
"Maaf, Die. Aku sudah gagal."
Begitulah kalimat pertama yang Aishe ucapkan ketika mereka baru saja masuk ke dalam mobil. Sejak mereka berdua pergi dari lantai teratas rumah sakit, Aishe tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Untuk apa? Kamu sudah menjadi ibu yang terbaik bagi mereka," jawab Diego meraih tangan sang istri.
"Kamu sudah berusaha sebaik mungkin memahami karakter mereka."
Tangan besar Diego terulur, menyibak rambut Aishe yang terurai ke belakang telinga. Seulas senyumnya merekah, seakan sengaja memamerkan garis keriput di sekitar matanya.
Namun percayalah, umur hanyalah angka-angka belaka di hadapan mereka berdua. Keduanya masih sama-sama cantik dan tampan. Hanya saja, kulit mereka mulai berkeriput sedikit.
"Kamu sudah menjadi ibu dan istri yang terbaik, Sayang. Terima kasih, sudah berusaha keras memahami kami semua."
Diego masih berusaha meyakinkan sang istri, bahwa dia sudah menjadi ibu yang luar biasa untuk anak-anaknya. Namun, itu masih belum merubah sudut bibir Aishe yang masih datar.
"Tapi aku sudah gagal memahami salah satu anakku. Aku pikir dia hanya merasa bersalah atas kepergian adiknya. Tapi kenyataannya …."
Tenggorokan Aishe seakan tercekat, ketika ingin meneruskan kalimatnya. Rasa sesal yang diawali dengan sedikit keegoisan, kini menyeruak setelah beberapa tahun ia pendam dalam ketidak tahuan.
Diego buru-buru mendekap sang istri. Sekali lagi meyakinkan jika dirinya tidak sepenuhnya salah dalam hal ini.
"Seharusnya aku mendengarkanmu. Seharusnya aku memaksa dia untuk tetap menjadi pewaris BIN. Seharusnya aku …."
"Ishe, tenanglah! Tenangkan dirimu!" pinta Diego sambil menenangkan Aishe yang terisak dalam pelukannya.
"Tidak sepenuhnya keputusanmu salah. Kamu paling tahu, Elder adalah anak keras kepala, sama seperti ayahnya. Jika dulu kamu juga menentangnya sama sepertiku, apa menurutmu dia akan patuh dan mengatakan hal yang membuatnya melakukan itu?" terang Diego berusaha memberikan variabel pada istrinya.
"Dia sangat mencintai ibunya. Dia juga yang akan sangat marah ketika ibunya menangis. Kamu jelas tahu ini dengan baik saat Emmine memberikan kabar kehamilannya bukan?" Diego masih berusaha meyakinkan Aishe.
__ADS_1
"Kamu sangat bahagia hingga menangis dan apa yang terjadi ketika anak kecil itu tahu kau menangis karena Emmine? Dia langsung menghubunginya dan memakinya."
Aishe terdiam, isak tangisnya berhenti. Pikirannya pun melayang, mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Benar, itu adalah saat Aishe meminta maaf pada Rehan dan Emmine atas makian putranya yang baru berumur 10 tahun.
"Kita mungkin terlambat menyadari hal ini. Namun setidaknya, anak itu sudah mau mengatakan hal yang sebenarnya tanpa dipaksa oleh siapapun. Bukankah itu lebih baik?"
Hela napas Aishe terdengar jelas di telinga sang suami. Dalam hal ini, Diego memang lebih unggul dari pada Aishe. Yah, mungkin karena instingnya sebagai seorang suami telah bekerja dengan baik.
Aishe menegakkan tubuhnya, lalu mengusap kedua matanya yang basah.
"Kenapa kamu selalu benar?" ucap Aishe setelah perasaannya perlahan membaik.
Diego hanya tersenyum, lagi-lagi memamerkan kerutan di sekitar matanya. Lalu, dengan cepat memangkas jarak diantara mereka dengan bibirnya.
Satu kecupan lembut, berhasil mendarat dengan sempurna. Tentu saja itu sempurna karena tidak merusak lipstik sang istri.
"Sudahlah! Ayo kita kembali dulu!" ucap Aishe setelah menatap wajah Diego yang menurutnya sangat menggemaskan.
Diego mendekatkan bibirnya di telinga Aishe, lalu berbisik dengan suara berat dan sedikit serak. "Jadi, apa kita akan melanjutkannya di rumah? Aku tidak keberatan dengan hal itu, sungguh."
"Berhenti menggodaku!" tegas Aishe berusaha acuh sambil membuka kaca jendela.
"Amm, bawa kami kembali ke rumah!" ucap Aishe pada sopir yang sejak tadi menunggu di luar mobil.
"Baik, Nyonya!"
Mobil sedan putih kembali melaju di lengangnya kota Fatih. Memecah beberapa mobil yang berdesak-desakan, ingin buru-buru sampai ke kantor, mengingat hari sudah semakin siang.
"Die, bagaimana menurutmu tentang gadis itu?" tanya Aishe tiba-tiba.
__ADS_1
"Siapa? Gadis apa? Aku hanya memiliki Zehra sebagai gadisku!"
"Aku serius, Die! Dia seorang maid yang ditempatkan Rubby di rumah Elder. Aku melihatnya sebagai gadis yang baik," terang Aishe.
"Bagiku tidak ada wanita yang cantik dan juga baik selain istriku dan Zehra."
"Ah sudahlah! Memang seharusnya aku tidak membicarakan hal ini denganmu. Mungkin aku harus pergi ke kantor dan bertanya pada Zavier tentang hal ini!"
"Amm, bawa aku ke BIN!" Pinta Aishe pada sopir yang sejak tadi fokus mengemudi.
"Tidak! Kita ke rumah!" pekik Diego memberi perintah.
"Kita masih harus menyelesaikan urusan kita, Sayang!" protesnya menatap Aishe.
"Tidak! Kita ke BIN sekarang!"
"Ishe, oh ayolah! Kamu menyiksaku pagi-pagi begini!"
"Ishe, Sayang!"
...☆TBC☆...
Mendekati HPL guys.
Mata, perut, pinggang, rasanya gak bisa di kondisikan. Maap keun ya, belum bisa UP optimal 😌
Bab selanjutnya sedang diusahakan. Jangan lupa tebar sajen seperti biasa 💋💋
__ADS_1