
Mentari perlahan naik dari sisi timur, menyinari belahan bumi yang sudah semalam diselimuti kegelapan. Sinar terangnya berhasil menerobos masuk, menembus tirai tipis yang berada di ruang tengah. Namun sayangnya, cahaya terangnya tidak berhasil membangunkan seorang pria yang tidak sengaja tertidur di sofa.
Hingga tiba-tiba, tanpa mengerjap, pria berkemeja putih itu membuka mata dan langsung bangkit dari tidurnya. Kedua mata yang terlihat engan untuk terbuka itu langsung menelisik, memperhatikan sekitar.
Ketika ia mulai menyadari bahwa sang mentari telah beranjak cukup tinggi, barulah ia bergegas bangun. Seperti anak kecil, ia berlari mencari sang ibu. Zehra yang pada saat itu sedang menikmati kudapan di dapur dan melihat sang kakak berlari, merasa risih.
“Berhentilah berlari, Kak! Ibu sudah pergi sejak pagi tadi!”
Perkataan Zehra terdengar cukup jelas dan langsung membuat Elder menghentikan langkah kakinya. Pria itu berbalik arah mendekati Zehra untuk memastikan hal yang baru saja ia dengar.
“Apa! Ibu keluar?”
Rubby yang baru saja menyeduh Cay menyahut, “Benar. Nyonya keluar sejak pagi bersama Tuan Zavier dan Beyza.”
Elder sudah membuka mulut, hendak bertanya tentang keberadaan Beyza. Namun baru belum sempat sepatah kata keluar, Rubby lebih dulu menjawab.
“Beyza juga ikut.”
Entah, apa yang membuat Rubby bisa dengan mudah menebak isi kepala tuan muda. Mungkin itu karena para maid yang bekerja di kediaman Elder memberi kabar, jika tuan muda sempat mengamuk di rumah.
“Siapa yang bertanya tentang dia? Aku hanya ingin tahu, kemana ibu dan Zavier pergi,” elak Elder engan mengakui jika ia sempat ingin bertanya tentang keberadaan Beyza.
Rubby yang mengetahui sifat Elder pun hanya menghela napas panjang sembari tersenyum tipis. Dia memutuskan untuk pergi setelah menyodorkan segelas Cay pada tuan muda. Sedangkan Zehra justru mengedikkan bahu sambil menyeruput cay hangat.
Kesepakatan untuk tidak memberitahu Elder seperti baru saja terbentuk secara tiba-tiba. Dan hal itu sudah pasti membuat Elder semakin kesal, namun sayangnya, ia tidak bisa berbuat apapun pada adik perempuannya itu.
“Sudahlah, lupakan!”
__ADS_1
Pria itu akhirnya menyerah dan memilih untuk pergi ke kantor tanpa sarapan atau bahkan berganti baju lebih dulu. Ya, itu karena ia lebih memilih untuk menyuruh sang asisten mengambil baju di rumah.
Berpindah ke daerah dengan julukan Tanduk Emas yang berada di pesisir barat selat Bosphorus, Istanbul. Salah satu distrik besar di ibu kota, apa lagi jika bukan Levent. Distrik dengan gedung-gedung mewah pencakar langit. Termasuk salah satu gedung yang sedang di datangi Aishe bersama dengan Beyza.
Seorang pria berbadan tinggi, dengan jas putih yang melekat menutupi kemeja hitamnya, terlihat berjalan menghampiri Aishe. Pria muda yang umurnya selisih 2 tahun lebih muda dari Elder, terlihat tersenyum ramah saat menghampiri mereka.
“Anda sudah datang, Nyonya Besar,” sapa pria itu.
Aishe tersenyum tipis, lalu menepuk pundak pria itu sambil berkata, “Berhenti memanggilku nyonya besar.”
“Lalu, apa aku harus memanggil Anda … Ibu?” bisiknya.
“Cukup, jangan menggoda lagi! Cepat bawa aku ke ruanganmu!” pinta Aishe sambil menepuk punggung pria itu.
Pria berdarah asia timur dengan kulit putih serta mata yang sedikit sipit. Rupanya berhasil membuat Beyza yang diam-diam mengamati di belakang Aishe, tertegun untuk sejenak. Terlebih saat ia melihat pria itu tersenyum.
Siapa dia?
Kenapa dia ingin memanggil nyonya besar ‘Ibu’?
Rasa penasaran membelenggu pikiran Beyza, namun dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya pada Aishe. Memang, siapa aku? Begitulah kalimat yang terpampang ketika ia ingin menanyakan hal itu pada Aishe. Oleh karenanya, dia hanya memperhatikan keduanya mengobrol sambil tertawa renyah.
“Buatkan aku segelas Latte panas,” pinta Aishe berbicara pada seorang asisten perempuan yang membuka pintu ruangan.
“Tidak! Buatkan saja teh yang ada di rak kiri, baris kedua,” sahut pria itu, menahan sang asisten menuruti permintaan Aishe.
__ADS_1
“Kopi memiliki banyak kafein, tidak baik untuk kulit. Aku membawa teh yang bisa membuat awet muda,” lanjutnya menatap Aishe. “Anda pasti akan menyukainya.”
Mendengar hal itu, Aishe merasa sedikit tergelitik. Bukan karena bentuk perhatiannya, melainkan alasannya untuknya agar mau mengganti kopi dengan teh awet muda
“Kapan terakhir kali kita bertemu? Kau semakin pintar menipu!” ujar Aishe sambil duduk di sofa. Lalu mempersilakan Beyza untuk duduk disebelahnya.
“Aku tidak menipu. Sungguh!” sahutnya sambil mengangkat dua jari.
Aishe pun langsung tersenyum, lalu mendengus kesal melihat responnya. Selain itu, juga karena tidak punya alasan untuk terus memojokkan pria itu. Padahal sebelumnya, Aishe selalu bisa memojokkannya hingga tak berkutik lagi.
Pria itu sendiri ternyata cukup peka. Dia langsung merubah topik pembicaraan ketika menyadari ekspresi Aishe yang tidak bisa memojokkannya lagi.
“Baiklah, mari kembali ke topik,” kata pria itu terdengar sedikit tegas. “Apa yang bisa saya bantu?”
Satu pertanyaan yang langsung tepat sasaran. Jelas-jelas Aishe tidak mengatakan apapun saat menghubunginya kemarin, dan hanya mampir berkunjung. Namun siapa sangka, pria itu menebaknya dengan baik.
Senyum Aishe menyeruak untung sesaat. Tentu karena ia tidak menyangka, jika pria muda yang duduk di hadapannya itu, rupanya cukup peka.
“Namanya Beyza. Aku ingin kamu melatihnya!” jawab Aishe tanpa basa-basi sambil memperkenalkan Beyza.
Melatihku?
Keduanya saling menatap satu sama lain. Heran, tentunya. Dalam hati mereka tentu terbesit banyak pertanyaan tentang ucapan Aishe. Hal itu bahkan terlihat dengan jelas pada wajah keduanya.
...~TBC~...
__ADS_1