Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Sebuah Kebenaran.


__ADS_3

Davina membawa Anin untuk ikut dengan dirinya, mereka pergi ke sebuah pusat perbelanjaan terkenal di kota itu. muali dari pakaian, sepatu, tas dan juga aksesoris dibeli oleh Davina. tidak lupa gadis itu membelikan untuk Anin, mereka duduk di sebuah restoran disana. Davina bercerita tentang keluarganya pada Anin, gadis itu mendengar dan menyimak kisah itu. sampai Davina akhirnya merasa lelah, ia menghentikan ceritanya dan melirik kearah Anin yang hanya diam dan tersenyum itu.


"jadi kakak Anin, bagaimana dengan kisahmu? " ucap Davina tersenyum, Anin yang mendengar itu meminum air digelasnya sebelum bicara. sedetik kemudian Anin mulai bicara, ia memperkenalkan dirinya dan mulai menceritakan semua yang ingin diketahui oleh Davina. gadis itu menyimak, dan merasa Anin adalah gadis beruntung bertemu keluarganya.


hari sudah menjelang sore, dua gadis itu kembali kerumah dengan barang bawaan mereka. berada dikamar Davina, gadis itu membongkar seluruh barang yang mereka beli sebelumnya. begitu banyak dan juga barang mewah, Davina juga terpesona dengan apa yang ia beli.


"aku sangat suka pilihanmu, aku akan pakai baju ini besok! " ucap Davina tersenyum, Anin yang melihat itu tertawa kecil. "oh iya kakak Anin, apa kakak Nanan sudah bilang tentang perasaannya? " Anin merasa malu dengan itu, ia hanya mengangguk kemudian melihat kearah Davina yang berwajah ingin menggoda itu. Davina sangat penasaran dengan Anin, karena gadis itu sudah mengambil hati kakaknya.


"kenapa kamu melihatku seperti itu, aku mengatakan yang sesungguhnya! "


"ahh kakak ku itu sangat lamban, aku tidak suka! " ucap Davina menidurkan dirinya, Anin tertawa dan masih duduk disamping Davina. mereka saling mengobrol satu sama lain, sampai pintu kamar Anin diketuk oleh seseorang. Anin dan Davina menoleh secara bersamaan, mereka melihat seorang pelayan datang dan membawa bunga. kedua gadis itu bingung dan saling pandang, kemudian mereka menatap kearah pelayan itu.


"nona ini dari tuan Adnan, bunga ini sebagai tanda undangan untukmu. temui tuan Adnan dihalaman belakang, dan ini yang harus anda pakai saat datang! " ucap pelayan itu dan memberikan sebuah gaun, Anin menerima gaun itu dan merasa kagum melihat gaun tersebut.


"tapi untuk apa? " ucap Anin polos, Davina yang merasa Anin itu sangat lamban. ia meminta pelayan itu pergi dari sana, kemudian membawa Anin untuk duduk dihadapan meja rias. Davina mengatakan mungkin ada sesuatu yang dilakukan oleh Adnan, karena itu ia diberikan sebuah gaun cantik dan bunga yang segar. Davina membantu Anin untuk bersiap, dan ia akan membuat Anin benar benar cantik malam ini.


Anin sampai dihalaman belakang yang dimaksud pelayan itu, begitu banyak bunga tersusun rapi disana. Anin yang sangat menyukai bunga itu tersenyum, wangi harum bunga tercium dalam indra penciuman nya. ia berpikir Adnan yang melakukan semua ini, tapi kenapa pria itu melakukan semua ini. bahkan pria itu tidak ada disini, ia hanya sendirian dengan banyaknya bunga dihadapannya. sampai Anin mendengar suara derap kaki, Anin menoleh kearah itu dan melihat Adnan yang tampan dengan pakaian favoritnya. Adnan terlihat segar malam itu, jadi hitamnya sangat cocok dengan kulitnya yang putih. Anin menatap Adnan yang berdiri, pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Anin.


"mau menari denganku? " ucap Adnan lembut, Anin yang terpesona itu tersipu malu dan menerima uluran tangan Adnan. mereka berdua menari seiring lagu yang sudah dipasang, suasana begitu romantis bagi mereka berdua. "kau sangat cantik Anin, sangat cantik! " ucap Adnan yang membuat Anin tersipu malu untuk yang kedua kalinya, wajah merah gadis itu membuat Adnan menjadi gemas.

__ADS_1


"Terima kasih, kau terlalu memuji! " ucap Anin tidak berani menatap Adnan, mereka berdua masih menari dengan seiring lagu yang masih terdengar. "kenapa kau melakukan ini, hm? " ucap Anin yang masih penasaran, bukannya menjawab pria itu hanya tersenyum pada Anin.


"aku hanya ingin melakukan ini untukmu, sebenarnya aku tidak bisa romantis. tapi untukmu, aku bisa sangat romantis! " ucap Adnan tersenyum, Anin sendiri tertawa dengan itu. gadis itu sangat cantik dimata Adnan, polesan make up tipis itu menambah kecantikan gadis itu. Anin merasa malu ketika Adnan menatapnya tanpa berkedip, pipinya terus merah karena tersipu malu. wajah gadis itu sudah sangat merah, ia menyembunyikan dibalik dada Adnan agar pria itu tidak terus menatapnya. Adnan tertawa kecil melihat itu, di peluknya tubuh Anin dengan hangat.


tiba tiba suara petasan mengejutkan Anin, disusul munculnya keluarga Adnan secara bersamaan. mereka bersorak melihat Adnan dan juga Anin, dengan malu Anin melepaskan pelukan Adnan. wajahnya semakin tersipu, dan tidak tahu kalau keluarga itu tiba tiba muncul.


"kakak cepat katakan padanya! " teriak Davina yang sudah tidak sabar, gadis itu heboh sendiri. Adnan pun tersenyum kemudian memegang kedua tangan Anin, jantung nya berdetak sangat kencang melihat Adnan yang tersenyum padanya.


"aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi, aku tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun kecuali keluargaku. untuk pertama kalinya aku dekat dengan perempuan, bahkan keluargaku saja terkejut dengan itu." ucap Adnan tersenyum, Anin menoleh kearah mereka semua. ia benar benar merasakan betapa bahagianya dirinya saat ini ia, kenal dengan mereka beberapa hari yang lalu, tapi seperti mengenal mereka sudah lama. "aku ingin mengatakan sesuatu padamu, sebenarnya aku menunggu orang tua ku. tapi mereka memaksaku untuk mengatakannya sekarang, bukan aku tapi mereka yang tidak sabar! " ucap Adnan lagi, Anin terdiam mendengar semua perkataan Adnan.


tiba tiba Adnan berlutut di hadapan Anin, ia mengeluarkan sebuah benda kotak kecil dan membuka kotak itu. cincin berlian berkilau disana, Adnan tersenyum dengan masih menggenggam tangan Anin. tentu saja hal itu membuat Anin terkejut, ia menutup mulutnya karena terpenganga.


"ya Anin, aku menyukaimu sejak pertemuan kita. kau seperti malaikat penolong bagiku, bahkan darahmu mengalir dalam darahku Anin. aku ingin menebus semua kebaikanmu itu, dengan sebuah pernikahan. Anindhira maukah kau hidup bersamaku, menua bersamaku dimasa depan. apakah kau mau menikah dengan ku, menjadikan aku sebagai suamimu? " ucap Adnan dengan sekali tarik nafas, Anin yang mendengar itu sangat menyentuh hatinya. ia menangis terharu dan tersenyum, semua orang meneriaki Anin untuk menerima lamaran romantis Adnan. Adnan berdiri dan mengusap air mata itu, Anin tersenyum dan mengangguk.


"iya aku mau, aku mau menikah denganmu dan menjadi istrimu dimasa depan! " ucap Anin tersenyum, Adnan yang mendengar itu bernafas lega. bukan hanya Adnan, semua orang disana bersorak tidak peduli dengan usia mereka. Adnan memasangkan cincin itu dijari manis Anin, kemudian membawa gadis itu digendong nya berputar.


"Terima kasih, aku sangat bahagia! " ucap Adnan tersenyum, Anin yang dibawa berputar tertawa riang.


"jadi kapan mau menikah, apakah besok? " ucap Nadia cepat, Risa yang mendengar itu menoleh kearah Nadia dan menggelengkan kepala. semua orang tertawa disana, para wanita itu mengelilingi Anin dengan bahagia.

__ADS_1


"hihi kau akan jadi kakak iparku! " ucap Davina, Anin tersenyum malu dengan itu.


"setelah papa dan mama pulang, aku akan meminta restu pada mereka. Anin sangat baik, mereka menyukai Anin. papa dan mama pasti merestui kami! "


"kami tidak merestui kalian! "


suara itu bagaikan badai ditelinga mereka, suara berat yang mereka kenali terdengar. semuanya menoleh ke asal suara, tentu saja itu suara Adrian yang datang dengan Naira yang duduk di kursi roda. Adrian melihat Adnan yang melamar Anin itu menjadi marah, karena sebuah kebenaran telah terungkap. semuanya diam dengan keterkejutan, mereka bertanya tanya kenapa Adrian tidak merestui hubungan Adnan dan juga Anin. Vano dan Kara yang baru datang melangkah kearah Adrian, mereka mengambil alih Naira. Adrian berjalan kearah Anin, matanya berkaca kaca saat menatap Anin.


"aku sangat merindukanmu, bagaimana bisa aku baru menukanmu! " ucap Adrian memeluk tubuh Anin, gadis itu terkejut bahkan semua orang terpenganga melihat itu. Adrian menangis saat memeluk Anin, masih tersimpan kebingungan dibenak mereka. Adnan berjalan kearah Adrian dan melepaskan pelukan itu, Adrian langsung menatap Adnan yang terlihat kesal pada nya.


"apa maksud papa, kenapa kalian tidak merestui kami! " ucap Adnan sedikit meninggi, Adrian menatap keduanya itu dengan teduh. Adrian memegang tangan Anin, dan tangan Adnan secara bersamaan.


"kalian tidak boleh menikah, kalian adalah saudara yang dipisahkan sejak lama. Adnan dia adalah Nana kita, dia yang kita cari selama ini! " ucapan Adrian membuat badai dihati mereka, keterkejutan terus berdatangan. mereka tidak percaya dengan ucapan Adrian, melihat Naira yang menangis mereka yakin apa yang diucapkan Adrian adalah kebenaran. Adnan melangkah kearah Naira, ia berlutut di hadapan sang ibu yang menangis.


"mama dia berbohong kan, tidak mungkin kan? " ucap Adnan memegang tangan Naira, dengan menangis Naira menggelengkan kepala mengusap kepala putranya.


"tidak Nanan... papamu mengatakan kebenaran, dia Nana kita! " ucap Naira sesenggukan, Adnan sangat kesal kemudian berdiri dan melihat Adrian dengan mengepalksn tangannya.


"kalian boleh tidak merestui kami, tapi kalian tidak boleh berbohong kalau dia adalah Nadira! " teriak Adrian, Naira menangis mendengar putranya yang berteriak seperti itu. Adnan menahan tangisnya, ia terus menatap tajam Adrian karena masih tidak dipercaya nya. "kumohon jangan berbohong padaku, jangan! " ucap Adnan lagi, Nadia yang melihat itu memeluk cucunya. saat situasi tegang, tiba tiba Anin merasakan berdenyut dikepalanya. sentuhan Adrian membuat bayangan hitam terlitas dikepalanya, semakin berdenyut yang dirasakan kepala Anin. sampai gadis itu tidak kuat, dan akhirnya tergeletak jatuh pingsan. semua orang berteriak nama Anin, dengan cepat Adnan menggendong gadis itu untuk dibawanya kedalam rumah.

__ADS_1


kenapa seperti ini, siapa aku sebenarnya.


__ADS_2