Lips Service

Lips Service
Lips Servuce ● Bab 47


__ADS_3

Istanbul dan sekitarnya masih menghadapi musim panas. Namun bukan musim panas ekstrem dengan suhu diatas 30 derajat. Yah, meski di Ibu Kota Turki pernah mengalami suhu hingga 30 derajat pada minggu lalu, tetapi hanya bertahan selama 2 jam sama.


Sama seperti hari ini. Pada saat siang tadi, suhu di luar mencapai 28 derajat. Lalu perlahan turun, hingga mencapai angka 26, saat malam hari.


Elder dan Diego terlihat duduk di bangku taman yang ada di samping rumah. Di depan mereka ada sebuah meja, yang di atasnya terdapat beberapa botol beer dan kudapan.


"Kamu merindukan rumah tiba-tiba?" tanya Diego sambil membuka tutup botol.


"Atau, secara tidak sadar menyetir dan berakhir di sini?" tebak Diego yang kemudian melirik wajah Elder.


Sudah tidak perlu diragukan lagi. Wajah kaget sang putra yang terlukis dengan jelas, sudah memberinya sebuah jawaban. Bahwa tebakannya 100 persen akurat.


Tanpa bertanya lagi. Diego menyodorkan sebotol beer yang baru saja dia buka pada sang putra. Lalu mengambil botol lain, dan mengangkatnya.


"Tidak mau bersulang dengan ayah?" tanya Diego.


Melihat sang ayah sudah mengangkat botol, bahkan membukakan sebotol beer untuknya, membuat Elder tidak punya pilihan lain. Padahal ia sudah menghindar dari alkohol ketika berada di bar. Namun saat di rumah, justru sang ayah yang menyodorkannya sendiri.


Tanpa banyak pikir panjang, Elder mengambil botol yang sudah terbuka. Lalu mengangkatnya dan menempelkan botol itu dengan milik sang ayah.


Bunyi 'Ting' terdengar jelas. Dua orang pria yang sudah sama-sama dewasa itu mulai meneguk beer dingin dengan santai.


"Ayah tidak takut ibu tahu?" tanya Elder.


"Hoho, kau mengkhawatirkan ayah, Nak? Kau sudah dewasa rupanya," gelak tawa Diego terdengar renyah.


"Aku hanya tidak ingin melihat Ayah tidur di ruang tamu seperti dulu."

__ADS_1


UHUK


Seketika, beer yang belum sempat tertelan dengan sempurna membuat Diego tersedak, hingga terbatuk beberapa kali. Jelas, itu karena ucapan Elder yang membuatnya terkejut.


Tiba-tiba, ingatan masa lalu terlintas. Setidaknya 15 tahun lalu, ketika Aishe mengusir Diego dari kamarnya. Semua bermula dari Diego yang pulang dengan keadaan mabuk, usai bertemu Emil, Eraz, Rehan dan beberapa tangan kanannya.


Kejadian menjengkelkan bagi Aishe, tetapi di kenang dengan indah oleh Diego. Ya, kenangan yang selalu membuat senyumnya merekah, sama seperti saat ini, di hadapan anak pertamanya.


"Itu tidak akan. Ibumu pasti tahu, kalau ayah dan anak sedang berbincang bersama," jelas Diego yang kemudian mendapat anggukan kepala dari putranya.


"Jadi, apa yang membuat pikiranmu penuh?" tanya Diego sambil merebahkan punggungnya di sandaran kursi.


"Tentang gadis yang bekerja di kediamanmu? Sebenarnya, ayah tidak masalah dengannya jika kalian menikah."


Mendengar perkataan Diego, Elder langsung menoleh. Berpikir tentang seberapa jauh ayahnya tahu. Baik itu tentang kerja samanya dengan Beyza atau perasaannya.


"Hei, kenapa kau tegang? Tenangkan dirimu, ayah akan menceritakan sebuah kisah."


Perkataan Diego tidak langsung membuat Elder menarik napas panjang dan menjadi rilex. Pria itu terlihat tegang, meski ia sudah berusaha mencoba untuk tenang, sesuai perkataan Diego.


"Tidak jauh sebelum kau lahir. Aku telah jatuh cinta, pada seorang gadis yang sangat tangguh." Diego menengadah, menatap langit cerah dengan gemerlap bintang yang bersinar.


"Tidak perlu kau tebak, dia adalah ibumu. Wanita sederhana, tangguh, penuh tekad, dan teliti. Hal yang tidak pernah kau tahu adalah, dia wanita yatim piatu, dan ayah menemukannya di sebuah pulau, dia terdampar."


Wajah tegang Elder perlahan berubah. Jelas dia paham, kemana arah pembicaraan sang ayah. Meski pria tua itu menggambarkan dengan kisah cintanya.


"Kebersamaan, membuat kita saling jatuh cinta. Atau mungkin, karena kami menemukan rasa aman dan nyaman. Atau juga, karena hal lain yang tidak bisa dijabarkan."

__ADS_1


Dua pria itu saling memandang langit. Langit yang sama, tetapi di titik yang berbeda. Keadaan menjadi hening beberapa saat.


Perkataan Diego sepertinya telah berhasil mengurai simpul di hati Elder yang sejak beberapa hari lalu kusut.


"Apa, dulu kakek dan nenek tidak menentang kalian? Lalu, bagaimana dengan publik? Juga BIN?"


Diego lantas tertawa. Tawa yang sangat nyaring hingga membuat Elder kebingungan. Apakah pertanyaannya terlalu lucu?


Tentu tidak.


Semua karena Diego yang pada akhirnya tahu, simpul mana yang harus dia lepas dalam pikiran putranya.


"Tidak ada yang mudah dalam cinta, Nak. Aku berjuang, ibumu juga berjuang. Tidak hanya untuk kestabilan perusahaan, tetapi juga nenek dan kakekmu yang dulu sangat angkuh."


Setelah itu, tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka selama beberapa menit. Ya, setidaknya 10 menit, suasana terasa hening. Hanya terdengar suara dari uap beer yang beberapa kali terdengar ketika di buka Diego.


Sampai pada akhirnya, Elder mengambil botol beer miliknya. Lalu mengangkatnya, mengajak sang ayah untuk bersulang.


"Terima kasih, Ayah," ucap Elder lalu tersenyum pada sang ayah.


...☆TBC☆...



Apa ini defisini makin tua makin anu?


jangan lupa sajennya, siapa tau ntar othor khilaf, malem up lagi 😌😌😌

__ADS_1


__ADS_2