Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Duka untuk Maira.


__ADS_3

tenang dan damai rumah besar Adrian seperti biasanya, Adrian duduk dengan tenang menyantap sarapan. bukan hanya pria itu, ia ditemani sang istri dan juga putri kesayangannya. Nadira dengan manis duduk disamping kiri Nadira, Adrian di himpiymt oleh dua bidadari tercintanya. Nadira sedikit membantu Adrian untuk mengambil makanan, begitu juga Naira yang dibantu oleh Nadira. gadis itu tersenyum saat Naira tersenyum padanya, tidak lama kemudian Adnan datang dari arah kamarnya. disana diikuti Arzan yang juga ikut turun dari kamarnya, semenjak kesehatan Adrian menurun, Arzan tinggal dirumah itu untuk melihat keadaan Naira dan Adrian setiap hari nya.


Adnan duduk disamping Naira, ia menyapa sang ibu dengan mencium punggung tangan ibunya. Naira tersenyum dengan membelai rambut Adnan, seperti biasa Arzan akan duduk disamping Nadira. mereka tidak bisa melupakan masalah sebelumnya, hanya saja mereka tidak ingin menunjukkan nya pada siapapun terutama pada Naira dan juga Adrian. Nadira melakukan hal seperti biasanya, ia mengambil sepotong ayam yang diberikan pada Adnan begitu juga dengan sepotong untuk Arzan. mereka berdua tersenyum, Arzan tersenyum sekilas kemudian memulai sarapan dengan tenang.


"Nana hari ini Jonathan akan kebutikmu, dia ingin melihat pakaian yang akan kalian gunakan saat acara pertunangan nantinya! " ucap Naira, Nadira mengangguk sekilas dengan menyuap makanan dalam mulutnya.


"Adnan bagaimana menurutmu, Jonathan cocok kan dengan adikmu? " tanya Adrian, ia tahu benar anak laki lakinya itu sedikit kesal karena Nadira akan menikah. pria itu mengangguk, kemudian menatap sang ayah.


"iya papa.. kalau menurutku dia anak yang baik, lihat saja nanti kedepannya akan bagaimana! " ucap Adnan yang disenyumi oleh Naira, dengan senang Adnan memeluk ibunya yang cantik. "Naira tersenyum kemudian melihat kearah Arzan, pria itu sedikit murung bahkan makanannya tidak pernah habis saat makan.


" Arzan akhir akhir apa kamu ada masalah, kamu terlihat murung nak dan kamu tidak makan dengan teratur! " ucap Naira khawatir, Arzan yang mendengar itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"tidak ibu Nai... Arzan baik baik saja, cuman kecapekan aja ngurus pasien! " ucap Arzan tersenyum, ia membuat wajahnya sumringah agar tidak membuat Naira khawatir. tapi sebagai seorang ibu Naira bisa merasakan kegelisahan pria itu, tampak murung dan juga sedih bisa dilihat dari wajahnya.


"bagaimana kabar ibumu.. apa dia sehat? "

__ADS_1


"sehat ibu Nai.. kakinya sudah sedikit normal saat berjalan! " ucap Arzan lagi, Naira mengangguk dengan itu. mereka melanjutkan sarapan itu, Arzan meletakkan piringnya sendiri didapur. kebetulan papasan dengan Nadira, mereka bingung siapa dulu yang berjalan. saat Nadira kekanan, Arzan ikut kekanan begitu pun sebaliknya saat kekiri. Adnan yang melihat itu kesal, ia menarik lengan Nadira hingga membuat Arzan lewat tanpa menyenggol apapun.


saat akan berangkat untuk melaksanakan kegiatan mereka, terlihat Dani datang dari arah pintu utama. pria itu berlari kearah Adnan dan juga Nadira, hal itu membuat tiga orang disana merasa bingung. pasalnya Dani mengatur nafasnya, sebelum bicara Nadira memberikan air pada Dani.


"kalian ikut aku sekarang, Maira membutuhkan kalian! " ucap Dani, Nadira tidak mengerti dan menatap Dani. "adiknya meninggal dunia, sekarang aku di hubungi oleh pihak rumah sakit Maira mencoba untuk bunuh diri. Nana.. Maira butuh kamu, ayo ikut! " sungguh membuat terkejut mereka bertiga, air mata menggenang dimata Nadira. tanpa bicara lagi ketiga orang itu masuk kedalam mobil Dani, dengan segera Dani melajukan mobilnya dengan cepat menuju luat kota.


perjalan beda kota membutuhkan waktu berjam jam, apalagi jalan tol yang membuat macet akan lebih lama untuk sampai. keempat orang itu sampai dirumah sakit setelah melewati empat jam lamanya, Nadira berlari kearah ruangan Maira yang sedang dirawat karena tidak sadarkan diri. gadis itu tergeletak dengan mata yang berurai air mata, Nadira melihat pergelangan tangan Maira yang dibungkus perban. tangis Nadira khawatir pun pecah, ia menggenggam tangan Maira dengan erat.


"dia kehilangan banyak darah, karena itu tubuhnya lemas dan tidak sadarkan diri! " ucap Dani yang mendapat laporan dari seorang perawat, Nadira menghapus air matanya dan melihat kearah Dani.


"anak itu ada ruang mayat, kami sudah memasukkan nya kedalam peti dan siap diantarkan kerumah nya! " jelas Dani, Nadira pun sedih dan menangis dengan menutup mulutnya.


hampir satu jam lamanya menunggu Maira terbangun, gadis itu membuka mata setelah sekian lama. Nadira melihat Maira terbangun, dengan cepat gadis itu mengarah kearah Maira. disana Maira menatap Nadira sendu, matanya terlihat jelas menggenang air mata yang tidak bisa ditahan. Maira langsung memeluk tubuh Nadira, dan tangisnya pecah saat itu juga.


"Mario pergi Nadira... dia meninggalkan aku... dia jahat sekali... aku sudah tidak punya siapa siapa lagi, aku tidak bisa hidup tanpanya... " ucap Maira dalam tangisnya, Nadira menggelengkan kepalanya untuk menenangkan gadis itu.

__ADS_1


"kamu masih punya aku, punya Davina punya semuanya, kamu gak boleh sedih, Mario tidak akan suka melihatmu menangis! " ucap Nadira memberi semangat, Maira menangis tanpa ingin berhenti. tiga pria yang ada disana hanya diam, ikut merasakan duka yang dialami Maira kehilangan sosok adik yang dicintainya.


...****************...


pemakaman Mario adik dari Maira telah dilakukan, Adnan dan Arzan serta Dani ikut membantu pemakaman itu. kesedihan yang dirasakan Maria begitu dalam, gadis itu duduk di lantai dengan memeluk foto sang adik, Nadira memeluk sahabatnya untuk memberikan ketenangan. tidak tahu harus bicara dari mana, mereka semua terdiam tanpa ingin bicara apapun.


"kamu ikut kami ya, agar kamu tidak sendirian disini! " ucap Nadira lembut, gadis itu masih memeluk Maira yang masih menangis tanpa mau berhenti.


"tidak Nad, aku disini saja. Terima kasih, kalian sangat baik padaku. aku tidak tahu bagaimana aku membalas kalian, aku sekarang senang adikku sudah tidak merasakan sakit! " ucap Maira dengan gemetar, Nadira sendiri sedih ia kembali memeluk Nadira dengan erat. disana Adnan dan Arzan memperhatikan Maira, tak terkecuali Adnan yang memperhatikan Maira dengan dalam. entah kenapa ia merasakan kesedihan gadis itu, ia pernah merasakan kesedihan kehilangan seorang adik tapi nasib Maira tidak sama dengannya yang akan menemukan adiknya lagi.


setelah perdebatan malam itu, keputusan membawa Maira kembali bersama mereka pun berhasil. Maira menyerah dengan permintaan Nadira, karena dirinya juga berhutang banyak dengan Nadira ataupun Adnan yang selalu membantunya. pikir Maira ia hanya bisa membantu Nadira dalam menjaga butik itu, mengembang kan butik Nadira yang selama ini Nadira kerjakan.


dua minggu berlalu begitu cepat, duka yang terjadi telah hilang secara perlahan. Maira kini sudah kembali riang seperti dulu, tidak ada kesedihan yang berlarut dalam dirinya. Nadira sendiri merasa senang dengan temannya itu, kembali ceria dan juga tidak jadi pendiam seperti sebelumnya.


"Nad... ada cowok ganteng nyariin kamu! " ucap Maira menghampiri Nadira, gadis itu terkejut dan merasa heran siapa yang dimaksud Maira. dengan segera Nadira keluar dari ruangannya, ia melihat seorang pria berdiri dengan jas yang rapi dari belakang. sedetik kemudian pria itu menoleh, dan menebar senyuman pada Nadira.

__ADS_1


"Jonathan... " panggil Nadira, ya benar pria itu adalah Jonathan. pria yang ia hindari beberapa hari, kini datang setelah lama tidak bertemu. memasang wajah senyuman tulus, membuat Nadira tersenyum melihat pria itu. acara pertunangan mereka pun akan dilaksanakan dalam waktu dekat, siap tidak siap Nadira akan menerima pertunangannya dan juga mungkin pernikahannya dengan Jonathan secepatnya sesuai keinginan sang keluarga.


__ADS_2