu anggota VIP yang dikeluarkan langsung oleh sang desainer.
"Ini sudah cukup untuk membuatku duduk disini kan?" ucap Diana melirik tajam ke arah manajer.
Wanita paruh baya berusia 40 tahun itu tidak bisa berkutik ketika melihat kartu anggota yang disodorkan Diana. Pada akhirnya, hanya permintaan maaf yang bisa ia sampaikan dengan sopan.
"Lupakan itu. Jika nona Azru tidak ada, cukup ambilkan baju yang aku pesan dua bulan lalu!" pintanya masih dengan nada angkuh.
"Atas nama siapa, Nona?"
"Diana Elvigro!" jawabnya. "Oh, bawakan juga baju terbaru kalian, aku ingin melihatnya juga!"
Dua orang staf terlihat sibuk mengambil beberapa koleksi baju terbaru. Sedangkan salah seorang dari mereka menyiapkan teh dan kudapan. Namun ketika teh dan kudapan disajikan, Diana justru meminta sesuatu yang lain.
"Aku tidak ingin minum teh!" ketusnya.
"Beyza, pergi belikan aku kopi!" pinta Diana sambil mengeluarkan selembar uang.
"Aku tidak mau espresso, tapi cold brew dengan cramer dan extrak vanila!"
Mendapat perintah demikian, Beyza tentu saja terbengong. Ingin menolak, tapi semua orang sedang menatap dirinya.
Yah, dia pun hanya pasrah ketika Diana menyodorkan selembar uang dan menyuruhnya membeli sebuah kopi. Beruntungnya, staf memberitahu lokasi coffee shop terdekat yang hanya berbeda satu blok dengan butik.
Buru-buru dia pergi menuju coffee shop terdekat. Memesan segelas kopi sesuai permintaan dari wanita yang telah menjadi tunangan dari sang majikan.
__ADS_1
Namun karena lokasinya sedikit jauh. Sekitar 800 meter dan harus jalan kaki, Beyza membutuhkan setidaknya satu jam untuk pergi, menunggu pesanan, dan akhirnya kembali.
Akan tetapi, begitu ia kembali ke butik, Diana dan asistennya sudah tidak ada di tempat. Begitu juga mobil sedan yang mereka naiki, sudah tidak terlihat parkir di seberang jalan.
"Maaf, Nona," sapa seorang staf sambil menenteng dua paper bag besar di kedua tangannya.
"Nona tadi berpesan untuk menitipkan ini pada Anda. Dia bilang, ada pemotretan mendadak, jadi mereka tidak bisa menunggu sampai Anda kembali," jelas staff itu dengan ramah.
"Oh, mereka juga bilang, menyesal tidak bisa menghubungi karena ponsel Anda tertinggal."
Setiap kalimat yang diucapkan oleh staf, terdengar begitu sopan sampai di telinga Beyza. Meski pada kenyataannya, perkataan itu bagai sebilah pedang tanpa mata.
Sambil memasang senyum palsu, ia mengambil dua paper bag, lalu pergi dari sana. Kakinya melangkah dengan asal, entah kemana dua kakinya membawa tubuhnya pergi.
Ponselnya tertinggal?
Bukankah itu memang sengaja?
Tidak membiarkan aku bersiap, bahkan untuk sekedar mengambil dompet dan ponsel.
...☆TBC☆...
Tenang guys, karma itu di belakang. Soalnya kalau di depan namanya kurma 😆
☻️ Apaan sih, thor. Receh bgt lu 😭😭
Dahlah, sajennya jangan lupa di tebar.
Kopi, vote, kembang, like. 💋💋
__ADS_1