
TUK … TUK … TUK
Bunyi dari jari telunjuk yang diketuk di atas meja, terdengar samar dari ruang kerja Elder. Sudah lebih dari satu jam pria itu duduk dengan sorot mata lurus ke depan, entah memandang apa.
Pikirannya melayang, memikirkan sebuah siasat untuk mengakhiri hubungannya dengan Diana. Tidak lupa juga, mencari bukti akurat tentang dalang dibalik tragedi Beyza di gudang penyimpanan bahan makanan.
Meski dia yakin jika Diana adalah dalang dari semuanya, tapi entah mengapa sangat sulit untuk membukanya di hadapan wanita itu. Mungkin Elder tidak ingin menuduhnya tanpa bukti yang jelas, mengingat dia memiliki nama besar.
Lagi-lagi, dia dipaksa untuk berpikir untuk menemukan solusi tanpa harus mencoreng nama baik keluarga Gulbar. Selain itu, juga melindungi Beyza agar tidak menjadi target oleh Diana lagi.
Beberapa rencana sudah terancang, tetapi belum satu diantara rencana-rencana itu yang menurutnya pas untuk Diana. Diambang rasa frustasinya, Elder tiba-tiba merasa sedikit rindu. Dia meraih ponsel di atas meja, kemudian membuka galeri untuk melihat sebuah foto.
Kedua manik mata kecoklatan miliknya seketika berbinar. Seulas simpul senyum pun terukir samar di wajahnya. Memandang foto seorang wanita dengan kaos putih sedang berdiri menghadap sebuah cermin besar.
“Ahh, kenapa aku jadi menyesali keputusanku!” keluhan keluar dari mulut Elder sembari meletakkan kembali benda pipih itu ke atas meja.
Sekelebat ingatan pun muncul. Kejadian beberapa hari yang lalu ketika ia sedang berlari tunggang langgang untuk menjemput Aishe dan Diego di bandara.
“Ibu! Ibu! Aku sudah menemukan jawabannya.” Elder berteriak seperti anak kecil saat melihat Aishe turun dari pesawat.
“Aku membutuhkannya, aku menyukainya, aku ingin hidup selamanya bersama dirinya!” ucapnya dengan raut wajah bahagia.
“Lalu, apa dia juga menginginkan itu?”
__ADS_1
Seakan tidak peduli dengan tanggapan Beyza nantinya, Elder dengan egois menjawab pertanyaan Aishe . “Aku akan membuatnya merasakan hal yang sama!”
“Selesaikan urusanmu dengan Diana terlebih dahulu. Jangan membuatnya menjadi orang ketiga!”
“Baik! Aku berjanji tidak akan menemuinya sebelum menyelesaikan urusanku dengan Diana.”
BRAK
Sekelebat ingatan itu membuat Elder berdiri sambil menggebrak meja kerjanya. Lalu, dengan kesal ia menyesali perkataan bodohnya pada sang ibu beberapa hari yang lalu.
Mau bagaimana lagi?
Kini dia hanya bisa merutuki diri sendiri karena terlalu ceroboh, sembari menatap foto terbaru yang sengaja dikirim oleh Lee. Juga membaca ancaman darinya yang ingin mengejar Beyza.
“Itu tidak mungkin! Perusahaannya lebih besar daripada milikmu,” sahut Zavier yang entah sejak kapan duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi.
Ejekan dari sang adik langsung membuat Elder menoleh. Tentu saja dia tidak terima, tapi ia juga tidak punya alasan untuk tidak setuju, lantaran perkataan Zavier ada benarnya.
Nilai saham LE Entertainment memang lebih tinggi dari perusahaan milik Elder. Tidak hanya itu, perusahaan yang didirikan sahabat Diego ini juga sudah dikenal hampir seluruh benua Eropa.
“Jika kakak jadi pewaris BIN, tentu itu sangat mudah,” lanjut Zavier.
“Jangan konyol! Aku tidak berbakat di bidang perbankan. BIN mungkin akan jatuh jika berada di tanganku.”
__ADS_1
Zavier hanya diam mendengar jawaban sang kakak. Seakan sudah basi karena terlalu sering dia dengar. Sehingga ia menjadi acuh dan terkesan tidak peduli lagi, apakah sang kakak mau mewarisi BIN atau tidak.
“Oh, untuk apa kau kemari? Apa ada sesuatu yang penting?” tanya Elder tiba-tiba teringat alasan kedatangan sang adik.
Namun dia tidak langsung mendapat jawaban dari Zavier dan justru melihat adik lelakinya itu menikmati secangkir kopi yang entah berasal dari mana. Sampai akhirnya, Zavier meletakkan cangkir ke atas meja. Lalu ia bangkit berdiri dan membetulkan kancing jasnya.
“Cepat selesaikan masalah kakak dengan wanita itu, dan segeralah menikah. Aku tidak ingin menikah lebih dulu darimu!” ucap Zavier kemudian beranjak pergi.
Elder yang masih mencerna perkataan sang adik, terdiam selama beberapa saat. Ketika ia telah selesai memahami perkataan Zavier, barulah ia berteriak, “Tu-Tunggu! Apa maksudmu? Kau ingin menikah?”
“Iya, karena itu segeralah menikah!” jawab Zavier sambil menutup pintu, dan tak lagi perduli meski sang kakak berteriak beberapa kali untuk menanyakan wanita yang akan ia nikahi.
Bukankah dia masih terlalu muda?
Atau aku yang semakin tua?
...☆TBC☆...
Bang Zav ini lebih dominan ke bapaknya. Calon kulkas 8 pintu 😌😌😌
Yang kepo sama bang Zav, jangan lupa Follow othor 😘
__ADS_1