
rumah yang sangat besar itu sangat membosankan bagi Anin, tidak ada siapapun hanya ada para pelayanan yang sibuk melakukan tugas mereka. biasanya Anin akan bicara sendiri dengan Naira, meskipun wanita itu tidak membalasnya bicara tapi Anin senang meskipun harus bicara sendiri. kali ini Naira dibawa pergi oleh Adrian, entah ia tidak tahu kemana Adrian membawa istiranya itu pergi. gara gara itu Anin jadi merasa sendirian, dan ia bosan sendirian.
Anin mencari keberadaan Adnan, ia berkeliling dirumah besar itu. kakinya mulai lemah karena terus mencari keberadaan pria itu, sampai Anin melihat sebuah ruangan yang terbuka. disana menampilkan Adnan yang sedang bicara dengan seseorang, Anin tersenyum ketika Adnan melihatnya tanpa sengaja. pria yang bicara dengan Adnan pun pergi, tidak lupa memberi sapaan pada Anin. Adnan meminta gadis itu untuk masuk kedalam ruangannya, dengan pelan tapi pasti Anin masuk tanpa sungkan.
Anin melihat sekelilingnya, ternyata itu adalah ruangan pribadi Adnan. banyak rak buku yang tersusun rapi disana, bahkan meja kursi dengan bahan mahal dan unik. Adnan tersenyum melihat Anin, ia membiarkan gadis itu untuk melakukan hal sesuka hatinya. Adnan yang tidak bisa meninggalkan dua perempuan itu, memilih untuk bekerja dirumah sampai ayahnya kembali. begitu fokus Adnan pada pekerjaannya, sampai ia tidak melihat kearah Anin yang sudah berada di dekatnya.
"banyak ya yang harus dikerjakan? " suara Anin mengejutkan Adnan, pria itu menoleh dan mengangguk sekilas. kemudian pria itu kembali pada pekerjaannya, Anin mendekat dan berdiri disamping Adnan. dimeja itu terdapat foto Adnan kecil bersama gadis kecil, Anin melihat gadis itu seakan mengingat dimana ia pertama kali bertemu. tiba tiba kepalanya berdenyut seketika, tubuh Anin oleng dengan mengerutkan dahi berulang kali.
"hari ini kamu ikut aku ya, papa memintaku untuk membawamu kerumah besar kakek. biar kita gak sendirian di sini, disana lebih banyak orang! " ucap Adnan tanpa melihat Anin, dengan lemah Anin hanya mengangguk tanpa menjawab. Adnan yang tidak mendengar suara Anin pun menoleh, ia melihat gadis itu berkeringat disana. "ada apa denganmu, apa kau tidak sehat? " ucap Adnan khawatir, Anin menggelengkan kepala dan tersenyum.
"mungkin aku sedang lelah saja, rumah ini membuatku bingung dan harus berkeliling mencarimu! "
"yaudah kamu sekarang siap siap, setelah ini kita berangkat! " ucap Adnan lagi, Anin pun mengangguk kemudian pergi dari sana. entah Anin merasakan perasaan yang tidak enak, ia ingin sekali mengatakan hal itu pada Adnan, tapi ia bingung harus memulainya dari apa. Anin pergi dari sana, dan bersiapp untuk pergi sesuai perintah Adnan.
__ADS_1
...****************...
dilain tempat Adrian sampai dikota uang ditinggali Anin sebelum kerumah besar itu, Adrian bertemu dengan Arzan yang mengurus perusahaan milik Adnan. Arzan menceritakan semua kejadian yang terjadi disana, bahkan Arzan menceritakan Anin yang diminta Adrian untuk memberitahunya siapa gadis itu. Arzan sangat heran pada ayah temannya itu, pria itu membawa Adrian untuk ke makam Nadira sesuai keinginan Adrian.
Adrian berdiri disamping makam yang dibilang putrinya, pria itu mengusap batu nisan itu dan tidak percaya dengan semua ia lihat. batu nisan itu tertulis nama Nana dan tanggal dimana Nadira meninggal. tanggal itu tepat seminggu setelah hilangnya gadis itu, Adnan meremas bunga yang ia pegang.
"kamu bukan makam putriku, aku yakin putriku masih hidup! " ucap Adrian dengan lirih, ia masih berharap kalau itu tidak benar. ia masih yakin kalau putrinya masih hidup, masih harus ia cari. bayangan Anin muncul dimatanya, wajah cantik gadis itu sama persis dengan Naira dimasa muda. meskipun siapapun tidak mengenali Naira dulu, tapi bisa ia rasakan Anin seperti copyan dari Naira.
"waktu itu kami berada di sebuah panti asuhan kenalan gadis bunga itu, kemudian nenek panti disana menceritakan kejadiannya om! " ucap Arzan mendekat, Adrian terkejut dengan itu dan kemudian menoleh.
Adrian disambut dengan ceria oleh ibu panti, mereka pikir Adrian mencari seorang anak untuk diadopsi. Adnan duduk di sebuah sofa empuk disana, matanya tidak berhenti mengawasi foto di dinding yang dipasang. ia mencari foto seseorang yang dikenalnya, tapi tidak ada foto yang ia maksud. ia hanya menemukan foto Anin yang berfoto dengan seorang wanita tua, diyakini Adrian wanita itu adalah nenek panti disana.
"aku kemari bukan untuk mengadopsi seorang anak. tapi mencari seseorang yang mungkin kalian kenal! " ucap Adrian pada ibu panti dan juga nenek panti yang duduk disana, kedua wanita itu saling pandang dan kemudian tersenyum kearah Adrian. Arzan masuk setelah beberapa menit, nenek dan ibu panti terkejut melihat Arzan. pria itu menyapa mereka berdua, kemudian duduk disamping Adrian dengan tegap.
__ADS_1
"nenek ini adalah pak Adrian, beliau adalah orang tua dari Adnan pria yang sempat beberapa minggu lalu kemari bersama seorang gadis, kemudian mencari adiknya yang ternyata sudah meninggal. pak Adrian kemari ingin memastikan kalau memang benar itu adalah putrinya, karena itu ia ingin bertemu denganmu secara pribadi! " ucap Arzan sopan, nenek panti itu tampak terkejut dan menatap Adrian yang tanpa ekspresi menatapnya.
"iya.. memang itu makam adik pria itu, aku menemukannya di pinggir sungai dalam keadaan meninggal. akhirnya kami menguburkan mayat gadis kecil yang tidak tahu dari mana asalnya dengan layak, sampai saat nak Adnan kesini tidak ada yang pernah mencari gadis itu! " ucap nenek itu sedih, Adrian merasa ada yang aneh pada nenek panti itu. nenek berjalan kearah kamarnya, setelah beberapa menit nenek itu keluar dengan membawa sebuah kain. diserahkan pada Adrian, dan pria itu merasa mengenal pakaian itu. "ini adalah pakaian gadis itu, jika kamu memang orang tuanya pasti kamu ingat yang ia pakai sebelumnya! " Adrian mengambil pakaian itu, ada bekas sobekan disana. Adrian menggenggam erat kain itu, ia percaya kalau itu adalah pakaian terakhir yang dipakai putrinya.
Arzan yang melihat itu menguatkan Adrian, hampir saja Adrian marah disana tapi marah pun untuk apa. ia berakhir berterima kasih pada mereka, untuk menutupi kesedihannya Adrian pergi dari sana setelah berpamitan. Arzan menggelengkan kepalanya, ia menoleh kearah nenek panti dan menyalami nenek itu.
"bagaimana kabar Anin? " ucap nenek panti itu, Arzan tersenyum pada mereka berdua.
"gadis bunga itu baik baik saja, ia bersama temanku yang kemarin kesini. seperti nya cepat atau lambat kalian akan mendapatkan undangan pernikahan dari mereka! " ucap Arzan tersenyum, nenek panti itu terkejut dan mendelik. belum sempat nenek itu bicara, Arzan pergi dengan cepat menyusul Adrian. nenek panti mendengar kabar meninggalnya Ibu Anin, tapi gadis itu malah pergi dengan pria yang baru dikenalnya.
"ibu, itu tidak boleh terjadi. bagaimana kalau ibu mengatakan yang sebenarnya pada mereka, sekarang Anin juga membutuhkan mereka! " ucap Ibu panti disana, nenek itu melihat foto Anin dan juga ibu Anin yang tersenyum.
"aku mempertahankannya untukmu, tapi kamu malah pergi begitu saja! " ucap nenek itu kemudian mengusap air matanya, ia pergi kedalam kamarnya dan menutup pintu dengan menguncinya.
__ADS_1
Adrian sendiri ragu mempercayai perkataan nenek panti itu, ia menatap lurus kearah rumah itu tanpa berkedip. ia mengusap wajahnya sendiri karena kesal, kain yang ia bawa pun digenggam nya dan dipeluk dalam dirinya. untuk pertama kalinya Adrian pergi keluar kota, dan ia tidak akan membawa hasil yang mengecewakan. ia yakin itu bukan makam putrinya, dan Adrian berniat menyelidiki hal itu sampai benar benar ketemu.
Arzan melihat wajah Adrian yang tajam, pria itu sama persis dengan Adnan atau lebih tepatnya Adnan yang sama seperti pria itu. ia tidak tahu apa yang di pikirkan Adrian, awalnya ia menemani Adnan yang menurutnya tidak seberapa menakutkan karena pria itu temannya. tapi sekarang ia bernasib menemani Adrian, yang lebih menakutkan dari Adnan. dan Arzan ingin melihat apa yang akan dilakukan Adrian disana, ia sangat penasaran karena tekat Adrian lebih besar dari pada Adnan.