
setelah pertemuan di butik, Jonathan membawa Nadira pergi dari sana. mengajak gadis itu berkeliling, hingga mengajaknya makan siang. Nadira mengikuti keinginan Jonathan, bahkan makan hanya berdua pun Nadira membuat dirinya senyaman mungkin. ia ingat saat dirinya sedang makan bersama dengan Jonathan, tiba tiba Arzan datang dan membawanya. kini hal itu tidak akan terjadi lagi, karena memang dirinya sudah tidak memiliki hubungan dengan Arzan.
mereka asik mengobrol dengan kunyahan makanan yang ada dimulut, sesekali Nadira dibuat tertawa oleh Jonathan. pria itu senang dengan Nadira yang terlihat ceria, sesekali Jonathan mengusap pipi gadis itu saat Nadira makan dengan belepotan. Jonathan sendiri tidak pernah tahu, gadis yang ada dihadapannya ini akan menjadi tunangannya dalam beberapa hari.
"kenapa kau terus melihatku, makananmu akan dingin! " ucap Nadira yang berasal lelah diperhatikan, Jonathan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. secara bersamaan tanpa disengaja, Arzan datang dengan seorang wanita. Nadira mendengar suara Arzan dengan jelas, saat ia menoleh benar Arzan dengan seorang wanita yang juga memakai jas lap seperti nya.
Arzan dan wanita itu duduk tidak seberapa jauh dari mejanya, Nadira berpikir Arzan tidak tahu jika dirinya duduk disana. Nadira menoleh kearah Jonathan, pria itu masih menatapnya dengan senyuman.
"Jo... aku sedang memegang garpu, jangan melihatku lagi! " ucap Nadira ketus, Jonathan tertawa dengan itu. Jonathan mengulurkan tangannya, lagi lagi pria itu mengusap bibir Nadira yang makan dengan belepotan.
"sudah berapa kali aku membersihkan ini, pelan pelan saja makannya aku tidak akan minta kok! " ucap Jonathan lembut, Nadira berdehem ja merasa malu dengan itu. Nadira merasa ada yang melihatnya, perlahan ia melirik kearah sampingnya lebih tepatnya kearah meja Arzan. Nadira terkesiap saat Arzan menatapnya, pria itu sudah melihatnya duduk disana dengan Jonathan. Nadira langsung membuang pandangannya kearah lain, ia meneguk minuman dengan cepat sampai hampir saja dirinya tersedak.
"Jo.. kita balik yuk, aku sudah selesai makan! " ucap Nadira merasa ingin segera pergi dari sana, Jonathan yang sudah selesai pun mengangguk. pria itu berdiri dengan merapikan jasnya, kemudian mengulurkan tangan pada Nadira. dengan bingung gadis itu melihat tangan Jonathan, sampai tangannya terulur untuk menggenggam tangan Jonathan yang hangat dan lembut. Nadira sendiri terpaksa melakukan itu, agar ia bisa membuat Arzan berhenti mencintainya dan dirinya bisa melupakan Arzan secepatnya. Arzan memperhatikan dua orang itu yang pergi, tanpa melepas tangan keduanya bergandengan tangan sampai hilang dibalik pintu keluar restoran tersebut.
"Arzan maaf ya, pacarku benar benar keterlaluan! " ucap wanita yang bersama Arzan, dengan senyuman Arzan mengangguk untuk mengiyakan. "eh bagaimana dengan pacarmu itu, aku jarang lihat kalian bersama! "
"kami sudah membuat keputusan untuk sendiri sendiri, dan dia akan bertunangan dua hari lagi! " ucapan Arzan membuat wanita itu terkejut, ia tidak menyangka percintaan Arzan sedang tidak karuan. mereka berbincang membicarakan hal pekerjaan, tapi pikiran Arzan tidak fokus dan hanya memikirkan Nadira.
...****************...
dua hari berlalu begitu cepat, rumah besar Adrian terhias cantik dengan pernak pernik sebuah pesta. musik yang bersenandung menambah keceriaan disana, para tamu mulai memasuki pintu utama rumah itu. pemilik rumah Adrian dan Naira menyambut setiap tamu yang datang, kerabat dan juga teman bisnis dari keduanya. acara pertunangan Nadira dan Jonathan dihadiri beberapa pebisnis penting, yang juga menjadi rekan bisnis Adrian selama dibidang pekerjaan.
__ADS_1
Nadira sendiri sedang duduk didepan meja cerminnya, wajahnya sudah dipoles begitu cantik dan membuat pangling. karena memang Nadira tidak pernah berdandan terlalu tebal, untuk pertama kalinya ia menggunakan make up. ia memakai gaun pertunangannya, Nadira menatap dirinya dengan rambut yang ditata rapi oleh seseorang.
"kau benar benar cantik nona, tunanganmu pasti akan terpukau melihatmu! " ucap orang yang sedang menata rambutnya, Nadira hanya menanggapi hal itu sekilas. sampai Maira datang menghampiri nya, tidak lupa juga Naira yang dipapah oleh Maira. Naira tersenyum melihat Nadira, ia tidak menyangka putrinya akan bertunangan hari ini dan juga akan segera menikah. Nadira tersenyum melihat Naira, ia mengusap air mata Naira yang akan menetes.
"kenapa mama menangis, apa aku terlalu jelek? " ucap Nadira, tentu Naira menggelengkan kepalanya.
"kamu sangat cantik, bahkan lebih cantik dari siapapun! "
"itu benar, aku jadi penasaran bagaimana wajahmu saat menikah nanti! " ucap Maira tersenyum, hal itu membuat Naira juga tersenyum kearah nya.
Naira membawa putrinya untuk turun, karena sudah banyak tanu yang penasaran akan wajah cantik putri dari seorang Adrian. baru saja keluar dari kamar, semua tatapan para tamu yang hadir menghadap kearah Nadira. mereka langsung terpaku dengan Nadira yang terlihat cantik, gadis itu seakan bercahaya dengan kecantikannya. Nadira memakai gaun berwarna hijau yang tidak terlalu mencolok, gaun itu seakan berkilau seperti permata. kalau orang lain tahu, gaun itu adalah buatan Nadira sendiri dan asli karangannya yang membuat sketsa.
Jonathan yang sudah terlihat rapi dan tampan itu menghampiri calon tunangannya itu, ia mengulurkan tangannya kearah Nadira yang sudah hampir dibawah tangga. dengan senyuman Nadira menerima tangan Jonathan, menggandeng lengan Jonathan dengan memberikan senyuman terbaik. ia merasa gugup saat banyak orang menatapnya, terlebih lagi semua orang disana tampak terkesan mewah dengan gaun dan juga jas yang dipakai setiap orang.
acara tukar cincin pun dimulai, dengan sorak gembira keluarga itu mengucapkan selamat pada keduanya. acara berakhir dengan pesta makan kecil kecilan, disana para orang tua membicarakan bisnis mereka masing masing. Nadira mengobrol dengan para saudarinya, sampai seseorang berjalan menghampiri Nadira. hal itu membuat Nadira terdiam, menganga melihat siapa yang sedang berjalan kearahnya.
"selamat untukmu Nadira, kapan akan menikah? " ucap wanita itu, yang tidak lain adalah Zania. tampak begitu jelas wajah wanita itu tersenyum puas, Nadira sendiri tersenyum dan menerima uluran tangan Zania.
"Terima kasih atas doa mu! " ucap Nadira membalas dengan senyuman, Zania tersenyum kemudian meminta Nadira untuk menemaninya mengambil makanan.
"aku senang akhirnya tidak ada yang perlu celaka lagi, dan juga kau bisa menemukan pria yang tepat untukmu! "
__ADS_1
"hentikan ibu Zania, jangan pernah membahas hal itu lagi. anggap semuanya tidak pernah terjadi, dan semua ancaman mu itu anggap saja kau tidak pernah mengancam ku karena aku sudah melupakannya. dan masalah pria yang tepat atau tidak itu urusanku, bukan urusanmu sama sekali. dan ingat kau bisa memisahkan aku dari kak Arzan, tapi kau tidak bisa memisahkan cinta kami!" ucap Nadira yang sudah sangat kesal, ia meninggalkan Zania dari sana. Nadira selalu berdoa agar Arzan tidak pernah tahu tentang sifat ibunya, dan mengetahui penyebab dirinya bisa dengan mudah melepaskan Arzan.
...****************...
malam yang tenang menggagu Nadira, gadis itu harus pergi dari rumah untuk urusan yang mendadak. ditengah malam ia mendapat panggilan dari Arzan, pria itu mengigau seperti orang yang sedang mengalami ganguan jiwa. Nadira tidak peduli jam berapa saat itu, dengan tergesa-gesa ia keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya dengan cepat. ia sampai dimana Arzan berada, karena sebelumnya pria itu mengatakan hal yang bisa jelas dalam telinga Nadira.
terlihat seorang pria memeluk lututnya sendiri, Nadira sudah tahu siapa pria itu dan segera menghampirinya. Nadira terkejut Arzan bicara dengan dirinya sendiri, pakaiannya masih sama seperti sebelumnya hanya saja terlihat lebih kacau. pria itu bahkan memegang botol minuman, Nadira merampas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Arzan tersenyum melihat Nadira, gadis yang masih ia cintai.
Arzan sendiri merasa sangat sedih yang tidak bisa ia tahan, akhirnya ia pergi ke sebuah klub malam dan memesan begitu banyak minuman. ia akhirnya berjalan dengan sempoyongan, dan tangannya menekan nomor Nadira dan memanggil gadis itu untuk datang padanya. dan benar saja Nadira datang tanpa bertanya lagi, Arzan berjalan hingga dekat gedung apartemennya.
"kau disini... aku tadi menelponmu ya... " ucap Arzan yang masih dalam pengaruh alkohol, Nadira mengangkat tubuh itu untuk duduk di kursi taman.
"kenapa kau minum kak, bagaimana kalau polisi menangkapmu! " tiba tiba saja Arzan berdiri, ia menoleh ke kanan dan kirinya.
"ahh polisi aku takut,.. mereka akan menangkap ku, bawa aku pergi... cepat Nadira.." ucap Arzan yang sudah kehilangan kendali, Nadira membawa Arzan melangkah masuk ke gedung apartemen pria itu. dengan sempoyongan Nadira memasuki lift, bahkan memapah pria itu hingga dikamarnya.
Arzan dibanting oleh Nadira diatas sofa, pria itu masih merancau tidak karuan. sampai tangan Nadira ditarik oleh nya, hal itu membuat Nadira terkejut dan menatap Arzan. pria itu menangis, ya benar air mata menetes dari kelopak mata Arzan.
"kenapa... kenapa kau dengan Jonathan! " ucap Arzan lemah, ia menarik Nadira duduk dipangkuannya membuat Nadira terkejut. "kau miliku... Nadira kamu itu milikku, orang lain tidak bisa memilikimu... " ucap Arzan lagi, Nadira menahan tangisnya ia berdiri dari duduknya dan berlutut di hadapan Arzan yang duduk disofa.
"mari lupakan itu, lupakan aku kak... " ucap Nadira lembut, Arzan menepis tangan Nadira yang menggenggam tangannya.
__ADS_1
"bagaimana bisa... bagaimana kamu bisa mengatakannya dengan mudah... kita sudah melewati begitu... begitu banyak... bagaimana bisa aku melupakanmu... " ucap Arzan lemah, matanya terus meneteskan air mata. Nadira menangis melihat itu, sudah diduganya Arzan menahan sakit hati melihatnya berdiri dengan Jonathan.
"maafkan aku kak... maaf! " ucap Nadira menangis, gadis itu masih berlutut di hadapan Arzan. bahkan pria itu mulai kehilangan kesadarannya, Nadira menangis sejadi jadinya karena merasa bersalah membuat pria itu menderita.