Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Sebuah kecelakaan.


__ADS_3

Jonathan tidak terlalu buruk bagi Nadira, pria itu selalu baik dan memiliki sifat yang lembut. Jonathan selalu menempatkan waktu bertemu gadis itu, ia mencoba mengenal Nadira lebih dekat lagi. meskipun ia tahu Nadira tidak menyukainya dan menyukai orang lain, Jonathan tetap menjaga perilaku nya yang tidak terlalu berlebihan pada Nadira. saat ini Nadira dibawa olehnya ke perusahaan miliknya, Nadira yang banyak pikiran hanya menuruti permintaan Jonathan dan ikut pergi tanpa menolak.


disana Jonathan sedang meeting zoom, Nadira sendiri memikirkan pekerjaannya tidak jauh disana. kefokusan Jonathan beralih kearah Nadira, terlihat gadis itu dengan fokus mengerjakan seuatu yang harus dikerjakannya. karena penasaran, Jonathan mengakhiri zoom meetingnya dan berjalan kearah Nadira. gadis itu menoleh kearah Jonathan, memberikan senyuman tipis kemudian fokus pada kertasnya lagi.


"sudah siang, apa kau mau makan siang disini atau diluar! " tanya Jonathan lembut, Nadira tampak berpikir dengan hal itu.


"kau membuat pekerjaanku tertunda tuan Jonathan, sekarang kau menawariku makan siang. mending kita makan diluar, dan antar aku kembali ke butik! " ucap Nadira tersenyum, Jonathan tertawa ringan dengan itu. setelah berbincang sebentar, Nadira dan Jonathan keluar dari sana sesuai permintaan Nadira.


setelah beberapa menit mereka makan siang, Jonathan mengantar Nadira kekantor gadis itu. menyapa semua orang disana sudah menjadi kebiasaan Nadira, Jonathan hanya tersenyum menanggapi sapaan beberapa karyawan. setelah sampai di lift Jonathan berpamitan pergi pada Nadira, karena pria itu hanya berniat mengantar Nadira hingga gadis itu naik lift keruangannya.


"aku akan datang jam delapan, kita akan makan malam bersama. dan iya ada yang ingin aku bicarakan denganmu, dan ini sangat penting! " ucap Jonathan pergi, Nadira tidak sempat menolak karena pria itu sudah melambaikan tangan dan pergi dari sana. pandangan Nadira melihat Adnan dan Adrian yang berjalan, pria itu berjalan dan terdapat Arzan disamping Adnan. Arzan memang selalu mengikuti Adnan karena tugasnya masih menjadi pendamping Adnan, jika hal rumah sakit tidak ada yang penting Arzan akan menemani Adnan berkerja dan ia bisa pergi kapanpun yang dia inginkan saat rumah sakit membutuhkannya.


"aku berpapasan dengan Jonathan, kalian habis makan siang? " tanya Adrian, Nadira mengangguk dengan hal itu. mereka berempat memasuki lift yang sudah terbuka, Arzan hanya diam dengan mendengar dua saudara itu berbincang. "bagaimana sifat Jonathan, apa dia baik padamu?" tanya Adrian lembut, Nadira menggandeng lengan Adrian dengan sifat manjanya.


"dia sangat baik papa, sama seperti kalian yang baik padaku! " ucap Nadira dengan senyuman, Adrian membalas itu dengan senyuman. Adnan yang sedari tadi diam memegang ponselnya, ia malah salah fokus pada leher Nadira. rambut Nadira tanpa sengaja tersibak kesamping, membuat leher yang hampir pun dah itu terlihat. Adnan terkejut bukan tanpa sebab, terkejut karena melihat bekas merah disana. jiwa posesif Adnan meronta ronta, ia sudah memikirkan hal yang qneh aneh.


"Nana... kenapa dengan lehermu, apa Jonathan melakukan sesuatu? " tanya Adnan, tentu hal itu membuat Adrian itu melihat dan juga Arzan. Nadira melihat bekas merah itu, bukan merah lagi tapi hampir berwarna ungu. tiba tiba terlintas dalam benaknya, ia tahu penyebab tanda merah itu. Nadira melihat kearah Arzan, pria itu masih tidak merubah ekspresinya dan hanya diam.

__ADS_1


"Nanan.. kamu berlebihan, mana mungkin Jonathan melakukan sesuatu. ini tadi digigit nyamuk, dan aku telalu kasar menggaruk nya! " sela Nadira, ia tidak mungkin jujur pada Adnan apalagi disana ada sang ayah. tanda merah itu adalah ulah Arzan, kegiatan mereka tadi pagi tanpa sengaja Arzan meninggalkan jejak disana. tentu Adnan percaya dengan itu, Nadira mencoba merapikan pakaiannya agar tanda itu tertutup.


waktu tidak terasa sudah malam, Nadira melihat waktu menunjukkan sudah jam delapan malam. Nadira sudah dibawa pergi oleh Jonathan, mereka pergi ke suatu tempat yang menenangkan. Nadira memang mencintai Arzan, tapi ia tidak membenci Jonathan. melainkan ia menyukai Jonathan yang baik padanya, pria itu sopan dan juga lembut saat bicara dengannya. sampai ia berpikir dirinya tidak berjodoh dengan Arzan, maka Tuhan menggantikan sosok Arzan pada Jonathan. Nadira berdoa semoga dirinya suatu saat menerima pria baik itu, dan menghilangkan rasa cintanya pada Arzan.


"kenapa melamun, apa kamu tidak suka makanannya? " tanya Jonathan yang memperhatikan Nadira diam, gadis itu pun tersadar kemudian menggelengkan kepalanya.


"oh ya Jo.. kamu bilang ingin mengatakan hal penting, apa itu? " ucap Nadira, Jonathan memakan hidangannya hingga habis kemudian melihat kearah Nadira. gadis itu juga selesai dengan makanannya, secara bersamaan makanan penutup datang dihidangkan. Nadira menunggu pria dihadapannya itu bicara dengan menikmati es krim, kemudian Jonathan tersenyum padanya.


"aku tahu kamu tidak ingin menikah denganku, apakah itu benar? " gerakan tangan Nadira terhenti, gadis itu mendongakkan kepala untuk melihat Jonathan. ia meletakkan sendok kecil ditangannya, menelan es krim yang ada dimulutnya secara perlahan tapi pasti. "aku tahu sejak awal,.. aku terkejut saat kau setuju dijodohkan denganku, pasalnya aku tahu seperti apa kamu dan siapa pria yang kamu harapkan... "


"Jo... "


"sesuatu apa? " tanya Nadira menyela perkataan Jonathan, pria itu tampak mengelak nafasnya sebelum kembali berucap. Jonathan mulai menceritakan apa yang ia dengar, pria itu mendengar Nadira dan Zania bicara diacara pertunangan mereka. dengan rasa penasaran Jonathan pun sempat menemui Zania, disana Jonathan tahu bahwa wanita itu adalah ibu dari Arzan dan tidak menyukai Nadira. mendengar sebuah ancaman membuat Jonathan menyimpulkannya sendiri, hal itu membuat Nadira terkejut bukan main. ia tidak menyangka Jonathan akan menyimpulkan semuanya, dan semua yang disimpulkan pria itu benar adanya.


"kenapa kau harus takut Nadira... aku mendengar cerita dari ayahku, keluarga kalian itu sangat kuat dan tidak pernah takut apapun. dan kakakmu, apa yang kau takutkan lagi? "


"aku tidak ingin mereka terluka, aku tahu mereka keluarga yang kuat. tapi aku tidak bisa egois Jonathan, aku tidak bisa memikirkan kebahagiaanku tapi membuat keluarga dalam bahaya! " ucap Nadira frustasi, ia meninggikan suara sampai beberapa orang menatapnya. Nadira menundukkan kepalanya, ia menahan tangis dengan mengigit bibirnya sendiri.

__ADS_1


"apa Arzan tahu? " tanya Jonathan, Nadira menggelengkan kepalanya tanpa bicara. Jonathan kembali menghela nafasnya, itu pasti terjadi dan ia sudah menduga.


"aku tidak mengatakannya, kak Arzan bisa terluka dan akan membenci ibunya sendiri. aku tidak mau itu, biarkan aku menjauh darinya dan ia mencari wanita yang pas untuknya!" ucap Nadira kemudian, hal itu membuat Jonathan kehabisan kata. ia menatap Nadira yang terlihat sedih, gadis itu berusaha tidak menangis dengan mata yang merah. "karena itu aku senang ketika dijodohkan denganmu, disamping itu keluargaku semuanya aman. aku tidak ingin ada Davina kedua, yang terbaring dirumah sakit! "


"aku sudah sangat membencinya sekarang! " Nadira dan Jonathan terkejut dengan itu, suara Arzan menggema disana dan beberapa orang menatap mereka. Nadira menoleh kearah sampingnya, jelas Arzan berdiri disana dengan wajah yang sulit diartikan. tidak disangka juga Adnan berdiri di belakang Arzan, keduanya mendengar percakapan dua orang itu. awalnya Adnan mengajak Arzan untuk mengikuti adiknya, ia ingin tahu bagaimana keduanya saling dekat. tanpa diduga malah mendengar hal tidak mengenakkan, Adnan pun mengetahuinya saat percakapan itu berlangsung.


"kak Arzan, Nanan... " ucap Nadira, mereka berdiri menatap Adnan dan juga Arzan.


"aku akan menemuinya sekarang... berani sekali dia mengancam adikku! " ucap Adnan mengepakkan tangan, Arzan menahan Adnan yang akan pergi.


"aku yang akan mengurusnya, dia ibuku aku akan mengatasi itu. biar saja jika aku dikatakan sebagai anak durhaka, aku tidak perduli sama sekali! " ucap Arzan berjalan dengan angkuh, Nadira yang melihat itu mengejar Arzan yang terus berjalan tanpa mendengar panggilan Nadira.


"kak... kak Arzan berhenti! " Nadira memanggil Arzan yang melewati trotoar, pria itu memilih untuk berjalan mencari taksi karena sebelumnya ia datang dengan mobil Adnan. Nadira berlari tanpa melihat jalan, bahkan lampu hijau untuk berjalan sudah berganti merah. Nadira memanggil Arzan tanpa henti, cukup jauh jarakk seberang yang dilewati Nadira.


"Nadira berhenti lampunya merah, Nadira! " teriak Jonathan, Adnan pun ikut berteriak saat tiba tiba sebuah mobil melaju tanpa ada niat berhenti. Arzan mendengar teriakan Adnan dan juga Jonathan, dan melihat sebuah mobil yang hampir dekat dengan jarah Nadira.


"Nadira berhenti! " teriak Arzan dengan kencang, Nadira melihat lampu kemudian menoleh. sebuah mobil sudah dekat kearahnya, Nadira malah diam langkahnya terhenti melihat mobil itu.

__ADS_1


.....


bersamaan dengan suara klakson mobil, terdengar juga suara benda jatuh yang begitu keras. bahkan teriakan deni teriakan terdengar, sampai suara benda jatuh menghilang dengan sendirinya dan membuat keramaian yang mulai berkerumun. hujan deras langsung menguguyur jalanan itu, kecelakaan terjadi tanpa bisa dihindari lagi.


__ADS_2