Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 63


__ADS_3

Musim telah berganti tanpa disadari. Tidak terasa, musim telah memasuki puncak musim panas di pertengahan tahun. Berada di suhu 27 derajat, membuat semua orang melepaskan mantel mereka dan mulai mengenakan pakaian ringan.


Tidak hanya itu, sebagian besar dari mereka pun sengaja mengambil cuti panjang untuk sekedar menikmati liburan. Sama seperti Diana, yang tiba-tiba merengek di kantor Elder, ingin mengajak pria sibuk itu berlibur.


Seakan tidak mengenal rasa takut meski sudah membuat salah satu maid Elder dalam bahaya. Diana yang beberapa kali tidak bisa menemui kekasihnya lantaran perintah dari Elder sendiri, akhirnya berhasil menerobos masuk.


“Sayang, ayolah! Beberapa hari ini cuaca sedang bagus. Bagaimana jika kita pergi ke pantai? Cuaca cerah, angin semilir, deburan ombak. Pasti sangat menyenangkan." Diana mencoba membujuk Elder agar mau pergi berlibur bersamanya.


"Ayolah, Sayang. Aku tidak pernah menikmati libur bersamamu. Pergi satu atau dua hari tidak masalah bukan?,” rengek Diana dengan manja.


Sambil memasang wajah santai tanpa rasa bersalah sedikitpun. Wanita berambut pirang itu merengek menggoyangkan tangan Elder yang pada saat itu sedang membaca berkas.


Ada rasa risih yang terlihat sekelebat di wajah Elder. Namun dengan cepat ia tutupi dengan seulas senyum hambar. Lalu dengan kuat menyingkirkan tangan Diana yang sejak tadi mengoyang lengan tangannya dan menganggunya membaca berkas.


“Aku sedang sibuk beberapa hari ini. Pergilah dengan teman-temanmu!” elak Elder berusaha menurunkan nada bicaranya agar terdengar lembut. Tapi percayalah, dia sangat gemas dan sangat membentak wanita itu.


Diana yang sudah berusaha meluangkan waktu. Bahkan bersusah payah menemui sang kekasih setelah ditolak beberapa kali, tentu saja merasa tidak terima. Raut wajahnya seketika berubah usai mendengar penolakan Elder. 

__ADS_1


Senyum lebar yang semula ia pamerkan, tiba-tiba redup. Rahangnya mengetat, bersamaan dengan mata yang menatap tajam. Rasa kesal yang bercampur dengan emosi, semakin terlihat jelas saat tiba-tiba tangannya menapik dokumen di meja kerja Elder hingga jatuh ke lantai.


Namun ternyata tidak hanya dokumen saja yang jatuh, bingkai foto yang ada di atas meja pun juga ikut jatuh. Kaca tipis itu langsung pecah begitu menghantam lantai. Serpihannya berserakan, bercampur dengan lembar-lembar dokumen.


Elder yang semula berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya, langsung berubah dalam sekejap. Melihat bingkai foto keluarganya jatuh di lantai, emosinya langsung meledak.


Sekonyong-konyong ia bangkit berdiri. Lalu dengan wajah penuh emosi, ia meraih dan mencengkram tangan Diana dengan kuat. Sangat kuat hingga gadis itu mengeluh kesakitan.


“Aku membiarkanmu selama ini, tapi kau semakin menjadi-jadi,” ucap Elder penuh dengan luapan Emosi.


“Jangan pernah lupa, namaku Elder Gulbar! Seorang Gulbar yang bisa menjatuhkan seseorang tanpa peduli apapun rintangannya!”


Benar saja, usai Diana mendengar nama Gulbar keluar dari mulut Elder, kedua mata gadis itu langsung membulat. Telapak tangannya pun basah, bahkan bulir keringat keluar dari keningnya.


“Keluar!” tegas Elder sambil mendorong tubuh Diana dan melepaskan cengkraman tangannya.


“Keluar dan jangan pernah muncul dihadapanku jika kau masih ingin berkarir di industri ini!”

__ADS_1


Namun Diana tidak mudah menyerah. Sambil memegang lengan yang sempat di cengkram Elder, dia menjawab,


“Konyol! Kita sudah bertunangan. Bagaimana bisa kamu bersikap seenaknya seperti ini.”


Elder diam membisu, tidak berkomentar apapun. Namun seruak emosi yang terpancar di wajahnya masih dapat dilihat dengan jelas oleh Diana. Dia yang tidak pernah melihat Elder semarah hari ini, tentu saja menjadi takut. 


Entah takut ditinggalkan atau takut dengan ancaman Elder sebelumnya. Namun satu hal yang pasti. Diana tahu dengan betul, bahwa keluarga Gulbar bisa saja menjatuhkan namanya kapapun. Bahkan meski ia memiliki pendukung.


“Sa-sayang, berhentilah bercanda,” bujuk Diana berusaha mendekati Elder yang saat itu sedang membersihkan tangannya dengan tisu.


Suara yang keluar dari bibir wanita itu terdengar sangat lembut. Namun sayang, ia tidak berhasil membuat gurat amarah di wajah Elder memudar. Dan justru mendapatkan tatapan tajam dari pria itu.


“Jangan membuatku mengulangi kata-kataku lagi!”


Tidak mau mengambil langkah ceroboh usai mendengar peringatan dari Elder, Diana pun bergegas pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. 


Tahanlah, Diana. Ini bukan waktu yang tepat untuk mendekatinya. Lebih baik mundur untuk saat ini dan kembali lagi besok.

__ADS_1


...☆TBC☆ ...


Jempol jangan lupa di goyang sebelum lanjut bab selanjutnya. 😘😘


__ADS_2