Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Sebuah batin.


__ADS_3

Anin turun dari mobil setelah beberapa menit perjalanan, Adnan membantu gadis itu turun dengan tersenyum. gadis itu menatap rumah mewah dihadapannya, mungkin tidak sebesar rumah Adnan sebelumnya. Anin tersenyum melihat sekelilingnya, tangannya digenggam erat oleh Adnan untuk masuk kedalam rumah itu. tidak ada orang didepan rumah itu, Anin semakin penasaran pada rumah kakeh Adnan itu. sampai suara teriakan mengejutkan keduanya, dengan cepat mereka menoleh ke asal suara.


" baby Adnan... apa kabarmu! " suara teriakan itu menggema, seorang wanita memeluk Adnan dengan erat. Adnan yang menutup telinga nya membalas pelukan itu, Anin tersenyum dibelakang Adnan. wanita itu terkejut melihat Anin, dengan kaku Anin tersenyum dengan sedikit menunduk. "Nadira... dia... " Adnan melepas pelukan wanita itu, tidak lepas pandangan wanita itu pada Anin.


"dia bukan Nadira, jangan sembarangan bicara tante! " saut Adnan, dengan gemas Adnan mencubit pipi wanita yang dipanggil nya tante itu. wanita itu meronta, ia tidak suka Adnan seperti itu padanya. mendengar keributan semua orang datang secara bersamaan, Adnan tersenyum dan memeluk sang kakek dan neneknya disana. mereka saling menayapa karena memang tidak pernah bertemu, kemudian salah satu orang melihat kehadiran Anin. mereka semua juga melihat Anin yang berdiri sedikit jauh, Adnan membawa Anin untuk mendekat kearah mereka. "hm... nenek kakek ini Anin, teman Adnan! " ucap Adnan dengan senyuman, Anin pun menyapa mereka dengan senyuman.


"kamu cantik sekali, kalau lihat kamu jadi inget sama ibunya Adnan! " ucap Nadia yang sudah menjadi seorang nenek, Nadia memegang tangan lembut Anin dengan senyuman. "apa kamu sakit, kok denyut nadi kamu gak normal? " ucap Nadia lagi, Anin langsung menggelengkan kepalanya. Adnan yang mendengar itu melihat kearah Anin, gadis itu menggelengkan kepala lagi.


"nenek coba periksa dia, tadi pagi dia juga berkeringat dingin! " ucap Adnan pada neneknya, semua orang yang mendengar itu terkejut. pada awalnya Adnan membawa seorang gadis saja sudah membuat mereka terkejut, dan ditambah Adnan begitu perhatian pada seorang gadis.


"utu utu sejak kapan Adnan yang seperti batu ini sangat peduli pada seoarang gadis, hm? " ucap Nadia mencubit pipi Adnan, dengan malu Adnan hanya berdehem kemudian tersenyum malu. "kami sudah mendengar cerita dari papa kalian, katanya ia sedang pergi kesana? "


"iya nenek, papa membawa mama kesana. ingin melihatnya sendiri, aku sendiri masih tidak percaya itu terjadi pada adikku! " ucap Adnan terlihat sedih, mereka sengaja menebar keceriaan agar pria itu tidak sedih. para wanita itu mendekati Anin yang disana, mereka saling memperkenalkan diri pada Anin.


"ini nenek Nadia, ini nenek kecil Risa, dan aku adalah tantenya Adnan. kamu bisa manggil sesuka hatimu, dan yang bersama Adnan itu adalah para suami kami! " ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Riana, Anin menyapa mereka dengan sopan. mereka gemas sendiri melihat Anin, mengingatkan mereka tentang Naira yang dulu. "oh ya kamu belum kasih tahu nama kamu? "


"namaku Anin, kalian bisa memanggilku Anin! " ucap Anin tersenyum, ketiga wanita itu heboh sendiri. masih sama seperti dulu tidak pernah berubah, Anin yang melihat ketiga wanita itu tersenyum dan menanggapi setiap yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Adnan dan yang lain melihat para wanita itu, mereka hanya menggelengkan kepala. kemudian mereka melihat Adnan, mereka heran melihat Adnan yang tersenyum sendiri. itu adalah yang tidak pernah terjadi bertahun tahun lalu, rumah mereka selalu dikelilingi oleh kesedihan Adnan jika berada disana. tapi kali ini mereka melihat keceriaan diwajah Adnan, bukan hanya itu senyuman Adnan yang terkenal langka itu terukir tanpa henti.


"yakin cuman teman! " ucap seseorang datang, seorang pria tampan berjalan dan langsung memeluk tubuh Adnan. mereka tersenyum dan sedikit bercanda disana, para orang tua yang melihat tersenyum dan merasa senang melihat keceriaan itu. "hehe ternyata kakakku ini sudah tidak sedih lagi, bagaimana kabarmu? " ucap Dani sekaligus putra dari Riana atau sepupu dari Adnan, pria itu menganggukan kepala untuk membalas perkataan Dani. "jadi yakin dia cuman teman? " ucap Dani lagi, Adnan masih ragu untuk mengatakan pada mereka tentang keinginannya menikahi Anin. tapi dari raut wajah Adnan, mereka paham dan mengerti apa yang diinginkan pria itu.


"ayo kita makan bersama, nenek sudah buatkan makanan enak buat kamu. untuk pertama kalinya Adnan datang tanpa murung, apalagi kesini nya bareng sama gadis cantik! " ucap Nadia dengan menggandeng Anin, tanpa ditolak Anin dibawanya gadis itu mengikuti Nadia. diikuti yang lainnya menuju meja makan, mereka siap untuk makan dengan sedikit obrolan candaan. "jadi Anin dimana kamu tinggal? " tanya Nadia disela menunggu makanan datang, semua orang melihat kearah Anin dan menunggu jawaban gadis itu.


"hm.. nanti bakal Adnan ceritakan nenek, sekarang kita makan saja dulu! " ucap Adnan menyela Anin sebelum bicara, Nadia menyipitkan matanya menatap Adnan.


"jadi siapa Anin bagimu? " hal itu membuat Adnan terbatuk, kemudian membuat mereka tertawa disana. Anin memberikan air untuk Adnan yang terbatuk, dengan lembut Adnan mengatakan Terima kasih. Adnan tersenyum dan menggelengkan kepala, Anin terlihat panik kemudian berulang kali meminta pria itu untuk minum. semua orang disana tersenyum melihat mereka berdua, mereka menghitung berapa kali keterkjutan itu terjadi.


"sebenarnya Anin adalah gadis pertama yang aku temui di kota itu, kemudian kami sepakat untuk mencari Nadira bersama. sampai kecelakaan terjadi padaku... "


"Adnan baik baik saja! " ucap Adnan memgang tangan neneknya, kemudian melihat kearah Anin dengan tersenyum. "berkat Anin nyawa Adnan tertolong, Anin mendonorkan darah untuk Adnan waktu itu. karena dirumah sakit itu tidak ada golongan darah Adnan, jadi harus meminta tolong seseorang untuk donor darah. teman Adnan pun si Arzan itu, darahnya tidak sama denganku! " terang Adnan didengarkan oleh semua orang, Adnan menghilangkan kekhawatiran Nadia yang terus menanyainya itu. "hanya patah pada tulang kaki dan tangan, tapi sudah baik baik saja!" Adnan menceritakan semua kisah bertemunya dengan Anin, sampai kabar Anin yang kehilangan ibunya dan dibawanya kerumah bertemu Naira. mereka semakin tersenyum mendengar itu, mereka pikir Adrian membawa Naira untuk berjalan jalan setelah mendapat kesadaran Naira yang diharapkan.


Nadia tersenyum kepada Anin, wanita yang sudah sangat berumur itu sangat sayang pada Anin. ketika kedatangan Anin ia merasakan akan memberikan kasih sayang untuk gadis itu, dan setelah Adnan bercerita membuatnya semakin sayang. Nadia mencium tangan Anin, yang membuat Anin terkejut.


"nyonya tidak perlu seperti itu, aku berniat membantu Adnan waktu itu! "

__ADS_1


"hei kenapa kau memanggilku nyonya, panggil aku nenek seperti yang lain! " ucap Nadia tersenyum, Anin pun tersenyum dengan itu kemudian menganggu. mereka melanjutkan acara makan malam mereka, sesekali mereka bercanda tentang Adnan dan juga Anin yang seperti pasangan. Adnan berjanji pada dirinya sendiri, setelah kepulangan Adrian dan Naira ia akan mengumumkan kalau keputusannya menikahi Anin sudah dipastikan.


...****************...


Adrian berjalan masuk kedalam rumah, dan disana Naira sedang duduk membelakanginya. suara isak tangis Naira terdengar oleh Adrian, sampai mendekat Adrian berlutut di hadapan Naira. ia bertanaya kenapa dengan Naira, apa yang diinginkan wanita itu. Naira masih menangis tanpa menjawab, mereka berada di sebuah rumah milik Anin dan ibunya dulu. Adrian pergi kerumah Anin karena ingin tahu asal usul gadis itu, Arzan memberitahunya bahwa rumah itu telah dibeli oleh Adnan dan sekarang atas nama pria itu. pada akhirnya Adrian lebih memilih rumah itu, rumah kecil sederhana yang tertata rapi. lebih aman ketika ia harus meninggalkan Naira, banyak tetangga disana agar bisa membantu jika bila diperlukan.


"dia putriku... Adrian dia putriku... " ucap Naira yang membuat Adrian terkejut, gadis itu memegang benda ditangannya. Adrian mengambil benda itu, dan ia melihat sebuah kalung yang dikenali olehnya. kalung yang tidak pernah ia lihat bertahun tahun, tapi hari ini ia melihatnya. "kalung itu adalah milik Nana, hanya Nana yang punya kalung itu... " ucap Naira lirih, Adrian terduduk disofa dan memegang kepalanya sendiri. Naira memberikan sebuah bingkai foto, dan menampilkan foto Anin yang tersenyum memakai kalung itu.


"Anin... " ucap Adrian lirih, Naira mengangguk dalam sisa tangisnya. "bagaimana bisa? "


"bisa, aku sudah merasakannya sejak awal... batin seorang ibu tidak pernah salah, kedatangannya... langsung menyentuh batin ku Adrian... ketika ia melangkah waktu itu, aku langsung mengenalnya kalau dia adalah putriku... " ucap Naira lagi dengan masih menangis, Adrian menggelengkan kepalanya.


"putri kita sudah meninggal, aku baru saja melihat makamnya! "


"tidak mungkin, kamu pasti salah... makam itu bukan Nadira..." ucap Naira tidak Terima, Adria memeluk tubuh Naira dengan erat. "memangnya kau melihatnya, tidak kan... " ucap Naira lagi, Adrian hanya menggelengkan kepalanya. ia memberikan kain pakaian Nadira, Naira yang melihat itu terdiam. ia tahu pakaian siapa itu, ia teringat pakaian itu yang dipakai gadis kecilnya sebelum hilang. seketika air mata Naira menangis, ia mencium kain itu berulang kali. dipeluk nya Naira oleh Adrian, ia merasakan tangisan Naira yang terdengar pilu dihatinya. "tidak mungkin, tidak mungkin Nadira.. bongkar kuburannya! " Adrian terkejut dengan itu, Naira menatap Adrian dengan tajam.


"apa maksudmu, jangan gila Naira! "

__ADS_1


"aku ingin kau membongkar kuburannya, aku aku akan percaya kalau melihat nya sendiri. kau begitu percaya dengan apa yang kau lihat, kenapa tidak membuktikannya! " ucap Naira bersulut marah, tubuh Adrian terus digoyang goyang oleh Naira. Adrian tampak berpikir dengan rencana Naira, ia tatap istri kesayangannya yang memohon itu. dipeluk nya Naira yang menangis, ia tidak tahan mendengar tangisan itu setiap saat.


__ADS_2