
Setelah mendengar pintu ruangannya kembali tertutup. Elder yang sejak tadi merasa jijik setelah menyentuh Diana, langsung bergegas pergi ke toilet. Dengan cepat tangan kekarnya menyalakan air di wastafel dan segera mencuci tangannya.
Namun sudah dua kali ia mencuci tangan dengan sabun, pria berkemeja putih itu masih merasa tangannya kotor. Hand wash bertekstur gel bening dengan komposisi anti bakterial, seakan kurang ampuh.
“Sial! Sial! Sial!” teriak Elder meluapkan kekesalannya.
Merasa tak tahan dengan tangan yang terasa kotor, Elder dengan segera meraih ponsel di atas meja. Gerakan jemarinya sangat lincah saat mencari nomor telepon Jared.
“Kau dimana? Aku membutuhkanmu!” ucap Elder tanpa basa-basi. “Oke, aku datang secepat mungkin.”
Jarak 20 kilometer ditempuh dengan cepat oleh Elder. Mobil rangka besi dengan logo bertuliskan Rubicon yang ia kendarai pun bekerja sama dengan baik. Di jalanan yang sedikit padat, mobil besar itu mendahului kendaraan lain tanpa hambatan.
Langit seakan mempermudah jalan pria itu untuk mendatangi sahabat baiknya, Jared. Bahkan ia tidak kesusahan mencari tempat parkir begitu sampai.
“Kau harus memberiku solusi!” ucapnya begitu tiba sambil melepas sarung tangan yang sejak tadi dipakainya.
“Ada apa denganmu?” Ini musim panas, jangan bilang dia berkendara sambil memakai sarung tangan kulit itu?
Jared memandang heran ke arah sahabatnya. Sembari berpikir, hal apa kiranya yang membuat pria berkemeja putih tanpa dasi itu memakai sarung tangan di hari yang terik.
“Cepat periksa aku. Selain Phobia sialan itu, apa kemungkinan aku memiliki phobia yang lain?”
__ADS_1
Jared makin tidak mengerti perkataan sahabatnya. “Tu-tunggu! Katakan lebih jelas!”
Hela napas Elder sempat terdengar dengan jelas, sebelum akhirnya ia menceritakan apa yang baru saja ia rasakan, Juga, alasan dibalik pemakaian sarung tangan kulit di hari yang panas ini. Namun bukannya mendapat respon yang baik, Jared justru tertawa.
“Berhenti tertawa dan periksa aku!” seru Elder kesal.
“Tenanglah! Kau masih normal, sangat amat normal.” Jared mencoba menenangkan sahabatnya yang panik.
"Lagi pula, pria normal mana yang ingin menyentuh wanita itu?" lanjut Jared.
Namun kata-kata Jared tak membuat Elder menjadi tenang sedikit pun. “Tenang katamu? Bagaimana aku bisa tenang? Apa kau tahu, aku ingin sekali memotong tangan yang sudah menyentuhnya!”
“Ayo, aku akan mengobatimu!”
Jared yang sejak tadi duduk, perlahan bangkit berdiri. Tanpa menunggu jawaban dari Elder, ia menarik tangan sahabatnya dan membawanya keluar.
“Kau mau membawaku kemana? Hei! Jared!”
Jared hanya diam, tidak memberi Elder jawaban. Bahkan bibirnya tetap menutup sambil terus menarik tangan sahabatnya itu, pergi menuju mobil sedan hitam yang terparkir rapi di samping rumah. Sampai dua pria itu memasuki mobil, barulah ia membuka mulutnya.
“Kenapa kau terus bertanya? Sudah ku bilang, aku akan mengobatimu!”
__ADS_1
Seperti itulah kalimat yang keluar dari mulut Jared. Seolah tidak peduli dengan rasa penasaran Elder, Jared langsung mengemudikan mobilnya pergi sejauh 10 kilometer menuju ke Levent.
Setidaknya butuh waktu setengah jam bagi sedan hitam itu melaju di jalanan kota yang terbilang lengang. Hingga sampai ke sebuah gedung dua lantai tak jauh dari gedung LE Entertainment.
“Untuk apa kau membawaku kemari?” tanya Elder penasaran.
Pria lajang ini tidak sungguh-sungguh memotong tanganku kan?
Jared hanya melebarkan dua sudut bibirnya lalu turun meninggalkan sahabatnya di mobil. Elder yang pada saat itu masih bingung, hanya duduk melihat Jared berjalan menuju pintu.
Elder masih duduk di mobil mengamati Jared, saat pintu besar itu terbuka perlahan. Namun ketika seorang wanita keluar dari pintu dan menghampiri Jared, barulah ia tergugah hingga menegakkan punggungnya.
Dari jarak yang tak begitu jauh, Elder bisa melihat gurat senyum wanita itu yang sedang berjalan ke arahnya usai berbicara dengan Jared.
Kaos putih polos dengan celana hitam. Rambut kecoklatan yang tergerai bebas. Serta manik mata serta garis senyum yang menawan, berhasil membuat Elder larut dalam pesonanya selama beberapa saat.
“Tuan, Anda mencari saya?”
...☆TBC☆...
Jempol jangan lupa di goyang sebelum pindah bab 😘😘😘
__ADS_1