Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Pertengkaran lagi.


__ADS_3

Arzan berada diruangannya siang itu, ia memang menolak pasien beranama Nadira. kejadian malam itu tidak bisa Arzan lupakan, ia sedikit menyesal saat mengatakan hal yang tidak seharusnya pada Nadira. ia berniat meminta maaf, saat melihat Nadira niat nya diurungkan ketika Nadira akan meninggalkan rumah sakit. apalagi Arzan merasa penasaran saat Nadira mengangkat panggilan, ia ingin tahu Nadira akan kemana saat malam nanti.


Arzan keluar dari rumah sakit dengan cepat, ia berusaha menghubungi Adnan tapi pria itu ada dikantor dan masih bekerja. Arzan pergi ke butik Nadira, pikirnya apapun yang terjadi dirinya harus bertemu Nadira malam ini untuk mengucapkan maaf.


"eh tuan Arzan, bos tidak ada! " ucap Elia yang melihat Arzan, tentu pria itu terkejut karena tidak biasanya Nadira tidak ada dijam itu.


"kemana dia pergi, apa memberitahumu? " tanya Arzan, wajahnya sudah tidak sabar menunggu Elia menjawab.


"dia bilang ada janji sama teman, mereka makan di restoran kota dekat alun alun! " saut Elia, tidak bicara lagi Arzan pergi dari sana setahun mengangguk. Arzan melajukan mobilnya dengan cepat, entah kenapa perasaannya tidak tenang.


Nadira sendiri duduk dengan Jonathan didalam restoran, Nadira berjanji akan menerima tawaran makan malam dengan pria itu. Nadira dengan tenang memilih menu, begitu juga dengan Jonathan. mereka berdua saling tersenyum, Nadira memilih untuk melanjutkan menggambar sketsa.


"aku dengar kamu seorang desainer, apa benar itu? " ucap Jonathan, Nadira tersenyum dan mengangguk.


"belum sepenuhnya, masih ada beberapa hari lagi untuk menjadikan aku benar benar seorang desainer! " saut Nadira dengan senyuman, Jonathan mengangguk dengan itu.


"oh iya apa kau sudah ijin pada kakakmu akan bertemu denganku? " Nadira mendongak kearah Jonathan, mereka saling menatap kemudian Nadira lanjut menggambar.


"untuk apa aku ijin, aku ini sudah besar dan bisa menjaga diriku sendiri! " saut Nadira yang acuh, Jonathan mengangguk dengan itu.

__ADS_1


"pacarmu datang, aku jadi takut! " ucap Jonathan menyesap kopi yang ia pesan, Nadira mendongak kan kepala kemudian kearah belakangnya. benar saja ia melihat Arzan berjalan kearah nya, Nadira terkejut dan sedikit bingung. Arzan sendiri kesal melihat mereka berdua, ternyata Nadira datang kesana menemui Jonathan. pria itu menjadi daftar hal yang tidak disukai Arzan, dengan diam Arzan berhenti disamping Nadira.


"dia bukan pacarku, dia kakak kedua ku. entahlah untuk apa dia disini! " ucap Nadira, tentu hal itu didengar oleh Arzan.


"aku tunggu diluar sepuluh menit, kamu keluar sendiri atau aku yang membawamu keluar! " ucap Arzan terdengar acuh, Nadira tidak memperdulikan hal itu. ia hanya diam dengan terus menggambar, Arzan sangat kesal ia menarik tas yang dibawa Nadira. Arzan memasukkan semua barang milik Nadira, termasuk buku dan juga pensil yang Nadira pegang.


"apa yang kau lakukan! " ucap Nadira kesal, Arzan menggenggam tangan Nadira kemudian menoleh kearah Jonathan. pria itu mengangguk disana, ditariknya Nadira untuk keluar dari restoran itu. "lepaskan aku, kau tidak bisa memaksaku seperti ini! " ucap Nadira, Arzan mendorongnya masuk kedalam mobilnya. kemudian mobil meninggalkan tempat itu, Arzan tidak mendengar ocehan Nadira yang terdengar kesal dan marah.


mereka berhenti di sebuah taman yang terlihat sepi, disana Arzan menoleh kearah Nadira yang terdiam karena kesal. Arzan bingung harus bicara dari mana, sedangkan Nadira terdiam menoleh kearah luar mobil.


"beraninya kau bersama Jonathan, makan malam berdua seperti apa saja! " Nadira langsung menoleh, dia melepas sabuk pengaman yang ia pakai.


"bukan urusanmu aku bersama siapa, aku sudah besar tidak perlu bilang padamu juga! " ucap Nadira kemudian turun dari mobil, Arzan mengejar Nadira untuk menghentikannya.


"siapa kau, kenapa aku harus menghargai perasaanmu. kau kakak keduaku kan, lain kali aku akan ijin kemana aku akan pergi dan dengan siapa aku pergi! " ucap Nadira melepas tangan Arzan, pria itu sedih sampai meneteskan air matanya karena Nadira sekasar itu.


"aku mendengar kalian akan dijodohkan, apakah aku tidak boleh marah dengan itu. aku melihat kecocokan orang tua kalian, sedangkan dengan orang tua ku mereka tidak pernah bertemu ataupun bertegur sapa. aku juga mencintaimu, meskipun kau tidak bisa mengatakan pada siapapun meskipun pada keluargamu. lalu aku melihatmu bersama Jonathan bersama, apakah aku tidak boleh marah Nadira! " ucap Arzan lemah, Nadira menoleh dan melihat pria itu menangis. "setelah pertengkaran semalam, kau langsung bersama pria lain. apakah aku tidak boleh marah, apa aku tidak boleh sedih? " ucapnya lagi, Nadira pun ikut menangis dengan itu. Arzan membelakangi Nadira untuk menutupi wajahnya yang menangis, Nadira sudah menangis melihat Arzan membelakanginya.


"selama satu tahun aku pergi jauh darimu, setiap hari aku berpikir akan menyelesaikan tugasku dan pergi menemui. aku suka dekat denganmu, aku masih berpikir kau masih mencintai kakakmu. tapi ketika kau mengatakan perasaanmu padaku, kau tidak tahu betapa bahagianya aku saat itu. sebenarnya aku datang untuk meminta maaf atas sikapku kemarin, tapi malah jadi begini! " ucap Arzan tersenyum, meskipun begitu hatinya merasa sedih.

__ADS_1


"aku takut... " ucap Nadira menangis, Arzan menoleh dan melihat gadisnya yang sudah berlinang air mata. "aku takut kak... aku baru saja bertemu dengan kedua orang tuaku, aku takut jauh dari mereka. jika aku mengatakan pada mereka tentang hubungan kita, mereka akan menikah kan kita. aku belum siap... belum siap untuk jauh dari mereka, itu yang aku takutkan... " ucap Nadira, Arzan masih terdiam mendengar gadis itu bicara. "aku tidak mencintai kakaku setelah aku ingat dia adalah kakakku, kemudian aku memiliki rasa padamu saat pertama kalinya... aku sedih mengingat perkataanmu semalam, dan aku tidak pergi dengan pria lain karena sengaja... aku hanya menepati janjiku untuk makan bersamanya, dan itu adalah yang terakhir.... " ucap Nadira kemudian tangisnya pecah, Arzan yang mendegar itu berjalan cepat dan memeluk Nadira dengan erat. ia tidak tahu gadis itu berpikir sampai sejauh itu, karena dirinya juga tidak bertanya apapun dan berbuat semaunya. apalagi tuduhan yang ia utarakan, Arzan merasa bersalah dan juga menyesalinya.


"maafkan aku... aku terus saja menuduhmu, maafkan aku... " ucap Arzan memeluk Nadira, gadis itu masih menangis hingga terseduh seduh. air mata yang ia tahan pun tidak bisa ditahan lagi, ia memeluk Arzan dengan erat.


"aku sedih saat kau mengakhiri hubungan kita, aku sedih saat mengakui dirimu sebagai kakak keduaku... " ucap Nadira lagi, Arzan tersenyum dan mengusap air mata itu.


"kau bukan adikku, kau adalah kekasihku dan calon istriku dimasa depan! " ucap Arzan tersenyum, Nadira tertawa disela tangisnya kemudian memeluk nya lagi.


"aku hanya mencintaimu kak Arzan, maafkan aku!" ucap Nadira daalam pelukan Arzan, mereka saling memeluk untuk mengatakan maaf. sampai beberapa menit kemudian Arzan melepas pelukannya, ia mengusap sisa air mata Nadira yang ada dipipinya.


"aku akan mengantarmu pulang, ini sudah malam!" ucap Arzan dengan senyuman, Nadira mengangguk pelan kemudian menarik tangan Arzan yang akan berjalan.


"aku ingin bersamamu malam ini, tidak ingin pulang! " ucap Nadira, Arzan tersenyum dan mengangguk. ia terpaksa membawa Nadira keapartemennya, Nadira sendiri tersenyum senang.


saat berhenti didaerah parkiran Nadira tidak berniat turun, ia ragu untuk turun dari mobil itu. Arzan mengatakan bagaimana jika Adnan mencarinya, tapi menurut Nadira kakaknya itu mungkin akan mencarinya besok pagi ataupun siang hari. Arzan melepas sabuk pengamannya, kemudian membantu Nadira melepas sabuk pengamannya juga dan mereka sangat dekat karena itu.


"kau yakin akan tidur denganku malam ini? " ucap Arzan menanyakan hal itu sekali lagi, Nadira menarik kera kemeja Arzan dan mengecup bibir tipis itu sedikit lebih lama.


"aku yakin, aku sudah lelah!" ucap Nadira kemudian, Arzan tersenyum dan memegang tangan Nadira dengan erat.

__ADS_1


"kita lanjutkan obrolan ini saat dirumah, ayo turun! " ucap Arzan, mereka berdua turun secara bersamaan dan menaiki lift hingga sampai di kamar apartemen Arzan. tanpa bicara lagi keduanya masuk, belum menyalakan lampu disana Arzan menarik tubuh Nadira untuk dipeluk nya. "mungkin malam ini kita akan begadang, karena aku mencium bibirmu hingga pagi! " ucap Arzan, Nadira tersenyum dan mengangguk pelan karena malu. Nadira melepas kacamata yang dikapai Arzan, kemudian meletakkannya disembarang tempat.


Arzan pun tersenyum, diangkatnya Nadira hingga duduk diatas meja. Arzan mulai mencium gadis itu tanpa ada penolakan, Nadira sendiri menikmati hal itu. sampai Arzan menggendong Nadira menuju kamar, tanpa melepas kegiatan mereka. nafas Nadira senggal, ia tahu kalau dirinya sekarang duduk dipangkuan Arzan. dan pria itu pun melepas bibir Nadira saat gadis itu mengatur nafas, ia tersenyum saat Nadira menghela nafas berulang kali sampai gadis itu sendiri melakukannya lagi tanpa diminya Arzan. pikiran Nadira sekarang berbeda, ia ingin cepat menikah dengan pria itu.


__ADS_2