
keesokan harinya Anin pergi ke perusahaan Adnan, ia resmi bekerja sebagai cleaning servis disana. Anin tidak pernah merasa lelah saat bekerja, Anin dengan ulet mengerjakan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya. ia sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk bekerja oleh Arzan maupun Adnan, awalnya ia kesal pada Arzan yang terus menjailinya. tapi perasaan kesal itu menghilang, karena menurutnya kejailan Arzan adalah sisi nakal pria baik itu. saat ini Anin membersihkan ruangan Adnan, ruangan dengan nuansa hitam abu abu itu sangatlah rapi. semua barang tertata rapi disana, Anin hanya membersihkan beberapa debu dan karpet yang mungkin berdebu juga disana.
ruangan Adnan memiliki kamar kecil disana, dipergunakan untuk seseorang beristirahat yang merasakan lelah. Anin masuk dan membersihkan lantai disana, setiap sudah ia bersihkan tanpa tertinggal. sampai ia melihat seseorang rebahan di sebuah sofa, pria dengan tinggi yang melebihi panjang sofa itu, menekuk tubuhnya dan memejamkan matanya. siapa lagi kalau bukan pemilik ruangan itu, yang tidak lain adalah Adnan. Anin mendekat secara perlahan, ia ingin mengintip pria itu pasti sedang tidur gumamnya. Anin terkejut saat Adnan ternyata tidak tidur, pria itu membuka mata dan menatap langit langit atap ruangan itu.
Anin mendekat untuk membersihkan lantai disamping sofa, ia berhati hati agar tidak menganggu Adnan. sedetik kemudian Anin sadar saat tidak ada pergerakan Adnan, gadis itu melirik kearah Adnan dengan memberanikan diri. Adnan terlihat memiliki tatapan kosong, pria itu sedang melamun sampai tidak melihat pergerakan Anin. tangan gadis itu terulur untuk menyenggol tubuh Adnan, entah kenapa tangannya seperti bergerak sendiri.
"tuan!" Anin terkejut saat Adnan langsung menoleh kearahnya, apalagi tangannya dicengjram oleh Adnan dengan kuat. Adnan sendiri terkejut dengan suara Anin, kemudian sadar jika gadis itu yaang berada disana dan melepas tangan Anin. gadis itu mengelus pergelangan tangannya, ia meringis kesakitan.
"maafkan aku, apa kau baik baik saja! " tanya Adnan dengan tegas, Anin menggangguk dan mendongak kearah Adnan. pria itu terlihat lelah, mengusap wajahnya dengan kasar. "kenapa kau mengejutkan aku, kalau tadi tiba tiba aku mendorongmu bagaimana? "
__ADS_1
"anda sendiri melamun tuan, saya takut anda kesambet setan! " sela Anin ketika Adnan bicara, hal itu berhasil membuat pria itu terkejut dan kemudian tertawa mendengar ucapan Anin.
"kau ini ada ada saja, mana ada setan disiang bolong begini! " ucap Adnan masih tertawa, Anin ikut tertawa dibuatnya. Adnan menatap gadis itu yang sedang cekikikan, sungguh membuatnya nyaman melihat senyuman Anin. "jangan panggil tuan, panggil nama ku saja! " Anin menggelengkan kepalanya, Adnan menyipitkan matanya melihat Anin.
"anda bosku disini, mana mungkin memanggil nama! " ucap Anin dengan tegas, Adnan kembali tersenyum dengan itu. tapi senyumnya seketika hilang, Adnan masuk kedalam kamar mandi yang ada disana meninggalkan Anin tanpa menjawab. entah kenapa gadis itu merasa tidak enak hati, kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.
Adnan mencuci mukanya dengan kasar, ia menatap dirinya di pantulan cermin. ia bertanya kenapa dirinya merasa aneh, senyum selalu terukir jika bersama gadis itu. hatinya bahkan merasa nyaman melihat gadis itu tersenyum, kemudian hatinya lemah ketika gadis itu menangis. ada apa dengan dirinya, kenapa dirinya seperti itu. selama ini ia hanya seperti itu pada keluarganya saja, terutama pada Naira sang ibu tercintanya. ia tidak pernah sebaik itu pada gadis lain, Adnan bahkan membuat dirinya acuh agar tidak ada gadis yang menyukainya.
"tuan ada yang bisa saya bantu? " ucap Anin, Adnan yang hendak bicara pun tidak bisa. perutnya terus terasa nyeri, hingga membuatnya berkeringat dingin. Anin mengerutkan keningnya, ia menatap Adnan dengan seribu pertanyaan. Anin meletakkan sapu pelnya, ia berjalan mendekat kearah Adnan yang diam tanpa menjawab pertanyaannya. "tuan? " panggil gadis itu lagi, Adnan langsung mendongak dengan menahan sakit. Anin yang melihat itu terkejut, wajah Adnan pucat tidak seperti beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
"air! " suatu kata itu langsung diangguki Anin, gadis itu mengambil air diatas meja Adnan dan memberikannya pada pria itu. Adnan menerima air itu, segera meminumnya hingga habis. Adnan menghela nafasnya, namun rasa sakit itu tidak kunjung hilang dan semakin terasa nyeri. "obatku, carikan obatku! " ucap Adnan dengan gemetar, Anin yang mendapat perintah itu langsung segera mencari obat yang dimaksudkan. Anin mencari tapi ia tidak menemukan nya, Adnan yang sudah tidak tahan pun berdiri untuk mencarinya sendiri. Adnan berjalan pelan sampai meja nya, Anin mengikuti Adnan dengan membawa air ditangannya. Adnan yang sudah tidak kuat membuat tubuhnya oleng, Anin langsung menopang tubuh besar itu.
Anin membawa Adnan untuk duduk disofa, tubuh pria itu mungkin terlalu lemah untuk tubuh Anin yang lemah. sampai didekat sofa, gadis itu malah terjatuh tepat diatas sofa. Adnan yang masih sadar menahan tubuhnya, tapi kalah kuat oleh Anin yang menariknya dengan kuat. sampai gadis itu mendelik melihat Adnan diatas tubuhnya, untung saja Adnan menahan tubuhnya dengan lengan kekarnya. keduanya merasa terkejut, saling menatap canggung. sampai Adnan yang benar benar tidak kuat, ambruk ditubuh Anin dan melemah disana.
Anin ingin mendorong tubuh pria itu, tapi hatinya mengatakan untuk berkata lain. bahkan tangan Anin perlahan memeluk tubuh Adnan, entah kenapa ia merasa itu yang ia inginkan. memberi pelukan pada pria itu, memberikan ketenangan, memberikan apa yang harus ia lakukan. tapi kenapa ia malah berpikir seperti itu, Adnan bukan siapa siapa untuknya.
"sakit sekali, sakit sekali Anin! " ucap Adnan lirih, Anin kemudian tersadar dari lamunannya. tubuh Adnan tidak sadarkan diri diatas tubuhnya, Anin terkejut kedua kalinya dan berusaha mengangkat tubuh itu. sampai Arzan datang melihat mereka berdua, Arzan yang terkejut langsung berlari kearah dua manusia itu. pria itu mengangkat tubuh Adnan yang sudah lunglai tidak sadarkan diri, tangannya dengan cepat menelfon dokter kenalannya. Arzan membawa pria itu untuk kembali ke ruangan kecil berisikan tempat tidur, ditidurkannya pria itu yang menutup mata dengan tenang. Anin berdiri di belakang Arzan, terlihat dua orang itu khawatir pada Adnan yang wajahnya pucat.
"bawa dia kerumah sakit tuan, dia sangat kesakitan tadi! " ucap Anin dibelakang Arzan, pria itu menoleh dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"dia akan gila jika dibawa kerumah sakit, tenang saja itu hanya masalah pencernaan. bisakah kau membantuku? " Anin langsung mengangguk untuk mengiyakan, Arzan tersenyum dan memegang pundak Anin. "bisakah buatkan dia bubur padat, tambah sayur didalamnya, dan ya jangan beri dia wortel, pria itu alergi pada wortel! " Anin langsung pergi dari sana untuk melaksanakan perintah Arzan, ia berharap semoga Adnan baik baik saja. ia akan menyiapkan untuk Adnan, agar pria itu bisa makan dan tidak merasakan sakit lagi.