Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 67


__ADS_3


Dress merah panjang menjuntai dengan sangat indah. Rambut panjang yang digelung dengan rapi. Lipstik matte berwarna merah bata, seakan mempertegas garis wajah.


Kulit putih nan mulus, menjadi pemicu gaun merah yang ia kenakan terlihat semakin mencolok.


Entah, mana dari salah satu hal itu yang membuat mata beberapa pria disana berpindah fokus pada seorang gadis. Seorang gadis yang bersiap mengepakkan sayap di dunia modeling.


"Cepat atur posisi!"


Teriakan sutradara membuat lamunan mereka buyar dalam sekejap. Studio yang sempat hening selama beberapa saat, kini kembali riuh oleh suara pekerja.


Sutradara berjalan mendekati Beyza. Tanpa basa-basi, pria berumur 55 tahun itu menjelaskan tema secara singkat.


"Kau sudah mengerti bukan?" tanya sutradara.


"Saya mengerti," tegas Beyza yang kemudian tersenyum.


"Oke. Langsung ke posisi!"


Hanya hitungan menit, mereka semua sudah bersiap di posisi yang seharusnya, termasuk Beyza. Sutradara pun sudah terlihat duduk di kursi, sembari mengamati layar. Memastikan bahwa semuanya telah sempurna.

__ADS_1


Semua orang telah siap di posisi. Fotografer pun mulai mengarahkan Beyza, sambil mengambil gambar. Hasil jepretan yang diambil dari kamera juga langsung terhubung di laptop sutradara, membuatnya mudah mengecek jika gambar yang diambil sudah pas.


Baru beberapa pose dan jepretan yang didapat. Pria paruh baya yang sejak tadi berwajah masam tiba-tiba menarik dua sudut bibirnya. Tipis, namun gerakan bibir sutradara berhasil membuat beberapa orang saling bergunjing.


Lee pada saat itu berdiri sedikit lebih jauh dari posisi sutradara. Namun matanya yang jeli bisa melihat wajah puas pria itu. Melihatnya puas, Lee tentu tidak ingin melewatkan kesempatan.


Dengan santai ia berjalan mendekat, lalu sedikit membungkukkan badan agar bibirnya dekat dengan telinga sutradara.


“Sudah kubilang, Anda pasti akan menyukainya!”


Seringai puas terukir jelas di wajah Lee. Selain karena performa Beyza dan juga kepuasan sutradara, rupanya juga karena kehadiran seseorang.


Hanya ini yang bisa aku bantu. Selebihnya, biar keberuntungan yang akan membawamu.


Setelah memastikan produser dari XM melihat dan tertarik pada Beyza, Lee langsung pergi meninggalkan lokasi untuk melapor pada Aishe. Dan menyuruh Rere untuk mengurus sisanya.


Satu jam perjalanan harus ia tempuh untuk menemui Aishe, yang pada saat itu berada di Başakşehir. Entah, apa yang membuat pria itu lebih memilih melapor secara langsung daripada melalui panggilan telepon.


“Pemotretannya sangat sukses. Dia juga hadir dan melihat gadis itu.”


Itulah hal pertama yang keluar dari mulut Lee usai Aishe mempersilahkan duduk. Perkataan yang langsung membuat dua sudut bibir Aishe sedikit meninggi.

__ADS_1


"Jelas-jelas persentasenya hanya 50 banding 50, tapi Anda lebih memilih ini dari pada langsung memperkenalkan dirinya," lanjut Lee.


"Kau tahu apa itu keberuntungan?" tanya Aishe.


"Aku hanya membuka sedikit celah, jika ternyata sinar mentari bisa masuk lebih banyak, itu berarti keberuntungannya." Aishe mengambil secangkir teh yang baru saja disajikan oleh maid.


Seulas senyum terukir di wajah Lee, meski sepintas, namun senyum itu dapat terlihat dengan jelas.


"Anda benar. Hanya saja, Anda membuka celah di sudut yang paling pas."


Aishe meletakkan cangkir usai menyeruput teh, lalu menegakkan kepalanya dan tersenyum sekali lagi. Harus dia akui, perkataan Lee memang ada benarnya. Aishe, telah membuka celah di sudut yang pas, dimana sinar mentari bisa masuk lebih banyak.


Bunyi dering ponsel membuyarkan keheningan sesaat yang sempat terjadi. Lee terlihat merogoh saku untuk mengambil ponselnya, memastikan bahwa panggilan yang masuk itu penting.


Benar saja, setelah dia melihat nama yang tertera di layar, dua sudut bibirnya langsung meninggi.


"Anda lihat! Sinar mataharinya masuk dengan sempurna!"


...☆TBC☆...


sebelum lanjut jangan lupa sajen 😘

__ADS_1


__ADS_2