
Mentari bersinar cukup gagah pada saat itu. Suhu yang semula berada di angka 27 derajat, perlahan naik hingga mencapai angka 29 derajat. Sedikit terik memang, tetapi angin yang berhembus semilir, membuat udara di sekitar sedikit sejuk.
Beyza masih menatap Aishe. Lengkap dengan raut wajah penasarannya. Di dalam hatinya hanya ada 1 pertanyaan yang tidak bisa ia temukan jawabannya.
Kenapa?
Benar, satu pertanyaan yang mungkin membutuhkan sebuah penjelasan panjang. Serta masalah baru untuk diulas bersama. Namun Aishe dengan sikap tenangnya, mulai menjelaskan.
"Dengar Beyza. Sejak dulu, aku tidak pernah membatasi pergaulan anak-anakku. Masalah percintaan mereka, dengan siapa itu, aku tidak pernah memberikan mereka standar." Aishe mencoba membuka topik pembicaraan.
"Tapi satu hal yang tidak aku suka, adalah merusak keharmonisan keluarga dalam bentuk apapun. Aku tidak suka mereka yang mempunyai rencana buruk terhadap keluarga Gulbar. Hanya itu."
Beyza masih diam, menatap Aishe dengan raut wajah kebingungan. Tentu karena dia masih belum bisa mencerna perkataan Aishe, masih belum paham, kemana arah pembicaraan mereka. Sampai, Aishe mengatakan sesuatu.
"Aku tebak, kamu masih belum tahu maksudku. Jadi, biarkan aku memberitahu. Bahwa aku sudah mengetahui kontrak perjanjian kalian!"
Kalimat yang diucapkan Aishe terdengar sangat ringan masuk ke dalam telinga. Namun begitu masuk, kalimat itu langsung memukul gendang telinganya dengan keras. Hingga membuat degup jantungnya terhenti sesaat.
Kedua matanya membelalak, pupilnya membesar tanpa dia sadari. Terkejut? Sudah pasti. Namun Aishe dengan cepat menenangkannya.
"Jangan khawatir. Seperti yang aku bilang, aku tidak pernah membatasi hubungan percintaan amak-anakku," terangnya dengan di akhiri seulas senyum.
Seulas senyum yang sangat menawan. Bahkan Beyza yang melihat nyonya besarnya tersenyum pun langsung tercengang. Diam, memandangi wajah yang sangat cantik nan rupawan itu.
Sampai seperkian detik kemudian, ia menyadari adanya sebuah kesalah pahaman. Tentang kata 'percintaan' yang disebutkan Aishe.
"Ti-tidak! Tidak, Nyonya. Bukan seperti itu, saya hanya …."
__ADS_1
Beyza menjadi gugup, takut dirinya keceplosan membahas tentang phobia Elder. Namun sebelum ia selesai berpikir, Aishe lebih dulu menyelanya.
"Aku juga sudah tau phobia anak itu," ucap Aishe dengan santainya.
"A-anda sudah tahu?"
Entah mengapa, pertanyaan ini keluar dari mulut Beyza. Dia bukan bermaksud meragukan ucapan nyonya besar, tetapi ia perlu memastikan bahwa pendengarannya berfungsi dengan baik.
Benar. Semua karena sikap Aishe yang terlihat santai. Bahkan ketika ia tahu anak pertamanya terlibat perjanjian dengan alasan yang cukup konyol.
Aishe hanya menatap Beyza dengan tenang. Sorot matanya yang teduh seakan memperjelas semuanya, meski ia tidak mengulangi perkataannya lagi.
"Kecemburuan dan gengsi, menjadi alasan Diana menyakitimu. Apa kamu tahu Beyza, dari siapa aku tahu perjanjianmu dengan anakku?"
Beyza mengeleng pelan. Sebenarnya ada satu tebakan yang ia pikirkan, tetapi gadis itu lebih memilih untuk diam.
"Diana. Aku menemukan foto perjanjian itu di ponselnya."
"Apa akar dari semua masalah yang baru-baru ini terjadi adalah perjanjian itu?" tanya Diana berusaha mencari sebuah jawaban.
"Kamu menebaknya dengan baik ya?" Aishe tiba-tiba tersenyum sambil menatap Beyza. Lalu mengambil cay dan menyeruputnya kembali.
Merasa bersalah, Beyza hanya bisa menunduk. Memikirkan bahwa dirinya adalah dalang dari semua masalah di keluarga Gulbar.
"Maaf. Saya minta maaf, Nyonya," ucap Beyza lirih, terdengar penuh sesal.
"Seharusnya saya tetap menolak permintaan Tuan Elder. Seharusnya saya tidak datang lagi malam itu. Saya minta maaf, Nyonya."
__ADS_1
Perkataan yang keluar dari bibir Beyza, terdengar sedikit pilu. Ada penyesalan, yang bercampur dengan kesedihan. Namun, ia menahannya dengan kuat agar kesedihan itu tidak terlihat.
Akan tetapi dia tidak tahu, betapa pekanya nyonya besar. Meski Beyza menyembunyikan kesedihannya dengan sangat baik.
"Kalau begitu, tebus kesalahanmu!" tegas Aishe.
Seketika, Beyza menegakkan kembali kepalanya. Memandang Aishe dengan wajah heran, lantaran belum mengerti apa yang coba diucapkan.
Apa? Apa yang coba nyonya sampaikan?
Apakah aku akan dipecat?
Tidak, aku masih perlu pekerjaan ini.
"Nyonya, saya akan mengembalikan semua uang dari Tuan Elder. Saya akan menebus kesalahan saya. Tolong jangan pecat saya," mohon Beyza dengan mata yang berkaca-kaca.
Tiba-tiba, senyum Aishe mengembang. Mengigat bagaimana perjanjian hidup dan mati yang dia ikat dengan Diego. Demi balas dendam, dia rela melakukan apapun.
Mungkin, ini berbeda kasus dengan Beyza yang hanya membantu Elder meredakan phobianya. Namun, perjanjian itu berhasil membuatnya teringat kenangan masa lalu yang terbilang cukup indah.
"Tidak! Itu sudah menjadi milikmu sejak perjanjian itu dibuat. Aku juga tidak akan memecatmu, Beyza. Tenang saja!" terang Aishe dengan suara lembut.
"Tapi, bagaimana caranya saya menebusnya, Nyonya?"
Senyum Aishe memgembang lagi. Kali ini cukup lebar dari sebelumnya. Wajah puas pun terpancar dengan sangat jelas, seperti baru saja memenangan sebuah lotre.
...☆TBC☆...
__ADS_1
Beyza masuk jebakan Momy Ishe nih keknya 🤭
Koreksi kalau nemu typo ye guys. 3 hari ini ujan pagi-pagi, sinyal suka kabur-kaburan 😪