Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Pergi bersamaku.


__ADS_3

rumah itu menjadi tegang dengan Anin atau Nadira yang tidak sadarkan diri, mungkin Nadira merasa terkejut karena kebenaran yang dikatakan Adrian dihadapan semua orang. Adnan terdiam dissamping Nadira yang tergeletak dikasur, ia masih tidak menyangka gadis dihadapannya ini adalah adiknya. bukan hanya sayang, Adnan bahkan mencintai gadis itu. mencintai seseorang adalah yang pertama bagi Adnan, tapi mengapa cinta pertamanya adalah adiknya sendiri jika memang itu benar.


"apa bukti jika Anin adalah Nadira? " ucap Risa yang masih tidak percaya, Adrian menoleh kearah Risa menatap wanita yang tidak lagi muda itu.


"ia mengalami amnesia sejak ditemukan dipinggir sungai, ia tidak mengetahui siapa dirinya dan seperti apa keluarganya! " ucap Adrian sedikit menekan, Risa mengelakkan tangannya dan tidak berani bertanya lagi. Adnan menghapus air matanya, ia melihat kearah Adrian yang setinggi nya sama.


"lakukan tes DNA, jika memang darahnya sama dengan kalian maka Anin adalah Nana! " ucap Adnan menatap Adrian, mata keduanya saling menatap dengan tajam. kebetulan Daniel berada disana, tanpa bicara lagi Daniel mengambil darah dari keempat orang itu. setelah kepergian Daniel semua orang juga pergi, hanya tinggal Nadira yang tertidur dan Adnan yang duduk disamping gadis itu.


"dia adikmu... adikmu Nanan... " ucap Naira lirih, Adnan menoleh dan langsung memeluk ibunya. tangis Adnan pecah disana, meskipun tidak bersuara tapi tubuh Adnan gemetar dirasakan eh Naira.


"aku mencintainya, tidak mungkin dia adalah adikku! " ucap Adnan lirih, Naira menangis mendengar itu dan memeluk putranya dengan erat. secara bersamaan Nadira membuka matanya, kepalanya berdenyut kerasa membuatnya merintih. Adnan dengan cepat beralih ke arah Nadira, diusapnya kepala Nadira dengan sayang. "apa kau membutuhkan sesuatu? " ucap Adnan pada Nadira tersenyum, gadis itu menggelengkan kepala dan menatap Naira yang berada dibelakang Adnan. gadis itu ingat sebelumnya kalau Adrian mengatakan dirinya adalah Nadira, yang artinya putri keluarga itu. belum terbiasa untuk Nadira, ia kembali diam tanpa mengatakan apapun.


"aku ingin sendiri, apakah bisa? " ucap Nadira yang akhirnya bersuara, Adnan mengangguk dengan tersenyum. pria itu mengusap kepala Nadira dengan lembut, kemudian membawa kursi roda Naira pergi dari sana. setelah menghilang dari balik pintu, air mata Nadira menetes tanpa ijin. ia memeluk lututnya sendiri dan menangis, ia tidak percaya dengan semua itu. ia menerima dirinya dibawa dari rumah panti, tapi kenapa harus menjadi keluarga rumah itu. adik dari pria yang dicintainya, bagaimana ia harus bertindak. Nadira bingung dan hanya bisa menangis, ia ingin mengingat semuanya tapi otaknya tidak mendukung dirinya.


terjadi keributan di malam hari yang sama, Adnan menolak keras Nadira sebagai adiknya. perdebatan terjadi antara ayah dan anak, Adrian berulang kali memukul Adnan yang tidak terima dengan perkataan ayahnya. Adrian terus menyadarkan Adnan, bahwa Anindhira adalah adiknya yang kehilangan ingatan. Adnan diseret oleh Kara untuk menjauh dari Adrian, sedangkan pria itu dirangkul oleh Vano agar tidak terus memukul putranya sendiri. untuk pertama kalinya, dua orang keras kepala itu bertengkar hingga Adrian terpaksa memukul putranya sendiri.


"sampai kapan pun dia tetap adikmu, kalian saudara kembar tidak bisa menikah! " teriak Adrian pada Adnan, tentu saja Adnan menahan amarahnya sampai urat ditangannya terlihat jelas. "jika kau menikahi adikmu sendiri, itu adalah hal yang tidak pantas! " teriak Adrian lagi, Adnan diperintahkan Kara untuk diam dan tidak menjawab. begitu pun dengan Adrian, Vano berulang kali meminta putranya itu untuk diam.


secara bersamaan Daniel datang bersama Nadia dibelakangnya, Daniel memegang sebuah amplop berwarna coklat. amplop itu ia berikan pada Adrian, dan Adnan juga mendapatkan amplop itu oleh Nadia. keduanya membaca laporan itu secara bersamaan, Kara mendapat isyarat dari Nadia dengan anggukan kepala. Kara menghela nafas, begitu pun dengan yang lainnya. Adrian puas membaca laporan itu, karena memang benar adanya Anin adalah putrinya Nadira. tapi tidak bagi Adnan, pria itu meremas kertas itu hingga tidak berbentuk. Adnan mengusap wajahnya dengan kasar, ia merosot dilantai dan menyobek kertas itu hingga hancur.

__ADS_1


"kenapa, kenapa baru sekarang diketahui! " ucap Adnan kesal, Nadia yang melihat itu memeluk cucunya. Adnan tidak menangis kali ini, ia melepas pelukan Nadia dan berjalan kearah kamarnya. dalam perjalanan menuju kamarnya, Nadira berdiri di tangga. gadis itu mendengar dan melihat semua drama yang terjadi, Adnan menatap lemah gadis itu kemudian berjalan masuk kedalam kamarnya. terdengar suara benda jatuh di kamar Adnan, mungkin pria itu sedang mengamuk di kamar nya. semua orang melihat Nadira yang berdiri, Adrian mengulurkan tangannya dan diterima oleh Nadira.


"apa kau mendengar semuanya, baca ini! " ucap Adrian kemudian memberikan sebuah kertas, Nadira membaca itu kemudian meneteskan air mata. ia melihat kearah Adrian dan juga Naira secara bersamaan, keduanya saling mengangguk dan tersenyum. "kami adalah keluargamu, kamu adalah anak kami yang hilang beberapa tahun yang lalu! " ucap Adrian dengan senyuman, Nadira menangis mendengar itu. bagaimana bisa dirinya tidak mengenali mereka semua, tidak ada ingatan sama sekali tentang mereka semua. Nadira menundukkan kepala karena tidak kuat menahan tangis, tangannya gemetar dan menghela nafas berulang kali.


"maaf... aku tidak mengenalimu sama sekali... aku juga tidak mengenali kalian... beri aku waktu untuk mengenal kalian... " ucap Nadira menangis, Naira memegang tangan Nadira dengan lembut. wanita cantik itu mencium tangan lembut itu, kemudian tersenyum disela tangisnya.


"kami akan membantumu sayang, nama mu adalah Nadira bukan Anin! " ucap Naira, Nadira tersenyum kemudian mengangguk. Nadira memeluk tubuh Nadira, ia merasakan pelukan itu sangat hangat dan nyaman. ia tidak pernah merasakan hal itu jika memeluk Sarah, ia semakin terluka karena memang ada ikatan batin dengan Naira. yang ia pikirkan sekarang bagaimana keadaan Adnan, ia tahu pria itu tidak menerima kenyataan yang terjadi.


...****************...


keadaan mulai tenang saat malam telah larut, mereka beristirahat di kamar masing masing. Nadira keluar dari kamarnya, ia membawa sebuah kota p3k. ia ingat luka Adnan akibat pukulan Adrian, pasti sekarang wajah Adnan itu sedang membiru karena lebam. saat ingin mengetuk pintu kamar Adnan, pintu itu terbuka dan menampilkan Adnan. tentu membuat keduanya terkejut, dan benar wajah Adnan sudah membiru karena lebam.


"pergilah tidur, ini sudah malam! " ucap Adnan menarik tangan Nadira. dengan kasar Nadira melepaskan tangan Adnan, ia menatap pria itu dengan mata berkaca kaca.


"kenapa kamu mengusirku, apa yang terjadi padamu! " ucap Nadira memegang tangan Adnan, pria itu hanya diam tidak menjawab. "kau marah padaku, bukankah kamu senang adikmu masih hidup! "


"diam Anin! " suara keras Adnan membuat Nadira terdiam, Adnan sendiri bingung harus memanggil gadis itu sebagai Anin atau sebagai Nadira adiknya. kesal yang kembali Adnan rasakan, ia menarik rak buku yang ada di sampingnya. seketika rak dan buku itu terjatuh dan berantakan, Nadira terkejut dan mundur beberapa langkah. kakinya menginjak pecahan guci yang dipecahkan Adrian, Nadira meringis dan duduk dikasur Adnan. pria itu menghentikan tindakan bodohnya, ia tidak ingin membuat semua orang terbangun dengan ulahnya. "aku bilang pergi dari sini, ini sudah malam tidurlah!" ucap Adnan lagi, ia menoleh kearah Nadira yang meringis memegang kakinya. Adnan langsung berjalan cepat ketika melihat darah dilantai, Nadira sendiri sudah menangis karena sakit di kakinya yang terluka.


"sakit... "

__ADS_1


"aku akan mengobatimu, kenapa kau menginjak pecahan guci itu. kemarilah! " ucap Adnan mengangkat kaki Nadira, kakinya sobek besar disana. Adnan menggendong gadis itu pergi ke kamar mandi, ia membersihkan darah yang masih mengalir itu. Nadira menangis merasakan perih, Adnan juga merasa giris pada luka itu. "maafkan aku, maaf! " ucap Adrian menyiram kaki Nadira pelan, setelah selesai pria itu membawa Nadira duduk dikasur lagi.


Adnan berlutut dihadapan Nadira, ia mengobati kaki itu dengan perlahan. sampai kakinya diperban sempurna, Nadira tersenyum pada Adnan yang mendongak. pria itu duduk disamping Nadira, mengusap air mata Nadira yang menangis sebelumnya. mereka berdua saling menatap tanpa diketahui isi hati mereka, keduanya merasa canggung kemudian. Adnan dan Nadira saling membuang pandangan mereka, kemudian menoleh dan Nadira memegang wajah Adnan yang lebam.


"wajahmu sakit? " ucap Nadira lirih, Adnan menggelengkan kepala dengan tersenyum. Adnan memegang tangan Nadira, ia usap dengan lembut.


"kenapa harus kamu, kenapa... " ucap Adnan lirih, matanya mulai panas dan meneteskan air matanya. Nadira juga menangis melihat Adnan yang seperti itu, dipeluk nya tubuh Adnan dengan saling menangis.


"apa kau tidak senang melihat adikmu... aku senang menemukan keluargaku, aku... senang kau adalah kakakku... "


"aku bingung... aku harus memanggilmu apa.. " ucap Adrian memeluk Nadira, ia semakin mengeratkan pelukan itu.


"bukankah nama Nana kau yang memberikan, panggil aku dengan sebutan itu, hm? " ucap Nadira lagi, ia membawa Adnan untuk melihatnya. saling memandang di keduanya, kemudian tertawa bersamaan. keduanya tertawa dengan menempelkan dahi mereka, Adnan mengusap sisa tangis Nadira. "jangan menangis, jangan membanting barang lagi.. "


"wajahku sakit, papa memukulnya dengan keras! " ucap Adnan kemudian, Nadira tertawa kemudian mengusap wajah Adnan yang lebam. kemudian ia mulai mengoleskan salep di luka Adnan, sesekali pria itu meringis perih karena memang sakit ia tidak bohong. luka ditangan Adnan juga harus diperban oleh Nadira, luka goresan yang terbentuk sempurna ditangan Adnan. "Nana... " panggil lirih Adnan, Nadira yang dipanggil itu menoleh dan menaikkan alisnya. Adnan diam menatap Nadira, kemudian ia mengusap tangan Nadira dengan lembut.


"ada apa? "


"mau pergi bersamaku, ayo kita pergi sekarang! "

__ADS_1


__ADS_2