
Davina dan Maria semakin dekat, mereka bertiga menjadi teman dalam waktu singkat. Maria yang awalnya sungkan, menjadi lebih ceria dan tidak lagi terlihat malu malu. seperti hari ini adalah hari libur bagi mereka, Davina sendiri seorang pengangguran yang baru saja lulus sarjana. mereka bertiga berada diruang tamu bersama, memakai masker wajah dan saling bercerita dihadapan televisi.
Nadira menjadi lebih suka berada dirumah Maria, bukan hanya karena ingin bertemu Arzan, melainkan ia ingin bersama dua orang yang menjadi sahabatnya itu. setiap hari mereka akan bersama, bercerita pengalaman dan kisah masing masing.
"bagaimana kabar adikmu Mar, apa dia sudah lebih baik? " tanya Davina yang sudah mengetahui kisah Maria, gadis itu, tersenyum dan mengangguk.
"sudah, kemarin suster yang menjaganya menelfon ku dan memberikan kabar tentang adikku! " ucap Maria, Davina dan Nadira pun ikut senang mendengar kabar itu.
"coba bawa adikmu kesini, siapa tahu kak Dani bisa merawatnya lebih baik! " ucap Davina lagi, Nadira menyenggol lengan Davina yang tidak tahu apapun.
"kamu pikir adiknya sakit bisa dibawa luar kota, yang ada dia akan kelelahan dijalan dan buruk bagi kesehatannya! " tegas Nadira, Davina tersenyum dengan itu lalu mengangguk. asik mengobrol tiba tiba pintu mereka diketuk oleh seseorang, dengan segera Maira membuka pintu. terlihat Arzan berdiri disana, dengan senyuman Arzan menyapa tiga perempuan itu.
"apa kalian sudah makan malam? " tanya Arzan, ketiganya langsung menggelengkan kepalanya. Arzan tersenyum dan berjalan kearah dapur, dan ternyata Arzan tidak sendiri melainkan Adnan juga disana.
"kenapa tidak makan, kau juga kenapa tidak menyapaku! " ucap Adnan pada Davina, dengan senang Davina memeluk Adnan dan dibalas pelukan.
"dua hari aku disini, tapi baru melihatmu sekarang!" ucap Davina, Adnan mengangguk dengan itu. Arzan pun meminta semua orang yang disana duduk, karena dirinya sudah meletakkan makan malam dengan siap diatas meja. "wah Arzan terlalu perhatian, aku terharu tidak seperti kakakku Dani yang selalu sibuk dirumah sakit!" ucap Davina, Arzan tersenyum dengan itu kemudian menyodorkan air disetiap orang.
"kemana kakakmu, kenapa tidak kemari juga? "
"ahh jangan bahas Dani, aku malas dengannya! " ucap Davina, Adnan mencubit pipi Davina karena gadis itu memanggil kakaknya dengan nama.
__ADS_1
mereka berlima akhirnya makan bersama, sesekali bercanda saat mereka makan. membicarakan masalah mereka, dan membicarakan cerita yang mungkin harus diceritakan. Nadira duduk diantara dua kakaknya, Nadira tersenyum memberikan potongan daging kepada Arzan. sudaah terbiasa menurutnya, tapi ia langsung menoleh kearah Adnan yang benar dugaannya sedang menatapnya. Nadira tersenyum melihat itu, kemudian ia mengambil potongan daging dan disuapkannya pada Adnan.
"jangan melihatku seperti itu, semuanya kesayanganku! " ucap Nadira tersenyum, Maira yang melihat tingkah ketiganya itu tersenyum karena merasa lucu. saat Adnan melihat kearah Maira, gadis itu terkejut dan langsung menundukkan kepalanya. Adnan sendiri menggelengkan kepala, ia kembali melanjutkan makan malamnya.
malam semakin larut, Nadira yang hendak tidur harus membuka pintu karena terdengar suara ketukan. ternyata Arzan yang mengetuk, kemudian menarik tangan Nadira untuk keluar dari sana. Nadira yang bingung hanya mengikuti langkah Arzan, hingga mereka keluar dari gedung apartemen itu.
"mau kemana? " tanya Nadira, Arzan tersenyum dan menggandeng tangan Nadira.
"ingin jalan jalan saja, karena tidak bisa tidur memikirkan mu! " ucap Arzan, Nadira tersenyum kemudian mengalungkan tangannya pada lengan Arzan.
"hm... aku juga memikirkanmu, apa kak Nanan sudah tidur? " Arzan hanya mengangguk, mereka berjalan hingga ke sebuah taman yang tidak jauh dari apartemen mereka. Nadira senang merasakan angin yang berhembus, taman yang terhias begitu indah membuat malam itu cerah dengan kelap kelip lampu.
"kenapa jadi kau yang senang?" ucap Arzan yang melihat Nadira kegirangan, Nadira pun tertawa dengan itu karena ia juga tidak sadar sudah kegirangan.
"ini sudah malam, siapa yang mau ketaman malam malam kecuali kita! " ucap Arzan, Nadira tersenyum dan mengangguk dengan itu. "Nadira... " panggil Arzan dengan lirih, Nadira menoleh dan diam hanya menatap Arzan yang memanggilnya. "gadis bunga! "
"haha... kamu masih memanggilku itu, diselingkuhi pacarmu menyedihkan sekali! " ucap Nadira tertawa, Arzan pun tersenyum dan memegang erat tangan Nadira.
"mari kita menikah saja! " ucap Arzan, Nadira yang mendengar itu terkejut dan menatap Arzan. Nadira kemudian tersenyum canggung, ia melepas genggaman Arzan.
"disini semakin dingin kak, ayo kita kembali saja! " ucap Nadira berdiri, Arzan pun menarik Nadira dan mencium Nadira yang membuat gadis itu terkejut. "kak Arzan apa yang kamu lakukan! " ucap Nadira menutup mulutnya, ia melihat kearah kanan dan kirinya karena takut seseorang melihat mereka.
__ADS_1
"kenapa mendorong ku? " ucap Arzan, Nadira memukul lengan Arzan dengan ringan.
"ini diluar, kalau seseorang melihat bagaimana. disangka kita sedang mesum, kau ini ada ada saja! " ucap Nadira membelakangi Arzan, entah kenapa Nadira merasa ketakutan dan kesal pada Arzan. pria itu pun memeluk Nadira dari belakang, kali ini tidak ada penolakan dari Nadira.
"aku ingin menikah denganmu, hanya denganmu! " ucap Arzan lirih, Nadira tersenyum dan mengusap tangan Arzan. ia bingung harus apa, Nadira hanya diam dan memberikan senyuman terbaiknya agar Arzan tidak berpikir negatif tentang dirinya. Arzan sendiri sudah mengetahui apa jawaban Nadira, gadis ituitu pasti menolaknya dan meminta untuk menunggu waktu yang tepat.
...****************...
waktu berjalan begitu cepat, sampai hari ulang tahun Arzan akan tiba. Nadira sendiri sibuk memilih hadiah, ia ingin memberikan kado terbaik untuk kakak kedua dan juga kekasihnya itu. tidak dengan Arzan yang murung, ia termenung didalam ruangannya. beberapa hari terakhir dirinya tidak fokus saat menangani pasien, ia selalu memberikan seorang pasien kepada rekannya. Arzan memikirkan nasibnya dengan Nadira, medirinya memikirkan menikah dengan gadis itu tapi gadis itu tidak memikirkan apapun tentang hubgan mereka. sibuk bersenang senang, dan seperti tidak terjadi apapun.
Arzan merasa frustasi dengan itu, membahasnya pun Nadira tidak menghiraukannya. ia juga belum mengatakan apapun pada ibunya tentang Nadira, sang ibu yang jauh dari nya hanya tahu, dirinya sedang bekerja di lain kota. sampai ruangan itu menggema suara ketukan pintu, Arzan menegakkan tubuhnya sebelum bersuara. pintu terbuka menampilkan seorang Nadira disana, gadis yang ia pikirkan muncul dihadapannya.
"aku baru saja memikirkanmu, dan kau sudah muncul disini!" ucap Arzan tersenyum, Nadira mengangguk dan duduk di hadapan Arzan.
"aku lapar jadi kesini!! " ucap Nadira dengan lirih, Arzan pun tersenyum dan berdiri dari duduknya. Arzan melepas jas lap nya, kemudian mengadahkan tangan untuk digenggam Nadira.
"ayo kita pergi, waktuku untukmu sekarang! " ucap Arzan tersenyum, Nadira pun mengangguk dan tersenyum. ia menggengam tangan Arzan seperti biasanya, mereka keluar dari gedung rumah sakit untuk menuju pulang.
Arzan dan Nadira pun kembali dimalam hari, mereka berdua puas bermain di sebuah taman. turun dari mobil mereka masih tertawa dengan film yang mereka tonton, Arzan sendiri mengatakan hal yang lucu membuat Nadira tertawa. mereka masuk kedalam lift untuk menuju kamar mereka masing masing, hari ini Nadira tidak pulang dan memilih bersama Maira dan Davina yang menunggunya. setelah lift terbuka Arzan dikejutkan seseorang, seorang wanita paruh baya berdiri depan pintu rumahnya. Nadira juga melihat itu, iaa menoleh kearah Arzan dan menatap pria itu.
"Arzan ibu menunggumu sejak tadi... " ucap wanita itu yang ternyata ibu Arzan, dengan lemah Arzan berjalan kearah ibunya dan Nadira pun menyapanya.
__ADS_1
"selamat malam ibu Zania, apa kabarmu! " sap Nadira, wanita bernama Zania itu tersenyum ringan dan mengangguk. Arzan berjalan membuka pintu rumah Maira, dan meminta Nadira untuk masuk dengan segera. kemudian Arzan melihat kearah ibunya, tanpa bicara ia melihat ibunya yang tersenyum padanya. kemudian membawa sangat ibu masuk kedalam rumahnya, Nadira sendiri membuka pintu dan melihat Arzan sudah masuk kedalam. Nadira heran ada apa dengan keduanya, Arzan menunjukkan wajah tidak suka ibunya datang. keduanya memiliki masalah, dan Nadira penasaran apa permasalahan antara ibu dan anak itu.