
"Ibu, maaf."
Satu kalimat dari Elder, membuat Aishe menatap lekat wajah sang putra yang berdiri di depannya. Pria 30 tahun itu menunduk, berusaha menyembunyikan air matanya.
Aishe bukan tidak peka, jelas ia tahu, jika mata sang putra sedang basah. Dia juga tahu, jika perasaan putra pertamanya itu sedang tidak baik-baik saja.
Dengan perlahan tangan tuanya terulur, ingin menyentuh wajah Elder. Namun sayangnya, tangan tuanya tidak bisa menyentuh wajah sang putra yang sudah tumbuh lebih tinggi dari sebelunya.
Melihat tangan Aishe tidak bisa lagi meraih wajahnya seperti dulu, membuat Elder buru-buru berlutut. Ia meraih tangan Aishe, lalu meletakkan tangan itu ke wajahnya. Sama seperti dulu, saat ia kecil dan tumbuh menjadi remaja.
"Lihat! Seberapa tingginya kau tumbuh? Ibu bahkan tidak bisa lagi menggapaimu seperti dulu," protes Aishe.
"Maaf, Ibu. Maaf," mohon Elder lagi, dengan air yang sudah membumbung di matanya.
"Dasar anak nakal! Buat apa kamu meminta maaf sampai menangis seperti itu?" Kesal Aishe sambil memukul pundak Elder dengan pelan.
Namun isak tangis pria itu, justru bertambah setelah mendengar perkataan Aishe. Seakan tidak peduli pada sekitar, dia terus menangis sembari meminta maaf.
"Sudah, berhentilah! Apa kamu tidak malu dengan tubuh besarmu ini, hah?" ucap Aishe sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes.
"Tidak! Aku benar-benar bersalah pada Ibu. Sungguh aku bersalah padamu!" tegas Elder, menolak untuk berhenti menangis.
"Elder. Anakku," panggil Aishe dengan suara teduh. Sangat teduh hingga pria itu menggengadah, menatap wajah sang ibu.
__ADS_1
"Dengar, Nak. Kau tidak menyakiti siapapun, jadi berhentilah meminta maaf dan merasa bersalah. Semua yang terjadi adalah kecelakaan, murni kecelakaan. Kau tau?" jelas Aishe.
"Kenapa Ibu masih saja egois, tidak mau menyalahkan aku? Aku sudah memaksa Ibu naik kapal pesiar, juga membawa duka untuk kalian semua. Aku menyakiti Ibu, juga semuanya!"
Ya, itu adalah cerita yang sangat lama. Sekitar belasan tahun yang lalu, ketika anak terakhir Aishe baru berumur 3 tahun.
Entah apa yang membuat pria berusia 17 tahun itu, secara tiba-tiba mengajak seluruh keluarganya untuk pergi berlayar.
Benar, berlayar. Tentu saja menggunakan kapal pesiar yang baru saja ia dapatkan dari Deniz, sang kakek. Begitu antusiasnya dia sampai Aishe tidak bisa memberi penolakan, padahal Diego sudah tegas menolak.
"Trauma mu masih belum sembuh. Kenapa kau terus saja menuruti anak itu?"
Perdebatan sempat terjadi. Namun Aishe berusaha meyakinkan sang suami bahwa traumanya pasti akan membaik. Dia bahkan menjelaskan keadaannya saat dibawa ke kapal tempat persembunyian Deniz dulu.
Desakan Aishe membuat Diego tidak dapat berkutik. Hingga akhirnya, mereka semua pun pergi, bersama dengan Guzel, Ashan, dan juga Jared.
Namun, malang tidak dapat di tolak. Tekanan arus bawah laut tiba-tiba menjadi kuat. Elder yang tidak mengetahui kondisi sekitar, hanya bisa terdiam ketika Emely tidak kunjung naik ke permukaan.
Kepanikan terjadi, Diego turun tangan dengan menceburkan dirinya ke laut. Memerintahkan Ashan dan Jared untuk membawa Zavier serta Elder naik ke kapal.
Jeritan Aishe melengking ke seluruh penjuru deck. Terdengar pilu dan pedih, hingga menggetarkan hati siapapun yang mendengar teriakannya.
Lima menit berlalu sejak Diego dan beberapa pengawal turun tangan. Kini, dia telah kembali, tentu saja dengan membawa Emely, anak ketiganya bersama Aishe.
__ADS_1
Hanya saja, yang ia bawa hanyalah raga tanpa jiwa. Sekuat tenaga ia berusaha melakukan CPR, tetapi denyut jantung putrinya tetap tidak kembali.
Itu adalah kisah yang sudah bertahun tahun berlalu. Kejadian yang membuat Aishe trauma kembali dengan laut. Juga, membuat Elder mengetahui kisah masa lalu sang ibu.
Alasan itu, semakin membuat Elder terpukul. Dia menyendiri selama beberapa bulan setelah itu. Merutuki segala keputusan yang dianggapnya sangat bodoh dan fatal.
"Kenapa Ibu tidak mengatakan padaku, kalau laut membawa trauma yang sangat mendalam. Kenapa, Bu?" ucap Elder sambil menunduk, menenggelamkan kepalanya sambil menggenggam kedua tangan Aishe.
Dua mata Aishe terbelalak. Kaget, tentu. Lantaran selama ini, dia merasa Elder menyalahkan diri atas kematian adiknya, bukan tentang dirinya. Dia tidak tahu, seberapa putus asanya sang anak. Hingga dia menolak jabatan dari Diego, juga fasilitas yang di berikan padanya.
Selama ini, aku sudah salah mengira. Mengira bahwa rasa penyesalan anakku hanya sebatas itu. Tapi kenyataannya, rasa sesalnya lebih dari itu.
Lagi-lagi, aku gagal memahami putraku sendiri. Aku telah gagal. Aku gagal jadi ibu yang baik, Die
...☆TBC☆...
'loh Thor, kok beda. Kemarin bukannya Emely kecebur di danau?'
Yang kemaren babang El mimpi ya guys. Cumi aja, cuma mimpi 😌 nah ini barulah kejadian yang benerannya.
Dah, othor mo narik selimut lagi.
__ADS_1
Di tunggu sebaran sajen kembang dan kopinya 💋
bab selanjutnya mau ngajakin babang Diego tampil lagi ah. Yang kangen dady, jangan lupa guyur kopi 😌