Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 21


__ADS_3

Senja sudah menyapa kemucuk bumi. Mentari pun telah tenggelam di sisi barat, dan hanya menyisakan sinar kekuningan menyeruak, berbaur dengan warna langit yang perlahan mulai kehilangan penerangan.


Lampu-lampu di jalanan mulai menyala, memberikan penerangan bagi para pekerja yang kembali pulang. Lampu di rumah, serta gedung-gedung pun juga sudah dinyalakan jauh sebelum sang mentari terbenam dengan sempurna.


Di Villa Luxury, suasana terlihat sedikit kacau. Tidak ada raut bahagia dari semua orang yang ada di sana. Para maid juga terlihat saling berbisik membicarakan pertunangan mendadak tuan muda mereka.


Elder pun demikian. Dia terlihat duduk di sofa dengan raut wajah lesu, seakan tidak menginginkan acara pertunangannya sendiri. Begitu juga dua adiknya, serta Jared yang sejak awal tidak menyukai Diana.


Hanya satu orang yang terlihat bahagia pada saat itu, yaitu Diana yang sedang merias dirinya di bersama sang asisten di kamar tamu.


“Ku kira, kau akan menikahi pengurus rumahmu itu,” ucap Jared yang berdiri di samping Elder.


“Jangan buat aku makin sakit kepala!” keluh Elder memijat keningnya.


“Aku sudah memperingatkanmu tentang gadis itu sebelumnya, tapi kau selalu berkata ‘tidak masalah’ berulang kali.” Jared masih terus berbicara, seakan tidak peduli dengan sahabatnya yang sedang kebingungan.


Elder yang sejak tadi duduk, tiba-tiba bangkit berdiri. Gerakannya yang tanpa aba-aba sempat membuat Jared mundur beberapa langkah. Mengira Elder akan memberinya bogem mentah.


Namun yang terjadi bukanlah demikian. Elder justru merogoh saku untuk mengambil ponsel, kemudian membuka kontak nomor yang tersimpan di ponselnya.


“Siapa yang harus aku hubungi? Bibi Guzel atau Paman Ashan?” ucap Elder dengan nada mengancam.


Mendengar Elder akan menghubungi orang tuanya, Jared dengan cepat merebut ponsel Elder. “Oke, oke, aku akan diam!” ucap Jared sedikit ketakutan.


Elder hanya melirik, kemudian merebut kembali ponselnya dari tangan Jared, tanpa mengatakan apapun. Meski begitu, Jared tidak merasa kesal, lantaran ia telah mengenal sifat Elder sejak kecil.


Pada waktu yang sama, Emmine dan Rehan yang baru saja turun dari kamar Aishe, berjalan mendekati dua pemuda itu.


“Kau sudah siap, Nak?” tanya Emmine pada Elder.

__ADS_1


“Tidak sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi?” jawab Elder memamerkan wajah lesunya pada Emmine. Wanita paruh baya yang selama ini menetap di luar negri setelah menikah.


Rehan yang melihat keponakannya memamerkan wajah lesu, langsung menepuk pundak Elder beberapa kali. Seperti sedang memberi kekuatan pada pria muda itu. Tindakan Rehan pun disambut seulas senyum dari Elder.


Meski tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka. Kedua pria itu seolah mengerti dengan tindakan satu sama lain. Seakan-akan, mereka sedang melakukan percakapan batin yang hanya dimengerti keduanya.


Dua pria itu masih saling menatap, ketika Diana yang baru selesai berdandan dan bersiap keluar dari kamar. Disusul Aishe dan Diego yang juga turun dari kamar mereka di lantai dua. Lalu Zehra yang berjalan di belakang orang tuanya dengan wajah murung.


“Semua sudah berkumpul, jika begitu kita mulai saja acaranya!” ucap Diego memandang nanar semua orang yang ada di sana.


“Tapi itu … cincinnya, Tuan,” sahut asisten Diana, membuat semua orang menoleh menatap ke arahnya.


Mendapat tatapan tajam dari mereka semua, sang asisten tentu saja merasa takut. Gadis itu bahkan mundur selangkah dan bersembunyi dibalik tubuh Diana. Berharap dia bisa mendapatkan perlindungan. Namun sebelum Diana sempat membuka mulut, Aishe lebih dulu berkomentar.


“Sudah seperti ini masih memikirkan cincin?”


Namun itu tidak bertahan lama. Kedatangan Ashan dan Guzel ke rumah membuat tatapan tajam Aishe berubah dalam sekejap.


“Maaf, maaf. Kami datang terlambat,” ucap Guzel yang berlari kecil menghampiri Aishe sambil membawa sebuah paper bag kecil berwarna hitam.


“Aku sudah membawa apa yang Anda minta,” lanjut Guzel sambil menyerahkan paper bag hitam yang ditentengnya.


“Kau selalu saja bicara formal!” protes Aishe lantaran tidak menyukai sikap Guzel yang berbicara formal padanya.


Padahal, Aishe berkali-kali mengingatkan dirinya untuk bersikap layaknya teman, bukan lagi atasan dan bawahan. Namun Guzel yang sejak kecil sudah berada di lingkungan keluarga


Gulbar, masih tidak terbiasa dengan hal itu.


Pada akhirnya, dia hanya bisa memamerkan seulas senyumnya pada Aishe. Senyuman manis yang selalu bisa membuat hati Aishe luluh dan melupakan hal yang membuatnya risih sejak dulu.

__ADS_1


“Maaf. Sudah tua begini, masih saja merepotkan kalian,” ucap Aishe lirih.


“Tidak. Aku suka seperti ini. Anda selalu membantu kami, kami pun akan berusaha membantu apa yang kami bisa.”


Jawaban Guzel lagi-lagi membuat Aishe terenyuh. Hingga berhasil menyamarkan ekspresi kesal di wajah, yang tadi sempat membuat auranya terasa suram.


Setelah mengucapkan terima kasih, Aishe merogoh paper bag, mengambil sebuah kotak hitam dari dalam dan membukanya di depan semua orang.


"Cincin sudah ada. Kamu bisa memulainya, Nak!" ucap Aishe pada Elder, sambil memberikan kotak cincin yang sudah terbuka.


Sebuah logo dari brand terkenal, terbordir indah di kotak berwarna hitam. Namun meski begitu, harga cincin yang berada di dalamnya tidak terlalu mahal. Hanya bekisar 40 ribu Lira.


Hal itu sudah pasti bisa diketahui oleh Diana dengan mudahnya. Lantaran dirinya yang sering menjadi bintang iklan dari banyak produk perhiasan.


Raut wajah bahagia yang sempat terpampang jelas, perlahan berubah masam ketika cincin senilai 40 ribu lira disematkan oleh Elder di jarinya.


Sial!


Baru kali ini cincin murahan ini terpasang di jariku. Tapi tidak masalah, besok aku akan meminta ganti yang lebih baik dari ini.


...☆TBC☆



...


Gak dapet refrensi mbak bule yg judes, Guys. Bayangin aja yee, sejudes dan se akward apa wajah Diana.


Hari ini up 1 bab, badan mendadak gak kondusif 🥲

__ADS_1


__ADS_2