
masih hari yang sama, Nadira mondar mandir didalam sebuah butik. ia merasa bingung dan juga dilema. Arzan bahkan masih menunggunya didalam mobil, suara Arzan masih terdengar di telinganya. rekan Nadira melihat majikannya itu berjalan kesana kemari, membuat siapapun pusing apalagi Nadira sendiri.
"bos ada apa, apa ada yang membuatmu kesal? " ucap seorang wanita bersama Elia, Nadira menggelengkan kepalanya.
"tidak ada Elia, maaf menganggu kalian bekerja! " Elia tersenyum dan mendudukan Nadira, diberikannya minum agar membuat gadis itu tenang.
"tenang boss, sebenarnya ada masalah padamu coba ceritakan padaku! " ucap Elia lagi, Nadira yang merasa harus diceritakan pun menceritakan pada Elia. hal itu membuat Elia tertawa, ia merasa lucu karena Nadira merasa dilema ketika seorang Arzan yang ia anggap kakak menyukainya.
"kenapa kah malah tertawa Elia, aku sedang bingung! " ucap Nadira, Elia tersenyum dan memegang tangan Nadira dengan lembut.
"coba cari tahu hatimu, bertanya pada hatimu apa yang dipikirkan hatimu saat ini. jika kamu memiliki perasaan yang sama, maka akan terjawab dengan sendirinya! " ucap Elia dengan lembut, Nadira menghela nafas berulang kali. "sekarang temui dia, dan katakan kau akan memikirkan hal itu. minta dia untuk sabar menunnggu, karena hati tidak bisa dipaksakan! " ucap Elia lagi, Nadira tersenyum dengan perkataan Elia.
"Terima kasih, aku aka lakukan apa yang kau katakan! " ucap Nadira memeluk Elia, kemudian gadis itu keluar dari sana menuju mobil Arzan yang terparkir menunggunya. Arzan yang melihat itu turun dari mobil, Arzan menghampiri Nadira agar gadis itu tidak menyabrang sendiri ditengah jalan raya.
"apa sudah selesai urusanmu? " tanya Arzan, Nadira mengangguk pelan kemudian masuk kedalam mobil. semenit kemudian Arzan menjalankan mobilnya, membawa mobil itu menuju rumah Nadira sesuai permintaan gadis itu.
sampai didepan rumah Nadira masih terdiam, ia bahkan belum beranjak turun dari mobil itu. Arzan juga terdiam, ia menunggu apapun yang dilakukan Nadira. sampai gadis itu pun menoleh kearah Arzan, begitu juga dengan Arzan yang menoleh kearah Nadira. berulang kali gadis itu menghela nafas, ia tidak kuat melihat wajah tampan Arzan yang menatapnya dengan aneh.
"tidak perlu dipikirkan... "
__ADS_1
"aku akan pikirkan... " saut Nadira memotong pembicaraan Arzan, pria itu menoleh kearah Nadira yang menatap kearahnya. "masalah tadi... akan aku pikirkan, berikan aku waktu untuk menjawabnya... " saut Nadira lagi, Arzan tersenyum dengan itu dan langsung memeluk Nadira tanpa sadar.
"aku tidak akan memaksamu, tapi aku akan tetap menunggumu! " Nadira melepas pelukan Arzan kemudian bersiap turun, Arzan melihat itu hanya tersenyum dan menatap Nadira.
"pulanglah, aku masuk ke rumah! " ucap Nadira kemudian pergi dari sana, Arzan tersenyum merasa Nadira sangat lucu dimatanya.
Nadira berlari kearah kamarnya, ia membanting tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya didalam bantal. ia merasa tidak seperti biasanya, ada hal yang mengganjal dihati nya dan tidak bisa ia ungkapkan sama sekali. Nadira berteriak didalam bantal tanpa suara, janttungnya tidak pernah berhenti berdetak. ia berguling kekanan dan kiri diatas kasur, sampai tubuhnya pun terbalut selimut sangat tebal.
...****************...
hari berganti pun begitu cepat, hati Nadira masih sangat kalut. ia menjadi pendiam selama dua hari, Nadira bahkan akan makan cuman secukupnya. biasanya ia akan memakan apapun yang sudah disiapkan, tidak lupa ia memakan cemilan. Adrian dan Naira berpikir putri mereka sedang mengalami radang, oleh karena itu mereka tidak terlalu banyak bertanya ataupun bicara.
suara tapak kaki mengalihkan pandangan mereka, terlihat Adnan berjalan dari arah pintu utama. bersamaan dengan seseorang, siapa lagi kalau bukan Arzan. dua pria itu berjalan kearah meja makan, Arzan menyalami Adrian dan juga Naira yang tersenyum melihatnya. Nadira mendelik melihat itu, ia merasa aneh melihat Arzan disana.
"gigi Nana sangat sakit, tidak kuat mengunyah lagi! " ucap Nadira memegang pipinya, Adnan yang disana pun menoleh dan mencoba untuk melihat seperti apa gigi gadis itu. saat melihat Arzan akan mendekat, Nadira menggelengkan kepala dan berjalan menjauh dari sana.
"anak itu jarang makan sekarang, giginya benar benar meradang yang berlubang! " ucap Adrian menghela nafas, Arzan menatap gadis itu hingga masuk kedalam kamar mandi dekat dapur.
"tenang saja om, besok Arzan mengambil hasil ujian Arzan. dan besok juga sekalian upacara penobatan lulusan Arzan, setelah itu kembali kesini untuk rumah sakit yang sudah dibangun Adnan waktu itu." ucap Arzan, Adrian dan Naira merasa senang dengan itu.
__ADS_1
"yah cabutlah gigi gadis itu, biar tidak meradang! " ucap Adnan, Arzan mengangguk dengan itu.
"kalau begitu mulai saat ini, kamu adalah dokter pribadi keluarga kami! " ucap Naira, semua orang mengangguk dan tertawa disana. Nadira mendengar Arzan akan pergi lagi, ia merasa tidak rela saat Arzan akan pergi. bahkan dirinya belum mengatakan apapun, Nadira keluar dari toilet dan berlari kearah kamarnya dengan cepat.
malam harinya Nadira berdiri didepan pintu apartemen Arzan, ia ragu mengetuk pintu ataupun langsung masuk begitu saja. Nadira pun memutuskan untuk pergi dari sana, secara bersamaan pintu terbuka menampilkan Arzan yang membawa sebuah kantung kresek. mereka berdua saling terkejut, Nadira tersenyum dan merasa kesal dirinya ketahuan.
"masuklah dulu, aku akan membuang sampah ini!" ucap Arzan, Nadira mengangguk kemudian melangkah masuk kedalam. sampai beberapa menit Arzan telah kembali, pria itu berkeringat karena berlari agar Nadira tidak menunggunya terlalu lama.
"kenapa harus berlari, minumlah!" ucap Nadira yang tahu pria itu berlari, Arzan menerima air putih dalam gelas itu. sekali teguk langsung habis, membuat Nadira tertawa pelan.
"aku takut membuatmu menunggu, kau kan tidak suka menunggu! "
"aku ingin jus, apakah boleh minum? " sela Nadira, Arzan pun mengangguk dengan itu. pria itu berjalan kearah kulkasnya, mengambil nus jambu kesukaan gadis itu dan mengambil jus jeruk untuknya. Nadira melihat Arzan berjalan membawa dua jus, tersenyum kemudian berdiri untuk menerima jus itu. Arzan mengulurkan jus ditangannya, bukannya mengambil jus itu Nadira berjalan dan memeluk tubuh Arzan tiba tiba.
"Nad... " ucap Arzan lirih, Nadira mengeratkan pelukannya.
"kau akan pergi besok, jadi aku ingin memelukmu!" ucap Nadira, Arzan masih dalam keterkejutannya dan terdiam. "berapa hari kau pergi kak, katakan padaku! " ucap Nadira, Arzan meletakkan jus yang ia bawa diatas meja. ia melepas pelukan Nadira, menatap wajah gadis itu yang tersenyum padanya.
"senin aku kembali, tidak akan lama! " ucap Arzan, Nadira mengangguk tersenyum. "apa ini jawaban yang kemarin, atau... " Nadira melepas tangan Arzan, ia mengambil jusnya dan meminum nya tanpa menjawab Arzan. dengan girang pria itu menarik Nadira mendekat, dipeluk nya Nadira dari belakang dengan senyuman. "katakan sesuatu, apa itu tadi. kau tidak membalas pesan ku, tidak menjawab panggilanku, bahkan pagi tadi kau menghindar, dan sekarang tiba tiba datang kemudian memelukku. apa itu maksudnya, katakan padaku! " ucap Arzan ia membuat Nadira menghadapnya, Nadira menatap Arzan dengan tangan menggenggam jus.
__ADS_1
"aku belum bisa menjawabnya, karena aku masih memikirkannya. untuk memeluk ini, aku sangat ingin bertemu denganmu dan memelukmu karena kau akan pergi! " ucap Nadira menyedot jusnya lagi, Arzan paham akan itu ia tersenyum kemudian mengambil jus yang dipegang Nadira.
"aku tidak peduli apapun, yang penting aku tetap menyukaimu. apapun yang terjadi, kapanpun kamu akan menjawab aku akan menunggu! " ucap Arzan mengusap kedua tengkuk Nadira, senyuman terukir dipipi Nadira dan sedikit mengangguk. "aku menyukaimu gadis bunga, sangat menyukaimu... " ucap Arzan, tanpa bicara lagi ia mencium Nadira dengan lembut. tapi Arzan melepas apa yang ia lakukan, tiba tiba saja Nadira menarik pakaian Arzan dan mencium pria itu. Arzan tersenyum saat Nadira membalas ciumannya, ia pun meneruskan hal itu sampai dirinya benar benar ingin melepaskan bibir Nadira yang manis untuknya. Nadira sendiri berpikir untuk apa membohongi diri sendiri, ia menyukai saat Arzan tiba tiba menciumnya waktu itu.hatinya sudah berkata akan menerima Arzan, menerima seseorang setelah Adnan yang dulu menjadi cinta pertamanya.