Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Kembali ke rumah.


__ADS_3

Adnan bersiap membawa Anin untuk pergi kerumahnya, mereka saling berpamitan. Anin berpamitan pada Arzan yang disana, Arzan sebenarnya ingin sekali ikut dengan mereka, tapi pekerjaannya disini lebih penting dan harus diselesaikan. Anin melihat rumahnya yang akan ia tinggalkan itu, ia berjanji akan kembali untuk mengunjungi ruang itu lagi. Anin membawa foto ibunya, ia peluk foto itu dan kemudian memasukkan nya ke dalam tas koper miliknya.


"cih... mana ada orang ngelamar cewek kayak kamu gitu! " ucap Arzan meledek Adnan, pria itu pun sadar dengan sindiran Arzan. dirinya memang tidak ada persiapan untuk melamar Anin, tapi ia berjanji setelah sampai rumahnya Adnan akan melamar Anin secara resmi seperti pasangan lain. Anin berjalan masuk kedalam mobilnya, diikuti Adnan yang juga duduk di sampingnya, supir siap menjalankan mobilnya.


"ingat jika ada kesalahan dalam perusahaan, aku akan mengirimu ke Amerika hari itu juga! " ucap Adnan mengamcam, Arzan hanya menatap dengan tajam dan bergumam. hal itu biasanya membuat Anin tertawa, tapi gadis itu hanya diam tanpa tersenyum sedikitpun. "kami berangkat dulu, jaga dirimu baik baik! " ucap Adnan lagi, Arzan mengiyakan itu dan mobil mulai berjalan jauh dari diri Adnan. Arzan berharap mereka berdua saling mengobati luka, Adnan mendapatkan gadis yang tepat begitun dengan Anin yang mendaptkan Adnan.


disepanjang jalan Anin hanya diam, sesekali Adnan melirik gadis itu yang terus terdiam. biasanya gadis itu akan sangat cerewet, apapun ia ceritakan hingga mulutnya akan lelah dan ia diam. Adnan memegang tangan Anin dengan lembut, gadis itu pun menoleh dan tersenyum pada Adnan.


"jangan pikirkan lagi, ibumu pasti akan bahagia melihat kamu juga bahagia, hm? " ucap Adnan lembut, Anin pun mengangguk dan mengiyakan itu. selama perjalanan Anin merasa gelisah, perasaannya tidak enak. ia tidak mengerti kenapa perasaan itu muncul, semua jalanan pernah melintas di kepalanya. cukup membuat kepala itu berdenyut, Adnan yang melihat itu langsung fokus untuk menatap Anin dan memperhatikan gadis itu. "ada apa? " tanya Adnan khawatir, pria itu khawatir penyakit Anin sebelumnya terjadi lagi. tapi melihat Anin menggelengkan kepala, Adnan masih memperhatikan Anin dan memegang pipi gadis itu.


"aku tidak apa, hanya kepalaku sangat sakit! " ucap Anin memegang tangan Adnan, tangan yang menyentuh pipinya itu membuat dirinya nyaman. dengan senyuman Anin melihat kearah Adnan, sedetik kemudian ia menyenderkan kepalanya pada pundak Adnan. pria itu tersenyum dan mengelus kepala Anin, ia masih tidak percaya sudah jatuh cinta pada gadis itu.

__ADS_1


beberapa menit kemudian mobil itu mulai memasuki daerah perumahan yang sepi, Anin melihat kearah luar jendela. jantungnya tiba tiba merasa berdetak dengan kencang, semakin mobil itu melaju mendekati rumah Adnan, semakin Anin merasa sesak pada dadanya. sampai akhirnya gerbang rumah Adnan terbuka, dan mobil itu melaju hingga depan rumah. pintu dibuka oleh seorang pelayan dan Adnan keluar secara perlahan, dengan perlahan Adnan berjalan untuk membuka pintu mobil Anin. gadis itu turun setelah Adnan membuka pintu, beberapa orang terkejut disana yang melihat tuan muda mereka membawa seorang gadis.


"ini rumah ku, bukan milikku tapi milik orang tua ku!" ucap Adnan tersenyum, Anin hanya menatap Adnan dengan tersenyum tipis. ia tidak percaya rumah Adnan lebih besar dari yang ia pikirkan, Anin melihat sekelilingnya yang dikelilingi oleh beberapa orang. mereka menunduk untuk memberi sapaan, dadanya sudah sesak dan sekarang kepalanya pusing melihat banyak orang. Adnan sadar yang terjadi pada Anin, pria itu meminta beberapa orang disana untuk bubar dan melanjutkan pekerjaan mereka.


Adnan membawa gadis itu masuk kedalam rumah nya, setiap langkah terasa berat untuk Anin. bukan berat untuk melangkah masuk, tapi kakinya itu seakan meminta nya untuk berlari kedalam rumah itu. kenapa ia merasa rumah itu pernah ia lihat sebelumnya, dan ia merasa rindu dengan rumah itu. sedangkan ia baru saja melihat rumah itu, baru saja ingin masuk kedalam rumah itu. sampai Anin melihat seorang berdiri di sebuah tangga, Adnan melangkah untuk menghampiri sang ayah.


"papa dengar kamu kecelakaan, apa itu benar? " ucap Adrian melepas pelukan sang putra, Adnan tersenyum kemudian mengangguk.


"Adnan sudah baik baik saja, hanya kaki yang belum bisa berjalan dengan normal! " ucap Adnan, pria itu menoleh kearah belakangnya. dilihatnya Anin yang menatap rumah besar itu, kemudian Adrian melihat Anin dengan wajah bersinar.


"pa dia Anin, dia yang merawat Adnan selama disana dan juga saat kecelakaan terjadi. ibunya meninggal kemarin, jadi aku membawanya kemari ikut bersamaku! " ucap Adnan membuat Adrian kecewa, pria itu mengira Anin adalah putrinya yang sudah hilang. hampir saja Adrian berlari untuk memeluk putrinya, tapi hilang sudah rasa itu dan menatap putranya lagi.

__ADS_1


"lalu dimana adikmu, apa sudah ketemu? " tanya Adrian, Adnan terdiam dengan itu. bagaimana ia menjelaskan pada orang tuanya, bukan adiknya yang ia temukan, melainkan makam sang adik. Adnan menatap ayahnya dengan lemah, Adrian sendiri tahu jawaban putranya itu.


"sebenarnya ada sesuatu yang ingin Adnan bicarakan, ini tentang Nana... " belum sempat Adnan menyelesaikan ucapannya, suara teriakan membuat mereka terkejut. suara itu adalah suara wanita yang mereka cintai, Adrian dengan cepat berjalan mencari asal suara itu.


"Nana... kamu sudah pulang! "


Adrian melihat Naira yang menangis, Naira memeluk gadis yang dibawa oleh Adnan yaitu Anin. gadis itu terdiam ketika Naira memeluk nya, ia juga merasa terkejut dengan teriakan Naira. sebelumnya Anin hanya berkeliling melihat rumah itu, kemudian ia melihat beberapa foto yang ditempel di dinding. begitu banyak foto disana, sampai ia melihat foto kecil Adnan dengan seorang gadis kecil yang diyakini nya adalah adik Adnan. ia senang melihat itu, bahkan dirinya yang sudah dewasa pun tidak pernah melihat bagaimana dirinya saat kecil. tiba tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Naira yang menarik tangan itu dan memeluknya dengan erat.


"Adrian putri kita pulang, dia... " ucap Naira menangis, Adrian menghampiri Naira dan dipeluk nya tubuh kecil istrinya. Adnan berjalan kearah Anin, dan melihat Anin ketakutan disana. "dia Nana, kamu bawa Nana pulang... " ucap Naira lagi, Anin menatap sendu wajah Naira. ia sudah tahu kalau Naira adalah ibu Adnan yang sedang sakit, Adrian membawa Naira dalam gendongannya dan masuk kedalam kamarnya. suara Naira meronta terdengar jelas, membuat hati Adnan dan juga Anin merasa pilu.


"apa kau baik baik saja? " ucap Adnan khawatir, Anin mengangguk dengan tersenyum.

__ADS_1


"kamu harus mengatakan nya Adnan, katakan pada mereka apa yang kamu temukan kemarin! " ucap Anin, Adnan pun mengangguk. ia juga tidak ingin orang tuanya terus berharap putri mereka kembali, karena sampai kapan pun putri rumah itu tidak pernah kembali dan sudah bahagia di surga.


Adnan membuntuti kedua orang tuanya, ia siap menceritakan semuanya pada Adrian dan juga Naira. apapun resiko nya nanti, Adnan akan mengatasinya nanti. Adnan menceritakan semuanya pada Adrian dikamar Naira, dengan sangat terpukul Adrian mendengar itu. pria dewasa yang usianya hampir setengah abad itu tidak kuat menahan tangis, tangisan Adrian pecah dalam pelukan putranya. Adnan memeluk sang ayah, ia membiarkan tangisan itu terjadi karena setelah ini pasti mereka semua akan melupakan kejadian ini dan memulainya lagi. meskipun kata memulai lagi itu sangat berat, tapi Adnan akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orang tuanya.


__ADS_2