Love Story Of Twins

Love Story Of Twins
Tumbang.


__ADS_3

Anin termenung didalam kamarnya, ia masih merasakan tubuh Adnan yang memeluknya. hal itu membuat dirinya tidak bisa melupakan kejadian itu, sentuhan Adnan seaakan menyihir dirinya untuk terus mengingat Adnan. ia merasa pernah merasakan pelukan itu, tapi lagi lagi ia berpikir kenapa dirinya terus merasa aneh. pikiran yang tidak ia mengerti terus muncul dalam otaknya, bahkan Anin masih heran dengan dirinya yang merasa sedih melihat Adnan yang lemah seperti itu.


Anin memeluk dirinya sendiri, tubuh Adnan terus ia rasakan dan tidak ada keinginan bayangan itu hilang. kenapa ia merasa aneh, kenapa hatinya sangat sedih melihat pria itu tidak berdaya, ia tidak mengenalnya. Anin terus berdoa untuk kesembuhan Adnan, tidak ada keinginan berhenti berdoa jika Adnan belum sembuh dalam penglihatannya.


Adnan yang merasakan cahaya matahari menembus dimatanya, ia pun membuka mata dan langsung menutup wajahnya dengan tangan yang masih bisa difungsikan. tangan Adnan mengalami cidera sebelah kanan, hanya tangan kiri Adnan yang bisa ia gunakan. kepalanya tersakiti pusing dan juga sangat berat, ia mendudukan dirinya dan bersandar diujung kasur. ia melihat sekelilingnya, yang ternyata itu adalah kamarnya. Adnan ingat ia berada dirumah sakit, dan kini ia sedang berada kamarnya. itu artinya ada yang membawanya pergi, dan Adnan tentu saja mengarah pada Arzan. karena hanya pria itu yang mengetahui Arzan memiliki trauma, apalagi trauma pada sebuah rumah sakit.


rumah sakit yang membuat ibunya harus sakit, rumah sakit yang terus membuat ibunya merasa sedih, mereka tidak menemukan Nadira hingga bertahun tahun lamanya, hal itu membuatnya trauma berat. Adnan menghela nafasnya dengan berat, ia menatap langi langit kamarnya. ia sempat merasakan pelukan sang ibu, begitu nyaman dan membuatnya tenang. ingatan dirumah sakit muncul dalam kepalanya, ia teringat kecelakaan yang terjadi padanya ada seseorang yang menyelamatkan nya. seorang gadis yang ia temui sebelumnya, siapa lagi kalau bukan Anin gadis bunga itu. ternyata pelukan yang membuat nyaman hatinya adalah pelukan Anin, Adnan merasakan sentuhan Anin yang sebelumnya menyentuh dirinya. Adnan tidak pernah seperti itu pada perempuan mana pun, dirinya hanya bisa dekat dengan sang ibu saja. ketika kecil pun hanya perempuan dikeluarga nya saja yang bisa dekat, apalagi dengan sang adik yang sangat dekat dan memiliki ikatan batin.


pintu kamarnya terbuka dengan perlahan, Adnan langsung menoleh dan menatap pintu itu. Arzan masuk dengan santai menghampiri Adnan, pria itu menggunakan kaos dan celana santai khas rumahan. pria itu tersenyum melihat Adnan yang sudah bangun, ia langsung duduk disofa dengan ciri khas dari Arzan.


"bagaimana keadaanmu? " tanya Arzan dengan tenang, Adnan menghela nafas dan melemaskan tubuhnya.


"aku baik baik saja, aku ingat berada dirumah sakit? "


"tentu saja kau dibawa pergi secepatnya, kau menggila seperti orang gila. jika kau tetap disana, mungkin kau akan menjadi tidak waras! " celoteh Arzan yang sebenarnya kesal, pria itu harus membawa Adnan pulang meskipun dokter melarangnya keras. demi sahabatnya agar tidak terus menggila, ia pun memaksa tubuh Adnan yang lemah dipindahkan untuk dirawat dikamarnya. Adnan sudah menduga itu, ia memilih tetap diam dan melamun dengan tatapan kosongnya seperti orang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa. "aku heran pada mu dan sedikit juga terkejut, kau bisa tenang dengan gadis bunga itu! " celoteh Arzan yang ditatap oleh Adnan, bahkan dirinya juga heran bagaimana bisa seperti itu.


"berterima kasih lebih penting sekarang, jika tidak ada gadis bunga itu mungkin kau tidak akan disini! " ucap Arzan lagi, dengan lemah Adnan mengangguk untuk mengiyakan. Arzan berdiri dari duduknya, ia menatap wajah Adnan yang terlihat agak pucat tidak seperti sebelumnya. "istirahatlah, sarapan mu akan datang sebentar lagi! " ucap Arzan kemudian pergi dari sana, Adnan pun menghela nafas dan mencoba menutup matanya.


sedetik kemudian ia membuka matanya, ia teringat malam itu sedang bicara dengan Adrian. bahkan suara Adrian terus memanggil namanya, Adnan pun mendudukan dirinya dan mencari ponsel miliknya. ponsel itu berada diatas meja beserta dompet miliknya, Adnan cepat mengetik nama Adrian dan langsung menghubungi sang ayah. ia tahu kalau sang ayah pasti mengkhawatirkannya, dan itu tidak pernah Adnan inginkan. nada sambung berbunyi beberapa kali, sampai suara seseorang menyahut nada sambung itu.


"halo Adnan apa itu kau? "


"(menghela nafas) iya pa ini Adnan! " dengan nafas lega Adnan mendengar suara sang ayah, Adrian juga dengan lega mendengar suara sang putra yang terus ia khawatirkan kemarin.

__ADS_1


"apa yang terjadi padamu, papa berusaha menghubungimu tapi tidak ada sahutan begitu lama darimu! " Adnan tersenyum dengan itu, suara ayahnya terdengar marah dan juga khawatir disana.


"Adnan baik baik saja, kemarin hanya jatuh dan ponselku hilang! " Adnan berbohong karena tidak ingin membuat ayahnya khawatir, ia meminta maaf pada dirinya sendiri.


"dengar Adnan, kau jauh dari kami demi tujuanmu. disini hanya berharap kau baik baik saja, jangan membuat dirimu terluka, jangan tumbang sebelum berperang. cukup luka disini saja yang belum sembuh, kamu harus janji sama papa kalau kamu tidak akan membuat dirimu terluka sedikit pun! "


"Adnan janji pa, aku akan baik baik saja disini! " saut Adnan dengan yakin, setelahnya pembicaraan itu diakhiri Adrian. "Nadira kamu dimana, aku akan menjemputmu! " ucap Adnan mengusap wajahnya kasar, Arzan yang belum pergi dari sana mendengar suara Adnan. pria itu sangat lemah, membuat Arzan kesal dengan kelemahan temannya itu. ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menemukan adik Adnan, apapun yang terjadi Arzan juga tidak akan menyerah untuk mencari.


...****************...


beberapa hari telah berlalu, kehidupan Anin berjalan seperti biasanya. selama itu Anin tidak bertemu dengan Arzan sama sekali, biasanya pria itu akan datang ke toko bungannya dengan alasan dan kejailan yang dimiliki pria itu. Anin menyiram bunga dengan melamun, tatapan kosong yang memikirkan hal tidak penting. bagaimana keadaan Adnan sekarang, bagaimana kondisi tubuh, apakah pria itu sudah sehat, apa ia benar benar telah sembuh. pertanyaan terus berputar di otaknya, Anin merasa pening dikepalanya. rasa berdenyut itu membuatnya meringis sakit, sampai lonceng pintu toko itu berbunyi menandakan tamu datang.


Anin menoleh disana, ia mendelik melihat siapa yang datang disana. seorang pria yang sudah berumur berdiri dengan rokok ditangannya, pria itu tersenyum melihat Anin disana. pria itu menghampiri Anin, dengan cepat sang ibu menghadang dihadapan gadis itu dan menyembunyikan putrinya dibelakang punggung.


"hehe, aku kesini untuk menagih hutangmu. janjimu satu bulan, aku datang satu bulan lebih dua minggu. cepat bayar hutangmu, aku akan menunggu disini!" ucap pria itu, ibu Anin terkejut pasalnya ia berhutang tapi belum dapat membayar hutang tersebut, ibu Anin tersenyum meskipun sebenarnya ia takut untuk bicara.


"ibu... ibu baik baik saja kan, kenapa ibu berhutang padanya?" ucap Anin yang tidak dijawab ibunya, sang ibu hampir menangis dengan mengatupkan kedua tangannya.


"pergilah dari sini, toko mu ini aku sita sampai kau bisa membayar hutangmu! "


"jangan tuan, kalau toko ini anda sita bagaimana kami menjual bunga dan membayar hutang. hanya toko ini yang menjadi sumber penghasilan kami! " ucap ibu Anin, gadis itu tidak membiarkan sang ibu memohon hingga berlutut. tapi sepertinya pria itu tidak melihat kesedihan keduanya, pria itu memberi perintah orang bawahannya untuk tetap mengusir Anin dan juga ibunya. keduanya dipaksa untuk keluar dari sana, dan didorong hingga ke jalanan.


"jangan, jangan ambil toko ini. aku akan membayar nya, beri aku waktu! " ucap Anin memohon pada pria itu, tapi tidak ada rasa ibah disana. Anin yang berusaha mengejar pria itu, didorong oleh seseorang untuk tidak mendekat kearah tuannya.

__ADS_1


tubuh Anin terhuyung kebelakang saat didorong kuat, tenaga Anin sangat kecil jika dibandingkan oleh tenaga orang itu. keberuntungan untuk Anin, ia tidak sampai terjatuh ke tanah karena didorong. sebuah tangan menahan tubuh Anin yang hampir menyentuh tanah, Anin mendongakkan kepala untuk melihat tangan siapa itu. Anin terkejut melihat siapa yang menahannnya itu, pria yang ia pikirkan sebelumnya, Adnan.


dengan hati hati Adnan mendirikan tubuh Anin, disana luka memar dilulut Anin yang terhilat merah dan goresan darah. Anin melihat sang ibu yang dibantu berdiri oleh Arzan, dipeluknya sang ibu dan menangis bersama disana. Anin terisak melihat toko itu tertutup, didalamnya masih terdapat pria itu. beberapa orang memperhatikan Anin dan sang ibu, entah kenapa Adnan yang melihat Anin seperti itu merasa sangat kesal. Adnan menoleh kedalam toko itu, tanpa bicara Adnan menendang pintu itu hingga terbuka. orang yang didalamnya terkejut, kemudian menghadang Adnan yang masuk tanpa meminta ijin.


"siapa kau? " ucap pria sebelumnya, Adnan menatap datar beberapa orang disana. Adnan melihat beberapa orang yang menyebalkan itu, mereka bahkan tanpa bersalah berdiri menantang. Anin berdiri dibelakang Adnan, bisa dirasakan oleh pria itu dan hanya melirik sekilas. Anin berharap mereka mengembalikan toko milik ibunya, dan memberikan kesempatan untuk memberi waktu dirinya mengumpulkan uang.


"apa yang terjadi? " ucap Adnan tegas meskipun terdengar lemah, Anin terkejut dan masih terisak mengusap air matanya. Adnan menunggu jawaban dari Anin, pria itu tahu kalau gadis itu sedang mengontrol emosinya.


"mereka mengambil toko ibu, karena ibu memiliki hutang pada mereka. aku bilang pada mereka untuk menunggu, tapi mereka mengambil toko dan mengusir kami! " jelas Anin dengan sisa tangisnya, Adnan langsung menoleh kearah beberapa orang dihadapannya.


"heh... ibumu sudah berjanji satu bulan, dan waktunya sudah lewat. makanya kamu jadi anak jangan menyusahkan, kerjaanmu cuman sakit sakitan membuat ibumu susah saja! " ucap pria tidak punya perasaan itu, Anin terkejut ia kembali meteskan air matanya dan menangis tanpa suara.


"ibumu itu miskin, kamu itu tidak sadar diri. obatmu sendiri sangat mahal, tapi kau masih saja sakit tidak sembuh sembuh. kalau aku jadi kamu, aku lebih memilih untuk mati! " dengan ketus orang itu mengatakan hal yang membuat Anin sakit hati, pasalnya Anin tidak tahu ibunya sampai berhutang untuk biaya perobatannya. bagaikan disambar badai Anin terkejut, ia akhirnya menangis lagi dengan menundukkan kepalanya. Adnan yang mendengar tangisan Anin lirih, mengepalkan tangannya dan berjalan ke arah pria yang bicara sembarangan kemudian memukul pria itu hingga tersungkur. bukan hanya Anin yang terkejut, dua orang lainnya juga terkejut yang ada didalam sana.


"jaga ucapanmu, atau aku akan membuat mulutmu tidak bisa bicara untuk selamanya! " ucap Adnan yang terlihat marah, Anin menutup mulutnya karena terkejut. teman pria itu tidak Terima karena teman mereka telah dipukul, tubuh Adnan di pukul secara bersamaan oleh dua orang itu. hal itu membuat Adnan meringis kesakitan, tapi tidak diam saja dan balik menghajar. Anin semakin cemas pada Adnan, sampai Arzan datang menghentikan tubuh Adnan untuk berhenti berkelahi. Adnan yang sudah terlanjur kesal, tidak memperdulikan siapapun ia melampiasakan kekesalannya itu. Anin memegang tangan Adnan untuk menghentikan pria itu, dengan hitungan detik Adnan merasakan sentuhan itu dan menoleh kearah Anin.


"jangan ribut lagi, kumohon! " ucap Anin dengan tangisnya, wajahnya sangat melas memohon pada Adnan. Dengan cepat Adnan melepas tangan Arzan, menatap tiga pria yang menatapnya.


"katakan padaku berapa hutangnya! " ucap Adnan dengan nada ketus, tidak lupa ia merapikan jasnya


"heh... emangnya kamu mampu membayar hutangnya, nanti kamu jantungan dengarnya! " Arzan yang mendengar itu tersenyum, mendekat kearah pria yang bicara dan menyentuh pundak pria itu dengan mencengkram. pria itu kesakitan, beberapa kali pria itu memukul tangan Arzan tapi tidak dihiraukan oleh Arzan.


"tinggal jawab saja berapa utang mereka, kenapa kau menyia-nyiakan mulutmu itu dengan bicara tidak penting! " ucap Arzan kemudian melepas pundak itu, pria itu meringis kesakitan kemudian menatap Arzan yang tersenyum dengan kesal.

__ADS_1


"150jt, aku ingin uangnya hari ini juga! " tanpa bicara Adnan menulis nominal di sebuah cek kosong, dan melempar kearah pria itu. sedikit terkejut kemudian tersenyum melihat cek itu, pria itu menepuk pundak Adnan dan melihat kearah Anin yang masih menunduk dibelakang Adnan. "sepertinya dia sangat kaya, lain kali sakitlah lagi dan hutang padaku. ngomong ngomong siapa dia gadis cantik, apa dia kekasihmu. kalian sangat cocok, dan sangat mirip! " ucap pria itu terkekeh, Adnan yang kembali geram sudah ingin memukul pria itu. tapi dengan cepat pria itu keluar dari sana diikuti dua temannya, Anin dan ibunya akhirnya bernafas lega.


"Terima kasih tuan, aku sangat berterima kasih padamu! " ucap Anin menunduk di hadapan Adnan, ia tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Adnan yang membayar hutang ibunya. Adnan menatap gadis di depan nya itu, Adnan memegang pundak Anin untuk membuat gadis itu tidak menunduk. tiba tiba kepala Anin berdenyut dengan keras, cahaya hitam seperti menusuk matanya. tubuhnya langsung melemah dan ambruk tidak sadarkan diri, sang ibu mendekap putrinya dengan terkejut. belum selesai dengan kejutan itu, kedua orang disana dikejutkan dengan Adnan yang ambruk setelah merasakan sakit pada tubuh dan juga kepalanya. dua orang itu tumbang secara bersamaan, tidak ada yang tahu apa sebab mereka tumbang.


__ADS_2