
...Maaf Presdir Lee, saya tidak bisa menyerahkan kontrak ini dengan tanganku sendiri. Sesuatu tiba-tiba terjadi dan saya harus pulang....
Begitulah isi memo yang Beyza tulis dan ia tempelkan di atas berkas, beberapa menit sebelum ia pergi.
Satu jam yang lalu, tepatnya pukul 5 pagi. Matahari masih belum menyapa belahan bumi yang lain. Saat dering ponsel membuat mata yang baru 2 jam terpejam, tiba-tiba terbuka.
Nama yang terpampang dengan jelas di layar, membuat Beyza buru-buru menghentikan dering dengan menjawabnya.
“Dimana kamu? Apa kau membohongi ibu?”
Suara lantang terdengar dari balik telepon, seketika membuat degup jantung Beyza menjadi cepat. Suara perempuan yang sangat tidak asing. Perempuan yang tidak pernah menghubunginya kecuali hal yang penting.
“Bukankah kau bilang, kau bekerja di keluarga Gulbar? Kenapa kau tidak ada disini?”
Mata Beyza membulat setelah mendengar perkataan sang ibu. “I-ibu pergi ke rumah keluarga Gulbar?” tanyanya memastikan.
Namun sebelum sang ibu memberinya jawaban, suara percakapan dari beberapa orang sempat ia dengar. Meski samar, Beyza bisa mengenali salah satu suara itu adalah Rubby, kepala pengurus.
“Ya, ibu datang untuk meminta uang padamu. Sudah satu minggu lebih kau tidak mengirimiku uang.”
Seketika, amarah Beyza meluap mendengar alasan sang ibu. Tangannya dikepal, bersamaan dengan tarikan napas panjang. Dia sangat ingin berteriak pada saat itu, tetapi ditahan dengan baik agar ibunya tidak membuat kegaduhan.
“Aku sangat sibuk beberapa hari ini. Baiklah, pulanglah lebih dulu, aku akan segera pulang,” bujuk Beyza.
“Tidak! Aku akan menunggu disini.”
Keras kepala Bedia membuat Beyza semakin pusing. Sifat ibunya yang terbilang nekat, membuatnya sedikit cemas. Cemas jika sang ibu membuat kegaduhan disana.
“Pulanglah Ibu. Sebentar lagi aku akan pulang.” Beyza masih berusaha membujuk dengan lembut, berharap Bedia bisa pulang tanpa membuat keributan.
Namun yang terjadi justru di luar perkiraan. Bedia masih keras kepala ingin menunggu di kediaman Gulbar. Bahkan ia mengancam, jika Beyza tidak datang dia akan menagih gaji putrinya pada keluarga Gulbar.
__ADS_1
Beyza yang tidak punya pilihan lain, hanya bisa menuruti perkataan sang ibu. Secarik memo pun ia tulis, lalu mengantarkannya ke kamar Rere untuk diserahkan pada Presdir Lee.
Beruntung, karena hari masih sangat pagi, jalanan pun sangat sengang. Beberapa ruas jalan terlihat sepi, membuat taxi yang Beyza naiki melaju dengan lancar.
“Huh, akhirnya kamu datang!” ucap sang ibu saat Beyza menghampirinya usai turun dari taxi.
“Ibu bisa menghubungiku, kenapa jauh-jauh datang kemari?”
“Kenapa kau bilang? Sudah lewat satu minggu, beras di rumah sudah habis, tagihan listrik dan gas juga menunggu untuk di bayar. Kau mau membuat kami mati kelaparan?”
Sakit, kata-kata yang baru saja diucapkan Bedia membuat hatinya teriris. Rasa kesal yang sejak tadi berkecamuk, mendadak dikalahkan oleh rasa sakit di hatinya.
Beban yang dia pikul, tiba-tiba terasa semakin berat. Padahal dulu tidak begitu. Tujuan awal ia bekerja hanya ingin membantu saja. Namun lambat laun, berubah menjadi tanggung jawab penuh.
Beyza yang teramat lelah dengan situasi yang dihadapi, tiba-tiba berkata sedikit kasar, “Kalau begitu, suruh ayah dan Eren mencari kerja! Jangan terus mengandalkanku.”
“Oh, kau keberatan sekarang? Aku telah membesarkanmu selama 20 tahun, berbaktilah sedikit padaku!”
Bakti seperti apa yang harus dia bayar hingga keringatnya terus diperas?
"Apa hanya aku yang harus berbakti? Lalu Eren bagaimana?"
Rasa kesal, kecewa, muak yang terkumpul, sebenarnya bisa ia ledakkan saat itu. Namun gadis itu bertanya dengan nada lembut dan sedikit serak.
Berharap ia mendapatkan jawaban yang memuaskan. Berharap sang ibu sadar bahwa dirinya telah pilih kasih.
Namun apa yang terjadi?
"Buat apa? Dia anak kandungku!" jawab Bedia sedikit lirih.
Lirih, tapi perkataannya dapat didengar dengan baik oleh Beyza. Beberapa patah kata yang berhasil membuat pertahanan air matanya hancur dalam sekejap.
__ADS_1
Bulir bening itu menetes dari salah satu mata indahnya. Jatuh, membasahi pipinya.
"A-apa yang baru saja ibu katakan?"
Lagi-lagi ia berharap sesuatu yang tak seharusnya. Berharap bahwa pendengarannya saja yang sedikit terganggu. Namun reaksi Bedia sudah memberinya jawaban.
“Itu … ma-maksudnya, dia anak kandung – tidak … maksudnya, kau juga anak kandung.”
Gaya bicara Bedia yang gelagapan, serta tingkah lakunya yang kebingungan. Sudah memberi tahu Beyza bahwa dia bukanlah anak kandung.
Pantas saja, patas saja perlakuan mereka berbeda. Rupanya ….
“Lantas, dimana orang tua kandungku yang sebenarnya?”
Beyza berjalan mendekat. Memangkas jarak antara dirinya dan Bedia. Setiap langkah maju yang dia ambil, membuat Bedia mengambil langkah mundur. Tatapan tajamnya, seakan menekan wanita berumur 55 tahun itu.
“Be-Beyza. Kau salah dengar, Nak. Maksud ibu bukan—”
Belum sempat Bedia melanjutkan kata-katanya, Bezya lebih dulu memotong. “Cukup!” bentaknya dengan bulir air mata yang menetes.
“Anda tidak memberitahu, maka aku akan mencarinya sendiri!”
Kata demi kata yang terucap dari mulut Beyza, berhasil membuat Bedia cukup tertekan. Dia bahkan menahan napas saat mendengarkan Beyza berbicara.
Rahasia yang disimpan rapi selama 20 tahun, tidak sengaja terucap oleh mulutnya sendiri. Bedia yang takut sumber uangnya hilang, kini terkulai lemas.
Dia jatuh terduduk, sambil menatap punggung Beyza yang perlahan menjauh.
...☆TBC☆...
__ADS_1
Besok othor ada acara, kayaknya up bakal telat. mohon dimaklumi ye 😙😙