Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Menampar.


__ADS_3

hari berganti menjadi esok, dan Anin setia menunggu Adnan hingga sadar. Anin terus duduk disofa pinggir Adnan, pria itu masih tidak membuka mata sama sekali. kesehatan Adnan terus dikabarkan baik oleh dokter, tapi pria itu masih memulihkan dirinya untuk membuka mata. Anin tersenyum melihat wajah Adnan, ia masih tidak tahu arti dari sikapnya yang peduli dan seperti sayang pada Adnan. sampai dirasakannya Adnan menggerakkan jarinya, Anin mengusap air matanya sekilas dan menatap Adnan dengan seksama. pria itu mengerjapkan matanya sebelum membuka mata, Anin semakin senang melihat itu dan menatap Adnan yang membuka mata meskipun tidak bersuara.


"tuan Adnan, apa kau melihatku? " tanya Anin memegang lengan Adnan, mata pria itu tiba tiba melotot ketika kesadarannya penuh. Anin teringat Adnan tidak bisa berada dirumah sakit, ia yakin Adnan akan memberontak seperti sebelumnya. meskipun tubuh Adnan lemas, ia sadar penuh dimana dirinya sekarang berada. Anin memanggil dokter dengan cepat, perawat datang bersamaan dengan dokter. disana juga terdapat Arzan, pria itu menahan Adnan yang terus meronta meminta pergi dari sana.


"biarkan aku pergi, aku ingin bersama adikku... " ucap Adnan terdengar lemah, Anin hanya melihat itu dengan ketakutan. sampai dokter menyuntuk Adnan dengan obat penenang, dan seketika Adnan mulai tenang dan menidurkan dirinya yang masih lemah. dokter mengatakan Adnan sudah siuman dan keadaannya baik baik saja, Anin dan Arzan senang mendengar itu. dokter pergi dari sana, Arzan menatap Adnan yang tidak sepenuhnya tidur.


"apa kau gila, kau baru saja mengalami kecelakaan karena kebodohanmu. sekarang kau malah menggila, kami semua khawatir dan berdoa agar kau sehat. kau malah seperti orang gila, ayolah bertahan sebentar disini untuk pemulihan mu! " ucap Arzan yang kesal, Adnan menggelengkan kepalanya dengan menutup mata. ia tidak berani membuka matanya, karena merasa hampir gila jika ia melihat ruangan disana.

__ADS_1


"aku tidak bisa disini, ini membuatku sesak! " ucap Adnan lirih dan terdengar lemah, Arzan memijat kepalanya karena tidak habis pikir dengan temannya itu. Anin yang melihat itu berpikir keras, bagaimana ia akan membuat Adnan betah disana dan tidak teringat pada trauma nya. tiba tiba Anin merasa pusing pada kepalanya, tubuhnya merasa lemah ia pun ambruk disofa besar yang ada disana. Arzan langsung menoleh dan melihat gadis itu terduduk dan tidak sadarkan diri, Arzan langsung berjalan cepat untuk menghampiri Anin.


"Anin ada apa, buka matamu? " tanya Arzan, tidak ada sahutan dan ia pun langsung membawa Anin dalam gendongannya. Adnan yang mendengar nama Anin pun membuka mata, pria itu melihat Anin dalam gendongan Arzan. sedetik kemudian Adnan menutup matanya lagi, ia tidak tahan berada disana kemudian ia ingin cepat tertidur. Arzan menggebrak pintu Adnan, dan membuat pria itu terkejut dan menatap Adnan. "apa kau masih ingin pergi dari sana, apa kau tidak ingin dirimu pulih? " Adnan diam menatap temannya itu, ia tidak tahu kenapa Arzan tiba tiba marah. "kau tahu gadis itu sudah sangat berani mendonorkan darahnya untukmu, dan dia sudah bersumpah tidak akan makan dan minum jika kamu tidak sehat. pikirkan sekarang dia sudah memberikan begitu banyak darah, dia bahkan belum menyentuh makanannya. sekarang dia tidak sadarkan diri, tapi kau malah tidak tahu diri seperti orang gila! " ucap Arzan bersulut marah, hal itu membuat Adnan terkejut. tidak mungkin dirinya separah itu sampai kekurangan darah, Adnan langsung mendudukan dirinya dan ingin menemui Anin. tapi Arzan menahan keras Adnan, karena pria itu saat ini sedang lemah dan pria itu juga tidak lupa temannya sedang mengalami patah tulang dan kaki. Adnan menghela nafasnya, ia meruntuki kebodohannya.


...****************...


Anin membuka matanya setelah lama tertidur, ia tidak tahu sejak kapan menutup mata. tubuhnya sangat lemah, ia tidak kuat untuk bergerak. tenggorokannya kembali kering, tangannya berusaha mencapai air dalam gelas. tapi sebuah tangan terulur membantu Anin, tangan itu mengambil gelas yang berisi air. Anin terkejut melihat tangan siapa itu, karena melihat Adnan yang duduk di sampingnya. pria itu duduk dengan duduk di sebuah kursi roda, dengan perban dikepala dan juga kaki tangannya. Anin tersenyum kemudian mendudukan dirinya, ia menatap Adnan tanpa bicara. Adnan memberikan air itu, dan langsung diteguk habis oleh Anin.

__ADS_1


"kenapa anda disana? " tanya Anin pada Adnan, bukannya menjawab pria itu menggelengkan kepalanya. sedetik kemudian menundukkan kepalanya, Adnan kembali menangis tanpa bersuara. Anin kembali dikejutkan dengan itu, Anin meletakkan makanannya dan beralih ke Adnan. Anin membawa kepala pria itu untuk tidak menunduk, Anin mengusap air mata itu.


"kenapa kamu menolongku... seharusnya biarkan aku mati... aku ingin menyusul adikku, aku ingin menemani adikku... tidak ada gunanya aku hidup, apalagi hidup tanpa adikku..." ucap Adnan lirih, Anin yang mendengar itu menampar pipi Adnan dengan keras. hal itu mengejutkan Adnan, pria itu menatap Anin dengan bingung.


"benar kata tuan Arzan, kau pria gila. kau memikirkan kesedihanmu hingga menjadi gila, jangan egois dengan perasaanmu sendiri. kau masih memiliki keluarga, ada ibu dan ayahmu. cepat atau lambat mereka akan tahu kalau mereka telah kehilangan putrinya, lalu jika kau mati kemarin apa yang akan dirasakan kedua orang tuamu. mereka kehilangan putra dan putri mereka, kau bilang ibumu sakit kan, bagaimana kalau ibumu juga berpikir seperti mu. pikirkan itu tuan Adnan, jangan pikirkan egomu sendiri. bukan hanya kamu yang akan merasa sedih, mereka juga akan sedih tapi aku yakin mereka akan menerima kenyataan meskipun itu sangat pahit! " ucap Anin dengan marah, mata gadis itu sudah sangat panas dan air mata mulai menetes. entah kenapa Anin sangat kesal pada pria itu, kekesalannya ia luapkan dan kemudian menangis. Adnan membenarkan semua ucapan Anin, pria itu benar benar memikirkan kesedihannya saja dan menjadi egois. Adnan menangis lagi hingga pria itu sesenggukan, ia sungguh tidak berdaya daan terus menyesali kebodohannya. Adnan menatap gadis didepannya, jika gadis itu tidak menolongnya mungkin akan banyak duka yang orang tuanya rasakan.


"maafkan aku... maaf... aku sangat bodoh... " ucap Adnan memegang tangan Anin, pria itu menangis dan memohon maaf pada Anin. dengan tangisnya juga Anin memeluk Adnan, mereka saling menenangkan diri mereka. Anin menyesal telah berkata kasar dan sempat menampar Adnan, pria itu juga menyesal meskipun sudah diselamatkan oleh Anin, pria itu masih berpikiran untuk mati menyusul sang adik.

__ADS_1


"jangan menangis lagi tuan, kamu adalah putra yang hebat dan kamu kakak terbaik. adikmu akan sedih melihat dirimu yang lemah, jangan menangis! " ucap Anin yang memeluk Adnan, dengan lemah Adnan mengangguk dan melepas pelukan itu. Anin melihat pipi Adnan yang merah, gadis itu mengelus pipi itu membuat Adnan tersenyum dan meringis karena nyeri mengenai lukanya. "maafkan aku... " ucap Anin menyesal, gadis itu menurunkan tangannya dan mulai ingin menangis.


"jika kau tidak menamparku, bagaimana aku bisa sadar... " ucap Adnan tersenyum, Anin hanya tersenyum dan mengangguk. "tapi tamparan mu mengenai lukaku, tidak masalah bisa diobati! " ucap Adnan tersenyum lagi, Anin yang masih menyesal hanya tersenyum dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Adnan tidak betah didalam ruangan yang membuatnya trauma, tapi perasaan itu hilang setelah melihat Anin tersenyum manis kepadanya.


__ADS_2