
terik panas matahari menembus sebuah gorden jendela, hingga masuk kedalam rumah yang terdapat pemiliknya. sang pemilik rumah tidur dengan nyenyak diatas sofa, tentu saja Arzan yang semalam tertidur diatas sofa. kelopak matanya bergerak, menandakan pria itu akan membuka matanya. kepalanya terasa begitu berat, pusing juga ia rasakan begitu dalam. potongan kejadian semalam teringat dalam otak Arzan, ia menghela nafas karena melakukan hal bodoh dengan banyak minum.
saat akan mendudukkan dirinya, ia terkejut dengan seseorang yang duduk di lantai. siapa lagi kalau bukan Nadira, gadis itu tertidur diatas meja dengan duduk bersila di lantai. Arzan yang melihat itu terkejut, dengan pelan Arzan menggendong tubuh Nadira dan membawa gadis itu kekamar nya. Nadira tertidur pulas bahkan gerakan Arzan tidak membangunkan gadis itu, terlihat bekas air mata pada kelopak mata dan juga pipi gadis itu. Arzan mengusap pipi itu dengan lembut, dan mengingat Nadira yang membawanya masuk kedalam rumahnya saat tengah malam sebelumnya.
Arzan memperhatikan Nadira yang tertidur, gadis itu menggunakan piyama tidur yang biasa ia pakai. tapi pandangan Arzan berhenti pada tangan Nadira, lebih tepatnya jari manis Nadira yang terdapat cincin berlian melingkar disana. Arzan mengingat gadis yang ia cintai itu telah menjadi tunangan orang lain, Arzan berdiri dan sedikit menjauh dari tubuh Nadira. pria itu keluar dari kamarnya dan menutup pintu, kali ini suara pintu tertutup membuat Nadira mengerjapkan mata. gadis itu membuka matanya dan terkejut berada dikamar, kemudian ia mendengar pergerakan Arzan dari luar kamar itu.
Nadira berjalan membuka pintu kamar itu, terlihat Arzan masuk kedalam kamar mandi. Nadira yang melihat itu segera keluar dari sana, ia memilih untuk pindah ke apartemen yang ditinggali Maira. Arzan sadar kepergian Nadira, pria itu hanya tersenyum tipis kemudian masuk kedalam kamar mandi. Nadira masuk kedalam kamarnya, ia tidak memperdulikan Davina dan juga Maira yang sedang duduk didepan televisi.
"ada apa dengannya, apa ini tidak terlalu pagi? " tanya Davina heran, Maira menggelengkan kepalanya dengan tidak mengerti.
setelah berada dikamar cukup lama, Nadira keluar dari kamarnya dan bergabung dengan Maira. gadis itu duduk di ruang tamu, ia mengganti acara televisi yang menjadi kesukaannya. Maira dan Davina saling melihat, kemudian mereka saling tidak mengerti satu sama lain.
"jangan menonton TV, kemarilah dan makan!" ucap Maira, Nadira menoleh dan terkejut melihat Arzan disana. pria itu membantu Maira menyiapkan piring dan peralatan makan lainnya, padahal Arzan sebelumnya masih ada di kamarnya. Nadira duduk di meja makan dengan perlahan, ia memegang sendok tanpa melihat kearah Arzan.
__ADS_1
"eh Nana.. kamu ngapain pagi pagi banget sudah kesini, kamu dari mana? " tanya Davina yang sangat penasaran, Nadira yang mendengar itu tersenyum kemudian melihat kearah Arzan.
"tidak, tadi hanya jalan jalan pagi! " ucap Nadira, ia memasukkan makanan penuh di mulutnya. hal itu membuat Nadira susah mengunyah, ia terbatuk sendiri dan mencoba menelan dengan air. Arzan yang melihat itu tersenyum, kemudian meberikan jus pada masing masing wanita disana.
"tuan Arzan sangat sayang pada adiknya ya! " ucap Maira tersenyum, Arzan menoleh dan mengangguk dengan senyuman.
"kalian semua lebih muda dariku, tentu saja akan aku anggap sebagai adik semua. dan Maira tidak perlu memanggilku tuan, panggil saja Arzan atau kau bisa memanggil seperti yang lain misalnya kak Arzan! " jelas Arzan dengan tegas, Maira pun mengangguk dengan itu. sampai Arzan pun berpamitan pergi, Nadira menghela nafas dengan lega dan melanjutkan sarapannya.
Nadira sudah siap dengan pakaian rapinya, ia siap berangkat bekerja karena hari ini ia harus membantu Adnan. saat keluar dari pintu apartemen, ia mendengar suara aneh dari dalam rumah Arzan. Nadira yang ingin masuk mengurungkan niatnya, ia memilih mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan dari Arzan. tanpa menunggu lama Nadira membuka pintu dengan sidik jarinya, gadis itu berlari masuk kedalam kamar Arzan dan menemukan pria itu sedang meringkuk disamping kasur. Nadira duduk di hadapan Arzan, pria itu seakan tidak melihat dirinya dan seperti ketakutan. secara bersamaan hujan deras mengguyur bumi, awan gelap menyelimuti langit yang semula cerah.
"aku sudah menutupnya, dan musik kesukaanmu sudah kuputar!" ucap Nadira tersenyum, ia terkejut saat Arzan memeluknya dengan erat.
"jangan pergi, kumohon! " ucap Arzan gemetar, Nadira tidak bisa menolak dengan itu. ia mengusap rambut Arzan yang basah karena keringat, gadis itu membawa Arzan berdiri dan duduk dikasur. posisinya tetap memeluk Arzan, bisa dibilang mereka sedang tiduran diatas kasur dengan saling memeluk. itu sudah menjadi kebiasaan Arzan, sejak Nadira tahu Arzan memiliki trauma dengan hujan, Nadira akan selalu menemani Arzan sampai pria itu tenang.
__ADS_1
pada akhirnya Nadira memeluk Arzan hingga pria itu terlelap tidur, seakan pelukan Nadira adalah obat bagi Arzan. setelah beberapa menit Arzan membuka mata nya, ia melihat Nadira yang tertidur dengan memeluknya. Arzan memeluk erat tubuh kecil itu, ia senang mendapat pelukan Nadira.
"kau sudah bangun, sekarang lepaskan aku! " ucap Nadira, Arzan pun perlahan melepas tubuh Nadira. saat Nadira berbalik untuk berdiri, Arzan meraih pinggang Nadira untuk kembali dalam pelukannya. tentu hal itu membuat Nadira terkejut, tapi ia tidak melawan dan membiarkan Arzan memeluknya dengan menenggelamkan wajahnya kedalam rambut Nadira.
"kumohon tetap seperti ini, hanya hari ini! " ucap Arzan lirih, Nadira hanya diam tanpa menjawab permintaan Arzan. hal itu membuat Arzan semakin mengeratkan pelukannya, ia merasa Nadira tidak menolak permintaannya.
"kau harus bekerja, hujan sudah berhenti! " ucap Nadira, tapi Arzan masih menariknya sampai Nadira berada dibawah kungkungan Arzan yang kini menatapnya. Nadira merasakan jantungnya akan loncat, berdetak dengan cepat tanpa aba aba.
"Nadira aku hampir gila... aku mencintaimu Nadira... aku tidak bisa melihatmu menikah dengan orang lain.. " ucap Arzan menunduk, ia melemah dan ambruk diatas tubuh Nadira. hal itu membuat Nadira terpaksa memeluk Arzan, ia tidak tega yang ingin mendorong Arzan. sampai pria itu menatap Nadira lagi, Nadira mengusap air mata Arzan yang menetes tanpa diminta.
Arzan mengambil kesempatan itu untuk mencium Nadira, tanpa bertanya dan bicara Arzan ******* bibir tipis Nadira yang masih menjadi kesukaannya. Nadira tentu tidak menolak, ia juga menerima apa yang dilakukan Arzan padanya. mereka saling membalas ciuman itu, bahkan Arzan sampai membuat Nadira duduk dipangkuannya. mereka sudah lupa akan dunia, yang ada sekarang adalah keinginan mereka yang sesungguhnya. semakin panas keduanya, Arzan menciumi Nadira hingga keleher gadis itu sampai terdengar suara yang tidak pernah dikeluarkan oleh Nadira. Arzan tersenyum, ia terus menciumi leher Nadira.
Arzan menatap Nadira yang memejamkan mata, sampai gadis itu membuka matanya. Nadira menyentuh tengkuk Arzan, ia tersenyum melihat Arzan yang tersenyum padanya. tiba tiba cincin berlian ditangannya seakan menyadarkan Nadira, kilauan berlian itu langsung membuat Nadira tersadar. bayangan dirinya bertunangan dan wajah Jonathan, bahkan acara itu baru saja dilakukan semalam. Nadira menghentikan Arzan, gadis itu juga berpikir tentang ancaman Zania.
__ADS_1
"tidak, ini tidak benar. aku... aku sudah bertunangan... " ucap Nadira, gadis itu berdiri dari duduknya. Arzan menatapnya sendu, begitu juga Nadira yang langsung berlari pergi tanpa mengatakan apapun selain isak tangisnya. Arzan kesal dengan itu ia melempar bantal yang ada disampingnya, ia juga hanyut dalam keinginannya dan ia merasa bodoh.