Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Kasih dan sayang.


__ADS_3

Anin berkutik didalam dapur perusahaan itu, ia memasak bubur dengan gerakan cepat. ia seakan sudah terbiasa memasak hal itu, sampai beberapa menit kemudian bubur sayur yang dimaksud Arzan telah siap, sentuhan terakhir Anin menuang air dalam gelas dan siap makanan itu diantar keruangan Adnan. sampai diruangan Adnan, Anin langsung masuk dan melihat dokter sedang bicara dengan Arzan. ia melihat Adnan yang sudah bangun, pria itu mendudukan dirinya dan masih memegang perutnya yang mungkin masih sakit. Anin menunggu mereka diluar, sampai melihat dua pria itu berjalan keluar kearahnya.


"sudah siap buburnya! " ucap Anin, Arzan tersenyum kemudian mengangguk.


"antar makanan itu padanya, usahakan dia memakan semuanya hingga habis! " ucap Arzan dengan senyuman, Anin mengangguk dan berjalan pergi membawa makanan yang sudah ia buat. Arzan dan dokter itu menatap kepergian Anin, kemudian dokter itu menoleh kearah Arzan dan memiringkan kepalanya.


"pegawai baru? " tanya dokter itu, Arzan mengangguk untuk mengiyakan. "manis sekali, sepertinya aku pernah melihat gadis itu! " ucap pria itu yang juga teman dari Arzan dan juga Adnan bernama Reza, Arzan dengan bingung menoleh kearah Reza. kemudian dua orang itu saling menggelengkan kepala, dan keduanya keluar dari ruangan itu.


Anin membawa bubur itu mendekat kearah Adnan, pria iitu melihat kedatangan Anin yang berdiri agak jauh dari nya. Anin semakin dekat untuk meletakkan bubur dimeja Adnan, pria itu terus mengeryitkan dahinya untuk menahan sakit. apakah sesakit itu yang ia rasakan, bagaimana cara menghilangkan sakit itu, agar pria itu tidak lagi merasakan sakit, Anin terus bicara dengan hatinya tanpa jawaban yang pasti.


"aku tidak mau itu, keluarlah! " ucap Adnan dengan lirih masih didengar Anin, gadis itu mengangkat alisnya dan kemudian mengaduk bubur itu dengan perlahan. Adnan yang melihat itu mengeryitkan dahi, Anin mengaduk dan bersamaan meniup bubur itu agar tidak terlalu panas. Anin memberikan mangkuk bubur itu, tapi Adnan tidak menyentuhnya dan membuang muka untuk tidak melihat bubur itu. makanan yang paling di benci Adnan, tapi ia harus makan itu karena rasa perih diperutnya.


"tuan anda belum sarapan pagi ini, dan juga ini sudah waktunya makan siang. masalah pencernaan itu sangat serius, itu bisa menghambat aktivitas anda dan juga kesehatan anda. makan lah, meskipun sedikit setidaknya ada pemasukan untuk perutmu! " ucap Anin yang masih memegang bubur itu, ingin Adnan menjawab, gadis itu memasukkan satu suapan pada mulut Adnan. membuat pria itu terkejut, dengan cepat menutup mulut dan mulai mengunyah bubur dalam mulutnya. Anin tersenyum ketika Adnan mulai mengunyah, perlahan tapi pasti pria itu menelan makanan dalam mulutnya. Adnan menunggu Anin menyuapi nya lagi, ia menyukai bubur buatan gadis itu. bubur itu mengingatkan nya ketika kecil dulu, ia sedang sakit dan Naira membuatkannya bubur. dirinya tidak mau memakan bubur itu, tapi sangat ibu memaksa nya hingga bubur itu lenyap tak tersisa.


"Nanan ayo makan bubur ini, kalau kamu tidak makan kamu gak akan sembuh. mama capek loh buatnya, apalagi buatnya penuh dengan kasih sayang buat Nanan!."

__ADS_1


"Nanan papa beri kamu waktu lima belas menit, habiskan nanti papa kasih yang kamu mau, apapun itu! "


"iya Nanan, nanti siapa yang nemenin Nana main kalau kamu sakit. kemarin Nana makan banyak waktu sakit, terus besoknya Nana sembuh dan main lagi sama Nanan! "


"enak? " tanya Anin dengan senyuman, Adnan tersadar dari lamunannya. sampai ia kembali menangis ketika mengingat sang adik, wajah polos dan manis itu terukir dimata Adnan. gadis itu terkejut melihat Adnan menangis, Anin meletakkan mangkuk bubur yang ia pegang dan gelabakan melihat pria didepannya itu semakin menjadi.


"kenapa dia tidak adil... kenapa dia merebut kebahagian kami... aku ingin kembali seperti dulu, aku... ingin mama ku sembuh... dimana adikku... temukan aku dengan nya... " tangis Adnan kembali pecah, Anin bingung ia harus apa. sampai tangannya terulur dan memeluk pria itu, tubuh Adnan gemetar seiring ia menangis. Anin bisa merasakan betapa pedihnya hati pria itu, tapi Anin tidak mengerti hanya menenangkan Adnan yang sedang merancau. "aku ingin mencari adikku... adikku sedang menunggu... tapi aku tidak berguna... aku belum menjemputnya selama ini... "


"adikmu hilang? " tanya Anin pelan, Adnan mengangguk dengan lirih. Anin sendiri terkejut dengan itu, ternyata pria itu selama ini merasa kehilangan. tangisnya pilu membuat siapapun merasa ibah, untuk yang kedua kalinya Adnan menangis di hadapan orang lain. apalagi didepan Anin yang masih awal ia kenal, tapi hatinya seperti mengenal Anin dan nyaman didekat gadis itu. "kita akan mencarinya! " Adnan melepas pelukan itu, ia menatap Anin dengan banyak pertanyaan.


"aku akan membantu mencari adikmu tuan, anda tidak sendiri mencarinya. aku bersedia menemanimu, anda pasti akan menemukan adik anda secepatnya! " ucap Anin dengan penuh keyakinan, Adnan yang mendengar itu hanya diam tanpa menjawab. "tapi anda sakit sekarang, apa anda tidak ingin sembuh mencari adikmu. sekarang makan bubur ini sampai habis, kemudian minum obatnya lalu anda bisa istirahat. jika anda tidak mau memakan ini, anda tidak akan sembuh dan tidak akan bisa mencarinya! " sedetik kemudian Adnan mengambil mangkuk itu, pria itu mulai menyendokkan bubur itu ke mulutnya. berulang kali ia lakukan hingga bubur itu habis, Anin tersenyum senang melihat itu. Anin memberikan air dalam gelas kepada Adnan, dan tidak lupa obat yang sudah tersedia disana. selesai semuanya Adnan berhenti sejenak, Anin membersihkan sisa mangkuk dan gelas kotor itu.


"Terima kasih, untuk masalah mencari adikku... "


"aku pasti akan membantumu tuan, sekarang jangan dipikirkan lagi. sekarang anda hanya perlu istirahat, besok baru kita pikirkan apa yang akan dilakukan. oke? " ucap Anin membawa Adnan berbaring, pria itu hanya mengangguk pelan dan menuruti perkataan Anin. Adnan mulai memejamkan matanya untuk tidur, Anin keluar dari sana setelah melihat Adnan yang sudah terlelap tidur. tapi Adnan kembali membuka matanya, ia menatap punggung Anin yang perlahan hilang dibalik pintu. Adnan yang tidak pernah bisa tidur pun kembali terjaga, ia hanya menatap lurus kerasa depan matanya dengan tatapan kosong dan segala pemikirannya.

__ADS_1


...****************...


dua hari kemudian Anin menepati janji pada Adnan, gadis itu menemani Adnan untuk mencari sang adik. Anin sudah memakai pakaian seadanya, dress cantik berwarna putih bermotif bunga membuat Anin terlihat anggun. Anin menunggu kedatangan Adnan dengan gelisah, ia takut dan juga bingung. bagaimana tidak, ia seperti ingin melakukan sebuah kencan buta dengan seseorang. sampai suara mobil terdengar di depan rumahnya, dengan cepat Anin mengambil tas kecil dan ponselnya kemudian berlari keluar kamar. terlihat Adnan mengobrol dengan ibu Anin, seperti nya pria itu sedang meminta izin pada ibu Anin.


dengan perlahan tapi pasti, Anin berjalan mendekati dua orang itu. Adnan dan ibu Anin pun sadar, mereka menoleh dan melihat Anin yang cantik disana. Adnan ternganga melihat kecantikan gadis lugu itu, menggunakan riasan yang sederhana sangat pas untuk wajahnya yang imut. tiba tiba wajah gadis itu berubah menjadi wajah Naira dimatanya, Adnan terkejut dan mengedipkan matanya berulang kali.


"ada apa tuan? " tanya Anin yang sudah didepan Adnan, pria itu terkejut dan kemudian menggelengkan kepalanya. Anin tersenyum canggung, ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


mereka berdua memberi salam pada ibu Anin, kemudian berjalan beriringan. Adnan membuka pintu mobilnya, Anin pun yang diberikan akses seperti itu langsung masuk dan duduk dengan tenang. benar benar seperti melakukan sebuah kencan, Adnan masuk dan memasang sabuk pengaman nya. Anin berusaha menarik sabuk pengaman yang akan ia gunakan, tapi benda itu sedang tersangkut membuatnya susah untuk ditarik. sampai tangan Adnan terulur untuk membantu, jarak mereka saling mendekat. sampai Anin mendengarkan detak jantung Adnan, Adnan menoleh kearah Anin dan menatap gadis itu. mata mereka berdua bertemu, sampai suara terpasangannya sabuk pengaman membuat Adnan sadar dan menjauh. Anin langsung membuang mukanya diluar mobil, ia memegang dadanya sendiri.


"saya punya daftar panti asuhan yang akan kita kunjungi, hari ini kita bisa mengunjungi beberapa yang kita bisa! " ucap Anin memulai obrolan, Adnan tersenyum dan mengangguk. ini lah yang ia ingin, didampingi oleh seseorang yang mengerti semua tempat dikota yang belum pernah ia tempati. Adnan tidak memanfaatkan kebaikan Anin, pria itu akan membalas kebaikan Anin dan itu dapat dipastikan. Adnan mulai menjalankan mobil untuk pergi dari sana, Anin mulai menuntun jalan yang akan mereka tuju. untuk pertama kalinya Adnan bicara dengan seorang gadis, dekat dengan seorang gadis. bahkan mobilnya yang tidak pernah terisi seorang gadis tapi kali ini terisi juga dengan Anin si gadis cantik. gadis yang ia kenal beberapa hari itu, terasa sangat dekat dengannya seperti memiliki ikatan batin diantara keduanya. bahkan sekarang keduanya memilki pemikiran sama, kenapa mereka bisa sampai bersama seperti saat ini.


...****************...


Jangan lupa like komen ya, untuk memberi author semangattt <3

__ADS_1


__ADS_2