
pesta ulang tahun Naira dan Adrian diadakan malam itu, sangat ramai dengan temu kangen yang dilakukan oleh teman lama dan juga kerabat lama. Naira bahagia hidupnya kembali berwarna setelah kedatangan putrinya, ia berpikir Nadira juga akan pergi lagi jika dirinya menikah tapi itu masih membuatnya senang karena tetap melihat putri ya bahagia.
"selamat ulang tahun pernikahan! " ucap seseorang, Adrian dan Naira menoleh secara bersamaan. karena mereka merasa suara itu sangat familiar, dan benar saja suara itu adalah suara Johan dan juga Siska berdiri disampingnya.
"Siska! " ucap Naira serak, Siska tersenyum dan langsung berhamburan memeluk Naira.
"Naira aku kangen sekali denganmu, aku terkejut saat kalian mengundang kami. rasanya aku tidak percaya, badai dalam hidup kalian akhirnya berakhir! " ucap Siska, Naira tersenyum dengan itu. kemudian membawa Nadira mendekat, Naira tersenyum melihat putrinya.
"tentu saja, aku menemukannya yang telah dewasa! " Siska tersenyum melihat Nadira, sangat cantik yang mirip dengan wajah Naira ketika muda. "Nana.. dia adalah temann mama dulu, ayo disapa! " ucap Naira, Nadira pun menyapa Siska dan mereka saling memeluk.
"aku ingat dulu pernah seusiamu, aku jadi kangen saat kita bekerja dulu! " Siska dan Nadira saling tertawa disana, Johan dan Adrian sakingg mengobrol sedikit jauh. bukan hanya dua orang itu, Arzan dan Adnan juga ikut bergabung dengan mereka. Mereka salingg bicara satu sama lain, membuat canda dan tawa yang tidak ada habisnya.
"kalian berdua seusia putraku, tapi mungkin lebih muda dari kalian. tapi entah kemana dia tadi, padahal ingin kuperkenalkan kalian padanya! " ucap Johan, sampai seseorang yang ia maksudkan datang
"maaf telat berkumpul, karena ada masalah sedikit didalam toilet! " ucap nya, Siska dan Johan tersenyum saat putra mereka sudah datang itu.
"ohh ya pak Adrian , Naira perkenalkan dia ini putra tunggal kami. namanya Jonathan, ya dia memang baru muncul karena tidak pernah datang ke negara sendiri! " ucap Siska, Jonathan memberikan salam hangat pada semua orang dan memperkenalkan dirinya. berhenti pada Nadira, Jonathan seakan tersihir oleh kecantikan Nadira. pria itu enggan melepas tanggan Nadira yang berjabat tangan, dengan senyuman Nadira menatapnya heran.
__ADS_1
"namaku Nadira, salam kenal! " ucap Nadira, Jonathan tersenyum dan melepas tangan Nadira.
"maaf kamu sangat cantik, aku jadi sedikit terpana melihatnya! " ucap Jonathan, Nadira tersipu malu dan mengatakan Terima kasih atas pujian manis pria itu. semua orangg disana tertawa, membuat Jonathan merasa malu.
"ehem... kalau mau berkenalan lebih jauh, harus melewati ayahnya dulu Jo. atau kakak laki lakinya itu, tapi papa yakin kamu bisa! " ucap Johan dengan candaan, hal itu menjadi tawa Naira dan juga Siska. beda halnya dengan Arzan, pria itu merasa tidak nyaman dan pergi dari sana.
Nadira celinguk an mencari Arzan, tapi tidak melihat pria itu sama sekali. Nadira memilih diam didekat sang ayah, karena Adrian berbincang dengan Johan. Arzan sendiri kembali setelah mengambil minuman, ia mengarah kearah Naira dan juga Siska yangg sedangg mengobrol.
"tante, dapat salam dari ibuku. beliau tidak bisa datang karena keadaannya, maaf ya tante! " ucap Arzan, Naira tersenyum dann mengusap lengan kekar Arzan dengan lembut.
"dia tampan juga, apa dia pacar Nadira? " ucap Siska, Naira tersenyum dengan itu dan menggelengkan kepalanya.
"dia sudah seperti kakak bagi Nadira, karena dia juga yang membawa Nadira pulang kerumah ini. aku sudah menganggapnya sebagai anak sendiri, jadi jika ditanya siapa, dia adalah keluarga kakak kedua bagi Nadira! " ucap Naira seakan menampar hati Arzan, keluarga itu menggaonya sebagai putra disana. tidak ada yang bisa berpikir kalau dirinya adalah kekasih Nadira, dan bagaimana reaksi semuanya jika suatu saat mengaku tentang hubungannya bersama Nadira.
"aku pikir dia adalah kekasih Nadira, jadi anakku ada kesempatan untuk mendekati Nadira dong! " saut Siska, Naira kembali tertawa ringgan dan menganggukan kepala. kedua wanita yang sudah berumur itu malah berniat menjodohkan anak mereka, Arzan yang tidak kuat mendengar itu pergi dari sana setelah berpamitan. Arzan menatap kearah Nadira yang mengobrol dengan pria bernama Jonathan, mereka terlihat akrab dengan sekali pertemuan mereka beberapa menit.
"bisa kah aku meminjam Nadira? " ucap Arzan dengan lirih, Nadira menoleh saat mendengar suara Arzan.
__ADS_1
"tentu saja, kenapa tidak! " ucap Jonathan, Arzan berterima kasih kemudian menggenggam tangan Nadira untuk mengikutinya. gadis itu masih bertanya tanya kenapa Arzan mengajaknya keluar, mereka pun sampai dihalaman belakang rumah yang jarang orang lewat disana. Nadira melihat Arzan yang diam, gadis itu merapikan dasi Arzan yang terlihat longgar.
"apa arti diriku dalam hubungan kita? " tanya Arzan, Nadira menatap wajah dan mata Arzan.
"kenapa kau bertanya, tentu sangat penting! " saut Nadira, Arzan menghela nafas dan tersenyum.
"lalu kenapa kau masih membutuhkan waktu untuk mengatakan hubungan kita, bukankah hari ini adalah hari yang tepat. banyak keluarga besar yang datang, aku juga berani mengatakan pada mereka kalau kita bersama! " jelas Arzan yang sudah ia tahan akhirnya tidak bisa ditahan, Nadira terkejut Arzan mengatakan hal itu. "aku Terima semua resikonya, jika seandainya kelurgamu menolak hubungan kita. katakan padaku, kenapa kau tidak ingin mengatakan tentang hubungan kita Nadira... " Nadira terdiam, ia malah membelakangi Arzan karena tidak tahu apa yang harus ia jawab.
"aku... aku belum siap... itu.. itu alasannya! " ucap Nadira lirih, Arzan membawa gadis itu untuk menghadapnya.
"apa yang membuatmu tidak siap, katakan padaku!" ucap Arzan lagi, Nadira semakin terdiam tidak bisa mengatakan hal apapun. "atau selama ini kau tidak pernah ada rasa padaku hanya main main saja, dan mungkin kau hanya menjadikan aku pelarian saja. bukankah kau mencintai kakakmu, apakah aku hanya menjadi pelarian agar kau menghilangkan perasaan itu... " tamparan keras terjadi dipipi Arzan, Nadira kesal dengan mulut Arzan yang menurutnya asal bicara.
"jangan membawa kakakku dalam hubungan kita, kamu gak ngerti sama sekali tentang hal itu! " ucap Nadira meneteskan air mata, Arzan terdiam tanpa bicara apapun lagi. "aku tidak menyangka kamu bisa mengatakan hal ini, kita sudah membahasnya tadi dan aku meminta waktu padamu! " ucap Nadira lagi, ia menahan tangisnya yang sudah akan pecah itu.
"aku keluarga rumah ini, aku sudah dianggap sebagai kakak keduamu. jadi semakin mustahil mengaku sebagai kekasihmu, akhirnya aku memiliki adik! " ucap Arzan tersenyum tapi meneteskan air mata. mereka berdua saling membelakangi satu sama lain, Nadira pun menghela nafasnya agar suaranya tidak terdengar gemetar.
"baiklah, kakakku bertambah satu. aku memiliki dua kakak, senang bisa menjadi adikmu kakak! " ucap Nadira kemudian pergi dari sana, Arzan memejamkan mata menangis dalam diam. jika sudah seperti itu, hubungan mereka berakhir dan berkahir sebagai adik dan kakak seperti semula. Nadira berlari kearah kamarnya, ia ingin menangis meluapkan semua emosinya hari ini. Nadira kekamar nya setelah berpamitan pada Adrian, begitu juga Arzan lebih memilih untuk istirahat dan masuk kamar yang sudah disiapkan untuknya.
__ADS_1