
dilain tempat Adnan sibuk dengan pekerjaannya, ia mendapat kabar kesembuhan Arzan yang ingin langsung pergi. tapi setiap pekerjaannya mengurungkan niatnya, kadang ia juga kesal merasakan pekerjaannya yang tidak pernah habis. dulu ia sangat terobsesi dengan pekerjaannya, tapi setelah lama itu membuatnya bosan juga.
Adnan yang fokus tiba tiba melirik ponselnya yang menyala, terdapat pesan masuk disana. segera ia melihat ponselnya itu, terkejut yang ia rasakan saat membaca pesan masuknya. pesan yang membuatnya berdiri dari duduknya, ia langsung memakai jasnya kembali untuk keluar dari ruangannya.
"tuan Adnan aku dikantormu, maaf aku lancang"
sebait pesan itu membuat Adnan melupakan pekerjaannya, ia berlari kecil menuju lift yang terbuka dengan cepat. terlintas dipikirannya kenapa Maira ada kantornya, dan sedang apa gadis itu datang untuk menemui. ia takut ada sesuatu yang penting, sampai lift terbuka Adnan melihat sekeliling lobby perusahaannya. lalu ia melihat seorang gadis cantik dengan pakaian sederhana nya sedang berdiri, gadis itu seperti bingung dengan memegang ponsel ditangannya. Adnan berjalan kearah Maira, sampai gadis itu juga menoleh kearahnya dan tersenyum. sontak Adnan ikut tersenyum, keduanya saling tersenyum malu.
"tuan... " panggil Maira, gadis itu memanggil saat Adnan semakin dekat dihadapannya. "aku ingin mengunjungi Nadira, tapi aku ragu untuk berangkat sendiri. dan.. jika kamu mau, bisakah aku mengajakmu? " ucap Maira tanpa ragu, tentu itu keinginan Adnan juga. pria itu tanpa bicara menarik tangan Maira berjalan, pria itu membawa Maira untuk keruangan nya. Maira terkejut dengan itu, beberapa orang langsung menatapnya lebih tepatnya menatap mereka.
semua heran melihat Adnan yang menggandeng secara terang terangan, pasalnya wakil direktur mereka tidak pernah bersama seorang perempuan kecuali adiknya. Adnan tahu pandangan semua orang, ia pun acuh dan terus menggenggam tangan Maira masuk kedalam lift. Didalam lift Maira hanya diam, ia bingung harus bagaimana karena tangannya yang digenggam erat oleh Adnan. sampai pria itu membawanya ke sebuah ruangan, lebih tepatnya itu adalah ruangan Adnan yang besar dan juga gelap.
"duduklah dulu, aku akan menyelesaikan pekerjaanku! " ucap Adnan meminta Maira duduk disofa, Maira mengangguk sekilas kemudian menatap ruangan itu. Adnan menbiarkan Maira yang menatap ruangannya, bahkan tanpa sadar gadis itu mengarah kearah rak buku dan melihat beberapa buku Adnan yang ada disana.
"ruanganmu sangat luas, apa kau bekerja sendiri?" ucap Maira menggema, Adnan melihat gadis itu dengan sedikit tersenyum.
"menurutmu, apa ada orang lain disini? " jawab Adnan, Maira menggelengkan kepala dengan senyuman. Adnan pun melanjutkan sisa pekerjaannya, untuk segera berangkat sesuai keinginan gadis itu.
setelah lama perjalanan hanya ada keheningan didalam mobil, tidak terasa juga mobil mereka sampai di sebuah rumah sakit kota. Adnan berjalan memasuki gedung besar itu setelah memarkirkan mobilnya, tidak lupa dibelakang Maira berjalan mengekori Adnan. sampai dimana pintu ruangan Nadira, Adnan menghentikan langkahnya membuat Maira bingung. Adnan sendiri belum siap bertemu sang adik, karena merasa ia sedang menyembunyikan hal besar dari dua orang yang sedang sakit itu. Maira menyentuh pindah Adnan, memberikan senyuman terbaik untuk Adnan.
"bersikap biasa saja! " ucap Maira lembut, Adnan menghela nafas kemudian masuk kedalam ruangan itu. ditampilkan Nadira yang sedang terbaring dengan tidur ayamnya, dan Arzan sedang duduk membaca buku ditangannya. pria itu menoleh kearah Adnan, dan tersenyum melihat dua orang itu datang. Adnan melihat Arzan dengan kesal, bagaimana tidak pria itu merahasiakan hubungannya dengan sang adik. dirinya tahu setelah kecelakaan itu terjadi, Adnan kesal langsung duduk disamping Nadira yang baru saja masuk kedalam alam mimpi.
__ADS_1
"halo tuan Arzan, bagaimana keadaanmu?" tanya Maira dengan senyuman, tentu Arzan membalas dengan senyuman manisnya.
"sudah lebih baik, Terima kasih sudah datang! " ucap Arzan, Maira mengangguk kemudian duduk didekat Nadira. gadis itu merasa seseorang didekatnya, akhirnya membuka mata dan melihat kearah Maira.
"Maira... kamu datang? " ucap Nadira, Maira tersenyum dan mengangguk dengan hal itu. Nadira menoleh kearah kirinya, ia melihat Adnan yang diam dengan menatapnya. Nadira duduk dari tidurnya, ia mengulurkan tangan pada Adnan. dengan artian gadis itu ingin dipeluk, tanpa bicara dan penolakan Adnan langsung memeluk gadis itu dan tersenyum mengusap punggung sang adik. "kenapa Nanan baru datang, aku sangat merindukanmu... " ucap Nadira, Adnan mendengar itu tersenyum ia merasa bersalah karena tidak datang sejak awal.
"aku sibuk Nana... maaf ya... " ucap Adnan, pria itu mengusap pipi sang adik karena melihat selintas air mata. kemudian Adnan nampak menatap Nadira, dengan ragu Nadira menggenggam tangan Adnan.
"ada yang Nadira ingin bicarakan, tapi jangan marah.. "
"kenapa tidak bilang sejak awal kalau dia pacarmu, sekarang semua orang sudah tahu marah pun tidak ada gunanya!" ucap Adnan yang gemas melihat Nadira ketakutan, Nadira yang mendengar itu terkejut dan tampak menundukkan kepalanya.
"jangan marahi dia, ini juga kesalahanku yang tidak bilang padamu! " ucap Arzan mengimbangi, Nadira melihat kearah Arzan yang tersenyum padanya. tentu hal itu membuat Adnan semakin kesal, pria itu berdiri diantara duaa orang yang membuatnya kesal.
"Nanan... jangan marah terus, nanti cepat tua! " ucak Nadira, hal itu membuat Maira dan Arzan tertawa kecil sampai membuat Adnan yang menahan tawa pun tersenyum.
"dasar kau... ingat perkataanku Arzan, jika kau membuatnya menangis sedikit saja aku akan menghabisimu! " ucap Adnan, Arzan hanya menanggapi dengan acungan jempol dan senyuman. mereka pun saling mengobrol, tiba tiba saja obrolan itu terhenti ketika Arzan bertanya tanpa ada jawaban dari Adnan.
"bagaimana keadaan Jonathan, aku belum mendengar kabarnya! " ucap Arzan, hal itu membuat Nadira menganggukkan kepala dan menunggu Adnan menjawabnya.
"iya kak, aku ingat dia memelukku... " timpal Nadira, Adnan terdiam dengan itu dan menatap kearah Maira. gadis itu seakan mengerti, ia juga hanya diam tanpa menjawab apapun.
__ADS_1
"mending kalian sehat dulu, Jonathan sedang ada diluar negeri untuk pemeriksaan! " ucap Adnan yang harus berbohong, Nadira percaya hal itu tapi tidak dengan Arzan. pria itu tahu ketika Adnan berbohong, dengan tatapan penuh pertanyaan Arzan melihat kearah Adnan yang terdiam.
...****************...
Arzan berjalan secara perlahan, semenjak kakinya sudah bisa berjalan normal, Arzan tidak bisa diam diatas brankar rumah sakit. Arzan terus berkeliling mencari udara segar, bahkan pria itu suka melihat beberapa anak kecil bermain diruang bermain yang dibuat khusus. saat ini Arzan sedang menikmati minuman susu nya disebuah kursi, ia melihat kearah beberapa anak yang sedang bermain dengan ibu mereka.biasanya ia akan duduk bersama Nadira, tapi kali ini ia hanya duduk sendiri menunggu gadis itu yang sedang menjalani terapi.
"Arzan! " panggil seseorang, tentu pemilik nama menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya. seorang dokter cantik berjalan kearah Arzan, memberikan senyuman yang merekah pada pria itu. "aku tadi sudah yakin melihatmu, ternyata benar dugaan!" ucap dokter bernama Maria, dia adalah rekan kerja Arzan menjadi dokter gigi.
"Hai... " ucap Arzan, mereka saling melempar senyuman.
"aku sangat terkejut saat mendengarmu mengalami kecelakaan, kau tahu sangat susah mencari donor jantung untukmu! " ucap Maria tanpa beban bercerita, Arzan yang tampak tidak mengerti pun hanya diam.
"maksudmu... "
"loh kamu tidak tahu, nyawamu itu hampir saja melayang dokter Arzan. jika pria itu tidak mendonorkan jantungnya, aku merasa sangat bangga pada pria itu! "
"siapa, siapa yang mendonorkan jantungnya untukku? " tanya Arzan mengulang, tanpa beban dan tanpa halangan Maria menceritakan semua kisahnya. kisah yang belum diceritakan itu, Arzan harus mendengar nya dari orang lain. Arzan hanya terdiam mendengar setiap yang dikatakan Maria, dan satu yang membuat Arzan merasa hancur yaitu saat Maria menyebutkan nama Jonathan.
Maria membawa Arzan kesuatu tempat, tentu Arzan mengikuti langkah dokter cantik itu. disuatu tempat terdapat sebuah foto besar, foto itu mendapat penghargaan sebagai pahlawan. terpampang jelas foto Jonathan dihalaman rumah sakit, bunga bunga cantik dan harum bertebaran disana. bertuliskan perjuangan Jonathan dan usahanya memberikan sebuah jantung pada seseorang, membuat Mendapatkan prestasi kebanggaan dari semua orang.
satu tetes air mata lepas dari mata Arzan, pria itu berdiri dekat dengan foto Jonathan. satu tetes itu menjadi sebuah tangisan, Arzan tidak kuasa menahan tangis dan akhirnya tangisnya pecah. Maria tidak tahu kalau Arzan mengenali Jonathan, dan keluarga itu sengaja belum menceritakan kisahnya.
__ADS_1
"Jo... kenapa... " ucap Arzan berlinang air mata, ia meremas bunga yang ada disana.