Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 58


__ADS_3

“A-Ane ….” Elder menatap nanar ke arah wanita paruh baya yang berdiri tak jauh darinya.


Panggilan kesayangan yang sudah lama tak keluar dari mulut Elder, entah mengapa terucap secara spontan setelah sekian lama. Lebih tepatnya, setelah adik perempuannya meninggal.


“A-apa yang membuat ibu terbangun tengah malam seperti ini?”


Ketika menyadari bahwa telah salah memanggil, Elder langsung berusaha mengalihkan pembicaraan secepat mungkin. Padahal, sudah sangat lama dia berhati-hati agar tidak salah. Bahkan, dia juga selalu memperingatkan kedua adiknya juga.


Melihat Aishe yang hanya diam dan tidak memberi jawaban, Elder menjadi panik. Rasa takut tiba-tiba hadir, membuat tangannya sedikit gemetar. Namun sekuat tenaga dia menahannya.


Hela napas panjang pun terdengar dari mulut Aishe, yang kemudian dia berjalan mundur dan duduk di atas sofa.


“Sudah tiga malam, kenapa kamu masih belum juga menyerah?” Alih-alih menjawab pertanyaan Elder, Aishe justru mempertanyakan kegigihan sang putra.


“Apa ini demi wanita itu?” lanjut Aishe.


Bukannya cemas lantaran sang ibu berhasil menebak niatnya, Elder justru menarik napas lega. Mungkin karena dia tidak melihat raut kesedihan dalam wajah sang ibu sata tak sengaja mengingatkannya pada sang adik.


Haruskah aku akui?

__ADS_1


Elder bersimpuh di hadapan sang ibu, lalu dengan nada sedikit manja, dia bertanya, “A-apa … Ibu akan memarahiku jika aku menjawab ‘iya’?”


Tanpa banyak basa basi, Aishe dengan cepat meraih berkas di atas meja, lalu memukulkannya ke kepala sang putra. Satu kali pukul, lembut, dan tidak terlalu keras. Hingga suara ‘Buk’ hanya terdengar samar.


“Kamu mengira ibu akan marah hanya karena kamu menyukai seseorang?” seru Aishe menunjukkan kekesalannya secara terang-terangan.


“Ibu hanya marah karena kamu tidak bisa tegas. Lihat, apa yang sudah diperbuat wanita itu? Bagaimana bisa kamu tetap membiarkannya?” lanjut Aishe.


Diego diam bergeming. Bibirnya tertutup rapat, sorot matanya jatuh ke bawah memandang lantai tempat ia bersimpuh. Tidak ada kata pembelaan yang bisa ia katakan pada ibunya, karena Aishe benar adanya.


Dia tidak bisa tegas. Ya, Elder mengakui itu terang-terangan. Namun bukannya tidak mampu, tapi karena ia tidak bisa bermain kasar terhadap seorang wanita.


Hela napas panjang Aishe kembali terdengar, sebelum ia mengulurkan tangan dan mengusap ubun-ubun putra pertamanya itu. Usapan demi usapan dari sang ibu, terasa hangat dan menenangkan. Banyak cinta dan kasih sayang yang juga tersalur dari sentuhannya.


Kata-kata singkat yang diucapkan Aishe dengan nada lembut, terdengar begitu bijak. Hingga berhasil membuat Elder tertunduk dalam, memikirkan setiap kata dari sang ibu, yang dirasa ada benarnya.


Memang, mau menunggu sampai kapan?


Memori singkat tentang Beyza yang pingsan karena dikurung di gudang tiba-tiba melintas. Rasa takut yang teramat sangat kembali ia rasakan. Memikirkan seseorang yang mungkin bisa mati di hadapannya jika dia tidak segera mengambil keputusan.

__ADS_1


“Aku tahu, Bu. Akan segera kuselesaikan cepat atau lambat.” Elder tiba-tiba menyandarkan kepalanya di paha Aishe dengan manja, sambil berharap rasa takut yang sempat hadir itu memudar.


“Ya, aku percaya padamu, Nak.”


“Lalu, bagaimana dengan Beyza?” tanya Elder ketika ia teringat dengan tujuannya datang dan ingin bertemu dengan Aishe.


Aishe yang sejak awal tahu niat Elder, tiba-tiba tersenyum. Lalu dengan lembut bertanya. Satu pertanyaan sepele, yang membuat Elder mengangkat kepalanya dan menatap sang ibu.


“Apa yang kau inginkan padanya?”


Apa?


Apa yang aku inginkan?


Elder terperangah. Sorot matanya datar menatap Aishe. Secara mendadak menjadi ling-ling, tidak tahu harus memberi jawaban apa pada ibunya.


“Menjadikannya maid mu lagi atau melanjutkan kontrak kalian?”


...☆TBC☆...

__ADS_1


Lanjut besok lagi ya guys.


Jangan lupa Like 😘😘


__ADS_2