
“A-apa maksud Anda?”
“Model! Aku ingin dia dikenal banyak orang dalam waktu singkat, karena itu, menjadi model lebih praktis daripada belajar akting.” Aishe mengambil cangkir berisi teh yang baru saja disajikan.
Teh di dalam cangkir terlihat cukup pekat, karena takut rasanya juga pekat, Aishe hanya meneguknya sedikit. Namun siapa sangka, rasanya justru ringan dan otentik. Aromanya wanginya bahkan menyebar ke seluruh penjuru ruang.
“Model, apa maksud Nyonya?” tanya Beyza, terkejut mendengar perkataan Aishe.
“Kenapa? Kau tidak mau? Aku pikir, kita telah sepakat kemarin.”
Sepakat?
Benar, mereka telah sepakat. Namun, hal ini tidak pernah disangka oleh Beyza. Pikirannya kembali berkecamuk, memikirkan cara balas dendam seperti apa yang direncanakan oleh nyonya besar. Belum lagi, dia tidak mengenal pria yang duduk di hadapan Aishe itu.
Apakah dia pria yang bisa ia percaya?
Aishe meletakkan cangkirnya ke atas meja, lalu menoleh menatap wajah Beyza yang kebingungan. Saat itu, barulah ia menyadari ada bagian yang tidak sengaja ia lewatkan.
“Hampir saja aku lupa,” katanya lembut. “Di dunia entertainment, dia dipanggil Lee. Banyak aktris, aktor ataupun model yang berhasil di tangannya.”
Aishe bangkit berdiri, berjalan mendekati pigura kecil di atas meja. “Dan terakhir kali, dia berusaha menghubungi Lee beberapa kali, tetapi ditolak.”
Sorot mata tua Aishe mengamati sebuah foto yang terpasang rapi di dalam sebuah pigura berlis hitam. Dua sudut bibirnya tiba-tiba terangkat, ketika manik kecoklatan itu menatap foto dirinya dan Diego bersama dengan seorang remaja.
__ADS_1
Melihat dirinya dan sang suami yang masih muda dan energik, tiba-tiba mengingatkan dia akan kejadian beberapa belas tahun lalu. Ini menjadi cerita yang sangat lama, tetapi cukup berkesan dikeluarga Gulbar.
“Tidak tahu apa tujuan Diana sebenarnya. Apa gadis itu hanya menyukai Elder atau mendekati kami demi bisa bekerja di bawah naungan Lee.” Aishe meletakkan kembali pigura di atas meja, lalu menoleh menatap mereka.
“Satu hal yang pasti, gadis itu telah mengetahui hubunganmu dengan keluarga Gulbar,” lanjut Aishe menatap tajam ke arah Lee.
Perkataan demi perkataan yang terucap oleh nyonya besar, semakin membuat Beyza bingung. Sebenarnya, dari mana asal benang yang dia tarik? Akankah itu pada saat ia bekerja di keluarga Gulbar, atau pada saat ia menjadi pelayan tuan muda?
Dia yang pada awalnya hanya membutuhkan uang, lalu menerima tawaran dari Elder. Tawaran yang dia pikir akan selesai dalam beberapa bulan saja. Nyatanya, justru membuat hidupnya terlibat sesuatu yang runyam.
Namun mau bagaimana lagi?
Dia sudah terlanjur terlibat dan tidak mungkin untuk berbalik arah, apalagi berpindah kapal. Daripada mengambil resiko, Beyza memutuskan untuk mengikuti alur.
Tidak sampai setengah jam. Asisten kepercayaan Lee datang dan langsung membawa Beyza pergi untuk mengatur waktu dan tempat selama ia menjalani masa pelatihan. Sedangkan Aishe masih berada di ruangan, menikmati segelas teh untuk yang ke 2 kalinya.
“Berhenti menatapku. Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan,” ucap Aishe yang sadar, jika Kim menatapnya sejak tadi.
“Apakah boleh?” tanya Lee yang sejak tadi penasaran.
Aishe mendongan, menatap pria berambut hitam legam yang duduk di depannya. Hanya menatap, tanpa menjawab pertanyaan dari pria itu. Tatapan yang kemudian membuat Lee tersenyum tipis.
“Jelas-jelas Anda tidak suka media, tapi kenapa Anda ingin menggunakan media?”
__ADS_1
Tanpa aba-aba, pertanyaan dari Lee berhasil membuat tarikan napas Aishe terdengar berat. Bahkan saat menghembuskannya juga terdengar berat. Sepertinya, satu pertanyaan itu berhasil menyenggol sesuatu yang sensitif.
“Apa aku salah masuk?” Aishe berusaha bersikap tenang. “Aku pikir, LE hanya melahirkan para multitalent, bukan penyebar gosip!”
“Tapi tujuan Anda adalah media!”
Glek! Aishe menelan salivanya kasar.
“Anda ingin membuat karir seorang model redup, apalagi jika bukan mengandalkan media?” lanjut Lee berusaha menebak rencana Aishe.
Benar saja, wanita paruh baya itu pun langsung tersenyum, bahkan tak segan segan tertawa. Merasa pria yang ada di hadapannya itu cukup peka dan pintar, hingga terbesit di dalam hati untuk memberinya pujian.
“Aku selalu kesal saat Diego memuji kepintaranmu, tapi sekarang aku paham,” ucap Aishe sambil meletakkan cangkir, setelah memastikan cangkirnya telah kosong.
Dia bangkit berdiri dan hendak pergi setelah memberi sanjungan kecil. Namun sebelum ia melangkah lebih jauh, Aishe berbalik, kemudian mengatakan sesuatu.
“Aku jadi heran, kenapa Zehra menolakmu. Padahal kau cukup pintar dan peka.”
Mendengar itu, Lee hanya tersenyum tipis tanpa berkomentar. Dia sendiri juga bertanya-tanya, hal apa yang membuat Zehra menolaknya berkali-kali. Padahal, mereka sudah akrab sejak remaja.
...~ TBC ~...
__ADS_1