Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 54 ●


__ADS_3

Rumah dua lantai yang berada di kawasan Fatih, terlihat gelap dengan sedikit cahaya temaram. Cahaya dari lampu sudut, nyatanya tak mampu menerangi salah satu ruangan di rumah milik tuan muda pertama.


Pyar!!



Suara keras terdengar menggema di ruangan, ternyata itu berasal dari vas bunga yang baru saja ditepis oleh Elder. Matanya memincing tajam, rahangnya mengetat hingga memperlihatkan urat yang menjalar di leher. Amarah terlihat jelas di wajahnya, meski dengan cahaya temaram.


Para maid yang hanya memiliki secuil keberanian, hanya bisa berdiam diri di balik tembok. Mendengarkan sang majikan yang baru saja pulang kerja, langsung meluapkan emosi usai mendapat panggilan telepon dari Rubby.


“.... Nyonya besar menarik Beyza ke kediaman utama dan menjadikannya maid pribadinya.”


Beberapa patah kata dari Rubby masih terngiang di pikirannya, meski sudah beberapa menit berlalu sejak panggilan telepon berakhir. Kabar yang langsung membuat Elder melempar ponselnya ke sofa, kemudian menepis vas yang ada di nakas.


Marah atau kesal? Mungkin kedua rasa itu tengah bergulat, memperebutkan posisi 'siapa yang paling' mempengaruhi suasana hatinya pada saat ini.


Namun tiba-tiba. Hela napasnya terdengar jelas, sebelum akhirnya ia merebahkan tubuhnya di atas sofa.


“Hah, untuk apa aku marah?” Elder menyandarkan kepalanya ke belakang, menutup kedua mata dengan lengan tangannya.


Beberapa saat ia mencoba untuk berdamai dengan situasi yang terlanjur terjadi, agar bisa menstabilkan perasaan yang sempat kacau tanpa disadari.


Akan tetapi, usahanya sia-sia. Secuil rasa aneh yang mengganjal dalam hati, berhasil memporak-porandakan usahanya meredam rasa kesal.


Hingga pada akhirnya, rasa itu membuatnya bangkit berdiri. Lalu, berjalan ke arah nakas dan mengambil kunci mobil.


Kaki jenjangnya melangkah dengan cepat menuju mobil yang sudah terparkir rapi di garasi. Dan membuatnya mengemudi di tengah malam, tanpa peduli rasa capek usai bekerja lembur.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam pada saat ia menyalakan mesin dan mengendarai mobil kesayangannya menuju Zeytinburnu. Benar, Villa Luxury. Kediaman utama keluarga Gulbar.


Kaki jenjangnya kembali melangkah degan cepat, masuk ke dalam rumah, hendak menemui Aishe. Namun belum sempat ia memanggil sang ibu, Diego yang sedang bermain catur dengan Zavier berhasil membuat langkah kakinya berhenti.

__ADS_1


“Ibumu baru saja menutup mata usai mengeluhkan punggungnya,” ucap Diego begitu mendengar derap langkah kaki Elder. Dan itulah kalimat yang berhasil menghentikan langkah kakinya.


Elder menoleh, menatap sang ayah yang berkonsentrasi dengan bidak catur di depannya. Dia masih berdiri tanpa berkata apapun selama beberapa detik. Hingga, Diego melanjutkan ucapannya tanpa memandang sang putra.


“Sejak tadi sore ibu kalian mengeluh dan membuat ayah terus berada di kamar sambil terus memijatnya,” ucap Diego.


Pria bermata jeli itu kemudian mendongak, menatap Elder yang baru saja datang beberapa menit lalu.


“Ya, dan ayah baru saja keluar dari kamar satu jam yang lalu,” sahut Zavier.


“Dari mana Ayah tahu, aku sedang mencari ibu?” tanya Elder merasa ayahnya tahu sesuatu.


Diego tak langsung memberinya sebuah jawaban. Dengan matanya yang masih terlihat tajam, ia menatap wajah anak pertamanya selama beberapa saat. Lalu, melipat kedua tangan dan menyandarkan punggungnya.


“Ayah sedang bercerita dengan adikmu. Dari mama ayah tahu, kau sedang mencari ibu?”


Jawaban Diego membuat Elder menoleh, menatap Zavier yang saat itu juga menoleh menatapnya. Alih-alih mendapat jawaban dari sang adik, Zavier justru dengan santai mengedikkan bahu.


Melihat respon ayah dan adik lelakinya, Elder merasa jika dua pria itu sedang mempermainkan dirinya. Namun sikap mereka tidak membuatnya jengkel. Bahkan ia berjalan ke arah mereka dan duduk di sofa usai menghela napas panjang.


Perkataan Elder lantas membuat salah satu sudut bibir Diego sedikit terangkat. Sebelum akhirnya ia memberitahu pelayan untuk merapikan kamar Elder sebelumnya.


“Rubby, Tuan Muda kita akan menginap!” ucap Diego lantang sambil mengangkat bidak catur dan melanjutkan permainan.


Skakmat!


Langkahnya berhasil membuat salah satu bidak catur milik Zavier tidak dapat melangkah. Usai memastikan putra keduanya tidak dapat melanjutkan permainan, dia bangkit berdiri.


“Kau kalah, Nak! Ingat taruhan kita,” ucap Diego yang kemudian tersenyum tipis.


Zavier menunduk lesu setelah kalah untuk yang ketiga kalinya dari sang ayah. Hingga membuatnya harus menepati taruhan yang telah mereka sepakati.

__ADS_1


"Ash, sial!" keluhnya kesal.


Setelah berhasil menang dari sang putra, Diego berjalan ke arah kamar dengan senyum lebar. Bahkan senyum itu masih terpampang jelas ketika ia berusaha membuka pintu kamar dengan hati-hati.


Tentu saja, untuk memastikan sang istri tidak terbangun dan membuatnya harus memijat punggungnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Aishe terlihat sedang duduk sambil membaca sebuah buku.


'Love, After Marriage'. Seperti itulah judul yang terpampang jelas di sampul berwarna putih, dengan sepasang burung merpati di sudut bawah.


"Apa yang membuatmu terbangun, Sayang?" tanya Diego yang tadi sudah memastikan bahwa istrinya itu telah tertidur pulas


Alih-alih memberi jawaban, Aishe justru mengalihkan pembicaraan.


"Anak itu benar-benar datang? Padahal hanya meminjam kekasihnya sebentar." Aishe menggerutu, tetapi sorot matanya tak berpaling dari buku yang ia pegang.


"Ada apa? Tidak biasanya kamu ikut campur masalah mereka."


Diego berjalan mendekat, kemudian duduk di dekat sang istri. Dengan lembut mengambil buku yang dipegang Aishe, lalu menutupnya.


Kedua pasang mata saling bertemu, teduh dan penuh cinta. Meski puluhan tahun telah berlalu, cinta mereka tak terlihat berkurang sedikitpun.


"Aku hanya meminjam untuk menyingkirkan lalat pengganggu," jawab Aishe.


Salah satu tangan Diego terulur, melepas kacamata sang istri, juga ikat rambutnya. Rambut panjang yang terikat pun langsung terurai.


"Ya, aku tahu. Lalu bagaimana jika pada akhirnya, dia meninggalkan putra kita?"


Bagaimana? Tentu terserah padanya.


Manusia memang selalu tamak, tapi hanya sebagian orang yang bisa mengaturnya dengan baik.


Aishe hanya memandang nanar wajah Diego dan tidak memberinya jawaban. Membiarkan pria itu menerka, apa yang akan dilakukan oleh sang istri.

__ADS_1


...~ TBC ~...


Selamat maraton, jangan lupa Like


__ADS_2